08 Oktober 2019
Kedua kakinya sedikit berlarian menaiki satu demi satu anak tangga. Herlina kembali masuk ke dalam kamarnya setelah sebelumnya menyempatkan waktu sarapan di ruang tengah bersama dengan ayahnya seorang. Ia menarik laci dari dalam lemari. Di dalam laci itu terdapat banyak perhiasan yang terlihat tidak terlalu mencolok. Salah satunya seperti seutas simpul pita berwarna biru yang kemudian dipakai untuk mengikat rambut panjangnya. Almamater warna merah maroon yang tadi dilepas di atas ranjang kemudian dikenakan untuk melengkapi atribut seragam sekolah. Tadinya sempat diambil dari dalam lemari pakaian bersamaan dengan dasi sekolah yang kini sudah terpasang pada kerah bajunya. Tidak lupa membawa topi. Itu semua wajib dipakai sebagai syarat untuk mengikuti upacara bendera. Buku pelajaran dan alat tulis sudah dimasukkan ke dalam tas. Semuanya sudah disiapkan dari tadi malam. Tidak lupa juga membawa beberapa buku bacaan yang belum sempat terselesaikan. Juga gawai yang dicabut dari kabel pengisian daya. Semuanya sudah siap. Herlina akhirnya dapat kembali turun ke lantai bawah untuk berpamitan.
“Kurang lebih seperti itu. Saya sampaikan lebih lengkapnya setiba di kantor. Selamat pagi.” Selesai dari panggilan telepon, pria itu langsung datang menghampiri setelah menyadari kedatangan putrinya dari anak tangga. “Mau berangkat sekolah? Beneran enggak mau sekalian Ayah antar? Entar pulangnya minta Bibi Mutia yang jemput.” ujarnya menawarkan sambil mengulurkan tangan.
“Enggak. Herlina mau bawa motor sendiri.” Jawabnya datar sembari mengecup punggung tangan ayahnya lalu beranjak keluar dari dalam rumah.
Herlina duduk di tepi teras untuk memasang sepatu. Hari ini gadis itu memutuskan memakai pantofel. Jenis sepatu yang selalu menjadi favoritnya ke sekolah. Warna hitamnya pekat dan mengkilap. Hari minggu kemarin sempat disikat dengan semir sepatu. Bangun dari duduk ia segera beranjak mengambil sepeda motor dari dalam bagasi. Helm digunakan sebelum dirinya menunggangi jok sepeda motor. Jarak rumah dengan sekolah memang tidak terlalu jauh, hanya kurang dari satu kilometer. Akan tetapi bagi gadis itu keselamatan dalam berkendara adalah sesuatu yang penting dan harus diutamakan untuk mencapai tujuan. Mesin akhirnya dihidupkan dan sepeda motor akhirnya melaju dengan pelan.
Ketika hendak keluar melewati pintu gerbang, Herlina langsung dipertemukan dengan seorang wanita yang tampak buru-buru ketika menyeberangi jalanan. Wanita yang kemudian mendekat ke arahnya itulah yang dipanggil Bibi Mutia. Seorang asisten rumah tangga yang dipekerjakan ayahnya. Bahkan semenjak Herlina masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Duh.. Maaf banget, Herlina. Bibi telat buat datang kemari. Ponakan Bibi lagi rewel.” Ucapnya ketika berpapasan dengan wajah sedikit memelas. Sementara Herlina kembali melajukan sepeda motornya.
Waktu seperti berjalan bagaikan roda yang berputar pada tempat yang sama. Herlina menghela nafas panjang mengingat bagaimana pemandangan yang selalu didapatinya. Di mana selama ini ketika berada di rumah, ia seperti hanya berpapasan begitu saja dengan ayahnya. Seolah tukar menukar kabar di antara keduanya seperti meredup begitu saja. Itu tidak luput dari kepergian sang ibu yang meninggal tatkala Herlina masih berumur lima tahun. Masa di mana Herlina sangat membutuhkan peran dan kasih sayang dari seorang ibu. Semenjak saat itu, tidak banyak percakapan yang terjadi di antara Herlina dengan ayahnya. Hanya ada interaksi yang terbilang sangat minim. Mereka berdua bahkan tidak mencoba untuk saling mengerti satu sama lain. Herlina memilih bungkam dan menutup diri. Sementara ayahnya menjadi pribadi yang sedikit tak acuh. Menyibukkan diri dengan dunia pekerjaan menjadi satu-satunya cara yang ditempuh pria itu untuk kabur dari kenyataan pahit setelah ditinggal sang istri.
Di tengah perjalanan menuju sekolah, bar bensin yang terlihat pada meteran speedometer terlihat begitu rendah. Untungnya setelah berbelok dari perempatan, Herlina bisa menemukan pom bensin mini yang bertengger di samping sebuah bengkel. Ia kemudian memutuskan untuk mengisi bahan bakar sepeda motornya di bengkel itu. Sesampainya di sana, di sudut bengkel itu, seorang gadis dengan almamater merah maroon dan seragam sekolah yang sama tampak sedang duduk sendiri di bangku panjang. Gadis itu adalah seorang siswi yang seangkatan dengan Herlina. Bahkan dari sekolah menengah pertama. Namun sedari dulu Herlina tidak terlalu mengenalnya, apalagi sampai mengetahui namanya. Gadis itu tampaknya sedang menunggu sesuatu. Entah sedang menunggu apa. Kedua tangannya tengah memeluk helm yang berada di atas pangkuannya. Tadinya gadis itu sempat terlihat melamun sebelum akhirnya tersadar karena kedatangan Herlina.
“Isi berapa liter?” tanya paman dengan baju lusuh bekas tumpahan oli yang datang menghampiri. Pria itu merupakan pemilik dari bengkel yang didatangi Herlina.
“Dua liter, Paman.” jawab Herlina seraya turun dari sepeda motor lalu membukakan jok tempat duduk. Sembari menunggu, ia memutuskan untuk menghampiri gadis yang duduk di sudut bengkel itu.
“Hai.” sapanya sambil berjalan mendekat.
“Eh! Hai juga.” balas gadis itu terlihat sedikit tersentak lalu tersenyum kecil.
“Lagi nungguin apa?”
“Ini, motorku tadi mogok di jalan.” jawab gadis itu lalu menolehkan wajah menunjukkan sepeda motor miliknya.
Sepeda motor yang ditunjukkan oleh gadis itu merupakan model jadul keluaran tahun 90-an yang sepertinya wajar saja kalau sering mogok di jalanan. Karenanya setelah sepeda motor miliknya telah diisi bensinnya, Herlina tidak langsung beranjak pergi. Sebelum itu ada sesuatu lagi yang harus dilakukan. Tentunya menawarkan tumpangan kepada gadis yang ditemuinya.
“Ikut aku yuk, ke sekolah.” Herlina mengajak gadis itu dengan memasang sedikit senyuman. Mungkin gadis itu jadi yang pertama teman sekolah yang pernah melihatnya tersenyum. Itu dapat ditunjukkan dari ekspresi terkejut di wajahnya.
“Eh? Tapi motor Ayahku gimana?”
“Kamu bisa tinggalin dulu di sini, sementara diperbaiki.”
“Memangnya motor ayahku bisa diperbaiki sampai kapan, Paman?” tanya si gadis kepada paman pemilik bengkel.
“Waduh, kayaknya bisa jadi sekitar jam delapan nanti, karena bukan cuman motormu saja yang mau diperbaiki.” ujar paman pemilik bengkel setelah menyeruput nikmat secangkir kopi yang baru saja diambil dari dalam gubuk bengkel.
“Ini juga sudah masuk jam 7 loh. Bisa gawat kalau nantinya kita sampai telat.” tambah Herlina.
“Eum, baiklah.” Gadis itu mengiyakan. Ia segera bangun dari bangku lalu berjalan mengikuti Herlina seraya memasang helm yang sedari tadi dipeluknya. Ia kemudian menaiki jok sepeda motor lalu duduk di belakang dengan cara menyamping.
“Paman. Motor Ayahku dijaga, ya.” pintanya kepada paman pemilik bengkel.
“Siap! Motormu yang paling dulu diperbaiki, kok.” jawab paman pemilik bengkel meyakinkan.
“Makasih.”
Mentari pagi yang bersinar hari ini cukup cerah. Cahaya hangatnya yang membiasi bangun-bangunan dan pepohonan rindang, membentuk bayangan memanjang yang secara selang-seling meneduhkan sebagian dari permukaan jalanan aspal. Kendaraan yang melaju di atasnya ikut terkena biasan selang-seling itu. Namun suhu dingin sisa semalam masih belum ingin beranjak pergi. Membuat orang-orang jadi merasakan udara hangat sekaligus kedinginan pada waktu yang bersamaan. Sedari tadi gadis yang dibonceng Herlina tidak henti-hentinya memasang ekspresi riang di wajahnya. Ia merasa begitu terselamatkan karena bisa mendapat tumpangan dari teman sekolah yang bahkan baru pertama kali disapanya. Ia juga tidak menyangka kalau seseorang yang diketahuinya sedikit bicara itu nyatanya adalah gadis yang baik.
“Hei, kita belum kenalan. Aku Renita Arina. Kamu bisa memanggilku Renita. Namamu siapa?” ucap si gadis memperkenalkan diri lalu kembali bertanya dengan mengeraskan nada bicara.
“Aku Herlina Nirmala. Kamu bisa memanggilku Herlina.” jawab Herlina dengan nada yang juga ia tinggikan.
“Herlina? Nama yang bagus. Tahu enggak? Aku sebenarnya dari dulu sangat ingin.. berteman denganmu.” ungkap gadis itu seraya menekan suaranya.