12 Oktober 2019
[Maaf, Nak.>
[Hari ini ayah pulangnya agak kemalaman>
[Kamu mau titip apa? Pulang nanti ayah belikan>
“Bagaimana Pak Hery? Cafe di sini kopinya mantap sekali bukan?”
Seruan pria yang duduk di sampingnya mengalihkan pandangan Hery dari gawai pada genggaman. “Oh, iya. Saya belum mencobanya.”
Slurpp.. secangkir kecil kopi hitam di atas meja akhirnya diteguk Hery. Mata yang lesu itu langsung berbinar tatkala lidahnya mengecap nikmat cairan kental yang disebut-sebut sebagai Espresso. Jenis kopi yang dikenal dengan rasa pahitnya yang teramat kuat.
“Pahitnya pekat sekali, Pak Firman.”
“Hahaha..”
Sekitar pukul setengah delapan, satu jam setelah selesai dari hiruk pikuk pekerjaan. Sekedar untuk melepas penat dan dahaga di akhir pekan, hampir semua rekan kerja Hery sedang mengadakan acara kecil-kecilan di sebuah kafe yang baru berdiri tidak jauh dari kantor tempat kerja. Bukan hanya karena letaknya yang cukup strategis di samping jalan raya. Apa yang disuguhkan di dalam kafe itu membuat siapa pun akan merasa betah untuk berlama-lama.
Alunan musik Jazz yang dibawakan oleh penyanyi muda freelance lokal. Lampu warna warm yang tertata di setiap pilar dan sudut tembok. Ditambah lagi dengan ornamen dan perkakas bergaya vintage yang tersebar di semua tempat. Tidak heran banyak yang tertarik berkunjung ke sana. Apalagi menjelang waktu petang.
Selain diisikan oleh para penikmat kopi seperti Hery dan Firman, kafe itu juga dipenuhi dengan sekumpulan anak-anak muda kekinian. Ada yang datang sendirian, ada yang datang ramai-ramai, bahkan juga dengan berpasang-pasangan.
“Ngomong-ngomong, soal saran darimu setahun yang lalu.” Hery menyeletuk.
“Tentang apa?”
“Kamu pernah bilang ke saya buat cari peran pengganti untuk Nia.”
“Oh, iya. Maaf akhir-akhir ini saya jadi pelupa. Bagaimana? Sudah ketemu?”
“Saya belum tahu, Pak Firman. Selama itu saya belum bisa menemukan seseorang seperti Nia.”
“Aduh, Bapak Hery ini sebenarnya paham enggak sama saran yang saya berikan? Coba cari pengganti, tapi bukan berarti Bapak harus cari orang yang sifatnya sama.”
“Benar juga. Kali ini saya yang salah. Maaf.”
Firman tahu sendiri kalau teman kerjanya itu memang tidak bisa merelakan kepergian istrinya sebelas tahun silam. Hanya saja, Firman merasa prihatin dengan seseorang yang sudah dikenalnya semenjak berada di bangku kuliah itu tidak bisa tersenyum lagi seperti sedia kala.
Ting! Notif pesan masuk akhirnya berbunyi dari gawai Hery.
Herlina mau titip martabak manis
Toppingnya pakai Choco Chips
“Enggak jauh soal itu. Minggu depan, Bapak bisa hadir ke rumah? Ada acara resepsi. Anak sulung saya menikah.”
“Tentu. Saya bakal ajak putri saya Herlina besok.”
***
Langkah kakinya menuntun Rianie memasuki ruang kerja milik peninggalan suami. Tiupan angin malam yang berhembus masuk melalui jendela yang masih terbuka, membawa hawa dingin yang seakan menyambut kedatangannya. Tanpa ragu-ragu, wanita itu segera masuk untuk menutupi jendela. Di antara meja kayu, ia sempat menghela nafas panjang. Meskipun samar-samar, bayang-bayang pria itu masih juga terasa. Seperti mengendap begitu saja di dalam ruangan itu. Aneh, padahal dirinya telah lama pergi dari tiga tahun yang lalu.
Rianie akhirnya menutup pintu lalu menghampiri kamar di mana anak sulungnya ternyata telah tertidur pulas di atas ranjangnya. Rianie membukakan lemari lalu mengambilkan selimut untuk dipasangkan pada Alika. Gawai yang berada di sana kemudian dipindahkan ke atas meja. Kepala putranya lalu dielusnya. Untuk sesaat, wanita itu teringat akan wajah suami yang tampak begitu mirip dengan wajah putranya.
Rianie mematikan lampu, keluar menutup pintu kamar, lalu segera menuruni anak tangga. Ketika tiba di lantai bawah, tiba-tiba saja penerangan di dalam rumah malam padam dengan sendirinya. Sepertinya mati lampu. Beruntungnya Rianie segera mendapat penerangan dari flashlight gawai yang diambil dari saku celana. Setelah selesai menyalakan lampu emergency sebagai penerangan sementara, ia segera kembali memasuki kamar di mana putri kecilnya juga tidur bersamanya. Belum saatnya bagi gadis kecil itu untuk bisa tidur sendiri. Itu yang terlintas di benak Rianie seraya memeluk erat tubuh kecil gadis itu. Tanpa persiapan apa-apa, bulir air dari kelenjar matanya malah mengalir jatuh. Perasaan rindu itu. Ia tidak bisa menahannya lagi.
***