“Aku tak heran mengapa Sir Morax mempercayakanmu untuk menjadi Hakim Kota Grande di usia cukup muda, bahkan dikirim kemari sebagai perwakilan bangsa iblis dari Kota Grande.” Giselle tersenyum, wanita itu selalu lembut dan mengayomi seperti biasa. “Kamu telaten.”
“Anda berlebihan, Your Majesty.” Leviathan tak mengalihkan mata dari beberapa dokumen yang sedang dipelajarinya—sebuah usulan perdamaian sejati antara Kota Grande dan pemerintah Kerajaan Berlan, tanpa ada lagi perilaku destruktif para iblis kepada kota-kota lain dan izin bagi para iblis untuk memasuki kota para manusia.
Duduk di kursi ruang tamu Istana Kerajaan Berlan masih belum terasa begitu familiar bagi Leviathan, tetapi dia lebih dari mampu untuk menyesuaikan diri dengan cepat. “Aku semata mengerjakan tugas yang kuemban sebagai bagian dari orang yang memiliki peran dalam politik antara Kota Grande dengan pemerintah Kerajaan Berlan.”
“Yang menghidupkan Lucien kembali, adalah kamu, bukan?” Giselle terkekeh pelan, sangat manis dan lembut di telinga. Dia tersenyum ramah, begitu hangat dan damainya wanita itu menambah keanggunannya. Sempurna dibalut dengan rambut pirang cerah panjang menjuntai dan gaun keemasan halus seakan-akan memeluknya.
“Itu bukan sesuatu yang besar.” Sekali lagi, Leviathan menyangkal.
Namun, dari cara Giselle menatapnya saat ini, Leviathan lebih dari paham bahwa wanita itu melihat bukan sekadar fisik, tetapi jauh di dalam dirinya. Alias, Giselle mengetahui bahwa Leviathan hanyalah berbohong—dan itu hanya membuat wanita itu bersikap makin mengayomi padanya.
“Setelah ratusan tahun berlalu, bukankah para iblis sekarang sebenarnya sudah mulai berubah?” Giselle menatapnya cukup lekat. “Leviathan, kamu persis seperti ayahmu. Dingin, keji, tetapi sesungguhnya masih peduli kepada manusia. Itulah alasan mengapa beberapa tahun belakangan ini, Theodore melaporkan bahwa situasi Kota Grande perlahan-lahan mulai menjadi kondusif semenjak berada di bawah pimpinan Walikota Morax.”
“Kurasa, kami sekadar membangun akal sehat yang lebih baik. Iblis tetaplah makhluk yang tak mengenal kebaikan hati seperti halnya para manusia.” Leviathan meletakkan dokumen di meja, menunduk untuk menandatangani persetujuan. Meski demikian, sebuah senyuman diam-diam terlukis di wajahnya, kali ini dengan kesungguhan.
Agaknya, sekarang Leviathan paham mengapa Lucien tertekad sebesar itu untuk membalas kebaikan Giselle. Sang Ratu memang wanita yang begitu hangat. Sedikit pun, Leviathan tak merasakan tatapan-tatapan tajam, jijik, menghakimi seperti halnya kebanyakan manusia di kota-kota yang berbatasan dengan Kota Grande. Di sini, di hadapan Giselle, dia diperlakukan sama-sama sebagai rakyat Kerajaan Berlan yang akan selalu dirangkul apa pun keadaannya.
Benar-benar wanita yang pantas menyandang gelar Ratu.
Leviathan mengangkat kepala kembali, berdiri sejenak untuk menyerahkan dokumen kembali kepada Hans di seberang meja. “Kesepakatan yang baik, Your Majesty. Saya, mewakili pihak Kota Grande, menyatakan bahwa Pasukan Militer Khusus Kota Grande, secara resmi, berjanji akan menjaga keberlangsungan kesepakatan kita.”
“Very well, Sir Leviathan.” Hans berdiri sambil tersenyum, masih bercampur dengan kharisma dan ketegasannya. Dia menerima dokumen menggunakan dua tangan dengan halus, tegas, dan etika sempurna. “Kami menantikan keberlangsungan kesepakatan ini dengan harapan serupa, kesejahteraan lebih baik bagi kedua pihak.”
Kemudian, mereka berjabat tangan.
“Oh iya, Your Grace.” Leviathan beralih menatap Theodore di sisi lain meja. “Permintaan maaf resmi dariku akan dilaksanakan menyusul. Kuharap kami bisa melanjutkan kerja sama dalam mengurus Kota Grande.”