Deru mesin pesawat pribadi Kerajaan Berlan memenuhi telinga, sedang disiapkan untuk meninggalkan Bandara Soekarno Hatta sebentar lagi. Theodore, Gerald, Arven, Breno, dan Cael telah duduk di dalam kursi penumpang. Masing-masing tangan diborgol di belakang tubuh.
“Loh?! Loh?! Loh?!” Breno berusaha protes, campur kebingungan.
“Aku salah apa?! Aku salah apa?!” Cael sudah panik sendiri.
“Katanya jalan-jalan, kok diborgol?!” Arven tak melepaskan tatapan dari Carlotta yang masih berdiri di lorong pesawat.
“Gini, aku bisa jelaskan,” kata Carlotta segera. “Aku bener-bener minta maaf karena tadi berbohong. Jadi, Ayahanda sebenarnya bukan menawari kalian untuk jalan-jalan di Kota Berlan, melainkan memerintah kalian datang ke Berlandia Raya untuk melaksanakan sidang bersamaan dengan Tuan Gerald dan Lord Theodore.”
“Sidang? Persidangan hukum, maksudnya?! Lah, kita salah apa?!” Cael mengerang sekali. Namun, meski demikian, dia dan Arven maupun Breno, sama-sama tahu bahwa Carlotta tak mungkin menjerumuskan mereka, terlebih setelah berapa keras dia berjuang untuk menyelamatkan mereka dari kejahatan Gerald sebelumnya.
Dan benar saja, ekspresi Carlotta turun menjadi lebih lembut, campuran merasa bersalah dan berusaha memahami mereka. “Kayak yang aku bilang dulu, identitas Lucien sebagai iblis itu rahasia Kerajaan Berlan. Nah, setelah berbagai peristiwa berurusan sama Tuan Gerald kemarin, otomatis Ayahanda tahu kalau rahasia itu sudah bocor ke kalian. Maka karena itu, Mahkamah Agung Kerajaan Berlan harus bertindak. Tapi, aku janji bakal membela kalian kok! Lagian informasi itu gak bocor ke terlalu banyak orang, dan kalian juga korban dari rangkaian insiden energi di bawah rusun itu. Jadi… pasti ada keringanan. Dan, setelah sidang nanti, kalian beneran bisa jalan-jalan kok.”
Mendengar penjelasan Carlotta, trio cowok itu akhirnya mengangguk. Lagi pula, keadaan mereka sudah terlanjur diborgol begini. Melepaskan diri sendiri saja tidak bisa, apalagi ketika berada di dalam pesawat yang sudah siap lepas landas dalam hitungan menit, dan ada keberadaan makhluk sekuat Lucien—yang tak mungkin membiarkan mereka lepas—di ruang yang sama dengan mereka.
Mau tak mau, mereka memang tak punya pilihan selain menurut.
Sementara itu, Lucien masih berada di luar, di samping tangga yang terhubung dengan pintu masuk pesawat. Di hadapannya ada Lucifer, menyeringai menyebalkan seperti biasa. “See you in hell,107 Brother. Kakak dan Ayah titip salam.”
Lucien mendengus. “Sok baik,” katanya singkat. Kemudian berbalik untuk berjalan menaiki tangga.
Masih di bawah, Lucifer tertawa. Sama sekali tidak tersakiti, toh ucapan Lucien memang benar. Iblis yang benar-benar iblis sepertinya mana mungkin berbuat baik. “Terima kasih atas pujiannya.”
Lucien tak membalas. Dia memasuki pesawat. Pintu ditutup oleh petugas sehingga Lucifer tak lagi terlihat, dan Lucien membutuhkan seluruh keteguhan untuk menahan diri agar tidak berbalik. Lucien sendiri tahu bahwa dirinya sebenarnya pasti akan merindukan keluarganya, tetapi mana mungkin dia mengatakan itu keras-keras, apalagi di hadapan Lucifer.
Setelah Lucien duduk di kursi dan memasang sabuk pengaman, pesawat lepas landas.
Begitu menginjakkan kaki di Kerajaan Berlan, Lucien memimpin langkah untuk mengawal mereka semua menuju gedung Mahkamah Agung, diawasi oleh Carlotta dari belakang. Sejak tadi para kesatria dan beberapa bangsawan berlalu-lalang, jauh lebih ramai daripada biasa. Pasukan Militer Khusus Kota Grande baru saja berhasil didepak mundur oleh Pasukan Kesatria Kerajaan Berlan kurang dari dua puluh empat jam lalu. Saat ini, pihak kerajaan sedang gencar-gencarnya mengirim tambahan tim medis dan konstruksi ke kota-kota yang terdampak serangan untuk sesegera mungkin mengembalikan situasi ke semula.
Gedung Mahkamah Agung disiapkan dalam waktu singkat. Saat rombongan yang dikawal oleh Lucien dan Carlotta datang, orang-orang terkait telah duduk di kursi masing-masing, termasuk Sang Hakim.
“Perhatian!” Hakim mengawali persidangan.
Lucien dan Carlotta duduk di barisan penonton. Menyaksikan dengan seksama begitu persidangan dimulai, argumen demi argumen dilempar, aturan-aturan kerajaan dan budaya Berlan dipertimbangan. Tarik ulur menegangkan hingga akhirnya setelah beberapa jam perdebatan, Hakim mengetuk palu.
Sidang besar darurat hari ini akhirnya selesai juga dengan hasil: (1) Gerald dipenjara seumur hidup atas segala kejahatan mereka dalam upaya membuka segel, (2) Theodore dinyatakan bersalah atas keterlibatan dengan bangsa iblis dan upaya menjatuhkan Hans, tetapi bebas dari hukuman karena kejahatannya dilakukan ketika kesadarannya sedang berada di bawah pengaruh iblis, (3) Arven, Breno, dan Cael mendapatkan peringatan karena mengetahui tentang identitas Lucien sebagai iblis—yang merupakan rahasia Kerajaan Berlan—tetapi tidak dinyatakan bersalah sehingga tidak dihukum sama sekali.
“Bener, kan? Kalian aman?” Carlotta menyusul mereka di halaman depan Gedung Mahkamah Agung Kerajaan Berlan setelah persidangan selesai. “Aku tahu maksud Ayahanda. Persidangan tadi utamanya buat menjatuhkan hukuman ke Gerald. Kalau buat kalian mah formalitas.”
Trio cowok itu tertawa lega. Cael menyahut, “Untung sidangnya pakai bahasa Indonesia, jadi aku paham. Coba kalau pakai bahasa Inggris, aduh udah pusing duluan yang ada.”
Breno menyenggolnya. “Berasa kelas listening.”
Arven tertawa sekali lagi, lalu tersenyum. “Akhirnya bener-bener selesai juga, ya, semua masalah ini. Siapa kira, dari yang awalnya belain rusun, kita bisa sampai menginjakkan kaki di kerajaan.”
Carlotta ikut tersenyum.
Perjuangan panjang mereka sungguh telah mencapai titik akhir, kemenangan absolut. Kini, mereka dapat tertawa bebas dan kembali melanjutkan kehidupan normal yang menyenangkan. Setidaknya bagi trio itu.
Sementara senyuman Carlotta tak bertahan lama.
Karena tepat setelah ini, adalah pelaksanaan eksekusi mati Lucien Mortensen.
Orang-orang Mahkamah Agung berpindah ke The Royal Judgement Grounds of Berlan Kingdom, Lapangan Penghakiman Agung Milik Kerajaan Berlan. Tanah lapang luas dengan sebuah panggung tinggi besar. Di tengah-tengah, guillotine berdiri kokoh. Dua tiang besar berdiri tegak seperti sepasang malaikat pencabut nyawa. Di atasnya, pisau besar dan sangat lancip siap untuk dijatuhkan kapan saja—bilahnya berkilau sesaat di bawah langit senja Kerajaan Berlan.
Hans berdiri di depan, mengenakan pakaian kerajaan, lengkap dengan jubah tebal panjang. Bukan putih keemasan seperti biasa, tetapi sepenuhnya hitam dengan sedikit corak perak. Tongkat di tangan berwarna abu-abu dengan aksen hitam. Mahkota di atas kepalanya pun bukan emas, melainkan perak. Setelan khusus untuk momen-momen berduka.
“Behold!” Tongkat diketuk ke lantai panggung beberapa kali. “Di bawah langit petang Kerajaan Berlan hari ini, dengan penuh duka, saya, Hans Vincent Berlandrean, His Majesty King XII, Sovereign of the Kingdom of Berlan, menyatakan bahwa nyawa dari Lucien Mortensen akan berkorban demi kedamaian seluruh rakyat Kerajaan Berlan.”