Langit menjuntai seperti selimut yang dijahit dari warna-warna lembut. Pink yang malu, ungu yang lirih, dan biru yang terasa seperti napas pertama setelah menangis, Berlan City.
Tak ada yang berbicara ketika senja turun seolah seluruh kota sepakat untuk berhenti sejenak. Seperti semesta sendiri sedang menepuk pundak dan berkata, “Tenang. Dunia ini lebih lembut dari yang kamu kira.”
Breno tak henti berdecak kagum. Kedua tangannya menggenggam pembatas jembatan gantung yang membentang di atas aliran air sebening kristal. Arusnya tenang, memantulkan cahaya seperti serpihan kaca, dan angin yang lewat membawa kesegaran yang anehnya lebih wangi dari parfum Carlotta.
Sebuah sentuhan ringan mendarat di pergelangan tangannya. Carlotta. “Aku pikir kamu udah gak mau lihat langit Berlan lagi,” katanya pelan. Ada getaran kecil pada suaranya ketika melanjutkan, “…setelah kepala Lucien terpenggal.”
Ia mencoba tersenyum, tapi sudut bibirnya goyah, senyum yang lebih seperti seseorang yang menahan sesuatu agar tidak pecah.
Breno menatap Carlotta lama, seolah mencoba membaca sesuatu yang disembunyikan gadis itu. Ada getar kecil di bahunya, tanda bahwa luka itu belum benar-benar sembuh. Ia mengangkat tangan dan mengusap kepala Carlotta dengan lembut.
“Rambut kamu cantik banget,” katanya pelan. “Lucien pasti suka.”
Suara Breno terdengar tenang, tapi rahangnya mengeras sekejap. Dulu ia tidak pernah benar-benar akur dengan Lucien, tapi kekosongan yang ditinggalkan iblis itu tetap saja menusuk.
Pertahanan Carlotta akhirnya runtuh. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, menyusuri rambut berry red–burgundy yang ia cat khusus untuk Lucien, warna favorit lelaki itu.
“Aku merindukan Lucien…” bisiknya.
Breno menarik Carlotta ke pelukannya. Gadis itu gemetar akan kenangan yang kembali menghantam.
“Aku belum sempat bilang terima kasih padanya…” suara Carlotta parau.
“Hei…” Breno menyentuh pipinya, mengangkat wajah Carlotta agar menatapnya. Ia menyeka bulir air mata itu dengan ibu jarinya. “Jangan nangis lagi. Lucien di sana pasti bangga banget sama cewek yang selalu dia sebut My Lady. Cewek baik yang bantuin anak rusun, yang bikin aku sama temen-temen ngerasain hal gila yang dulu gak pernah kebayang.”
Carlotta mengangguk kecil. Napasnya tersendat, tapi matanya mulai sedikit berbinar. “Hem… kamu benar. Lucien pasti senang lihat aku sekarang.” Ia menarik napas dalam. “Breno… energi kita udah putus.”
“Iya,” jawab Breno, suaranya rendah. “Dan juga… perasaan itu. Kita udah bebas.”
Breno menggenggam tangan Carlotta, dingin. “Dan justru karena energi itu,” lanjut Breno, “aku sadar siapa kamu sebenarnya. Kamu tulus. Kamu sayang banget sama kami. Kamu bikin aku ngerombak semua pikiran jelek yang dulu pernah aku punya. Aku senang kenal kamu. Kamu… dan Lucien.”
Carlotta menggigit bibir bawahnya keras-keras. Matanya kembali berair, tapi ia menahannya mati-matian.
“Aku juga berterima kasih padanya… pada Lucien.” Breno mendongak sebentar, menatap langit Berlan yang memerah, lalu kembali melihat Carlotta. “Kamu… kamu mencintai dia lebih dari yang kamu sadari. Aku lihat caranya jagain kamu. Cara dia ngehargain kamu.”
Air bening menggenang perlahan di sudut mata Carlotta. Ia tak perlu bicara, anggukannya sudah cukup jadi jawaban.
“Jangan sedih lagi, yah. Lucien bakal makin bete kalau kamu makin mewek, Princess…” Breno menariknya ke dalam pelukan singkat.
“WOI! Udah kali…” protes Arven setengah sebal.
Cael hanya mendengus, tapi sorot matanya ikut melembut.
Carlotta menarik napas panjang sebelum menatap mereka bertiga. “Soal tawaranku kemarin… gimana? Aku gak bisa balik ke Valleria. Ayahanda melarang. Jadi… aku bakal sekolah di Royal High School, Berlandia Raya.”
Ia menelan ludah, suaranya lebih serius. “Kalau kalian mau ikut, aku udah siapin beasiswa dari Kerajaan Berlan. Langsung dari Ayahanda.”
Ketiganya saling pandang. Arven mengambil langkah kecil ke depan. “Aku mewakili mereka,” katanya.
Carlotta menunggu. Kali ini, napasnya terlihat lebih cepat.
“Terima kasih buat semuanya,” ucap Arven pelan. “Waktu, tenaga, risiko… semua yang kamu korbanin buat kami. Tapi…” Ia menatap Breno dan Cael sebentar sebelum melanjutkan. “Kami mau pulang. Ke Indonesia. Besok.”
Carlotta membeku.
“Bukan karena kami nolak,” Breno buru-buru menambahi, suaranya lembut. “Tapi emak kami masih nunggu. Dan… kami gak bisa terus berlindung di balik kebaikan kamu. Semua ini...” ia mengembuskan napas panjang, “udah lebih dari cukup.”
Air mata Carlotta akhirnya jatuh. Tanpa suara, tanpa drama. Ia hanya membuka kedua tangannya lebar-lebar. Breno, Arven, dan Cael bertukar pandang singkat sebelum satu per satu masuk ke dalam pelukannya.
“Thanks, ya…” bisik Carlotta di tengah pelukan yang rapat itu. “Udah hadir di dunia ini… aku bakal kangen kalian, Cong.”
Mereka tertawa kecil, tawa yang terdengar rapuh namun hangat, sementara matahari tenggelam perlahan, menyisakan cahaya orange terakhir di langit Berlan.
**