Your Iris: Dandelia Dell

ayaweissen
Chapter #1

Lost (1)

Burung-burung camar menari dengan berisik diatas langit kota Whitby sore, dimana jingga bertemu dengan merah terbakar diujung cakrawala pada batas antara laut dan langit disejauh mata memandang kala menengok pada air berombak tersebut, membawa angin asin pada indra penciuman yang mana, sisa mabuk laut masihlah terasa.


Asap-asap tipis dari perumahan mengepul dari cerobong asap, beriringan dengan palu-paku tukang kapal yang masih bekerja saling menyahut antara pukulan pada besi dan kayu dari galangan.


Alis Ray mengkerut begitu mendapati aroma mirip belerang industri yang terbawa angin, mual di perutnya bertambah kala mendapati aroma demikian, menjadikan langkahnya terburu-buru dalam menuruni kapal untuk membawanya sampai pada jembatan kayu. Sesaat jikalau saja dia menoleh, maka pemandangan rangka-rangka kapal raksasa dengan pilar rapat itu mungkin akan tersapu pandangannya.


Namun, langkahnya berhenti tepat pada pertengahan jembatan penghubung antara sungai Esk yang agak keruh dengan air laut, hal tersebut lantaran pandangannya menangkap siluet reruntuhan Abbey, gereja terbengkalai yang menyita perhatian. Siluetnya yang suram dan muram membuatnya kelihatan seperti rumah berhantu tempat tinggal monster pada dongeng anak-anak, hal menggelikan jikalau saja Ray ingin bernostalgia kala ibunya kerap mencekcoki dia dengan dongeng semacam itu.


Pagar pembatas dari jembatan angkat rupanya disandari oleh seorang yang amat dikenali olehnya, kenapa orang itu bisa ada disini? Maksud Ray, dari sekian banyaknya manusia-manusia didaratan inggris, kenapa harus orang itu?


"Kadang aku berpikir, angin laut hari ini berbicara lebih banyak dibanding biasanya, kupikir apa, ternyata kapal-kapal itu membawa kejutan untukku." Segaris senyuman manis terbit pada bibir itu, tanpa pewarna merah biasa yang selalu Ray lihat dan muak menatapnya, "Kau baru turun, Ray! Kenapa wajahmu sudah kusut begitu?! Apa pelayaran dari London menuju Whitby tidak menyenangkan sama sekali?!" Bukan pelayarannya, namun siapa yang menunggunya, itulah hal utama dalam muram suasana hatinya.


Gaun merah mudanya tertiup angin hingga helaian rambut pendek itu ikut beriak, senada dengan tiupan angin laut dalam menerbangkan detail-detail renda tipis nan ringan. Hal tersebut begitu mencolok dalam sekali lihat, seperti bangsawan diantara rakyat jelata, dan itu tidak cocok sama sekali dengan statusnya sebagai seorang eksekutor dalam tugas-tugas kotor yang sering mereka kerjakan dahulu.

Lihat selengkapnya