Kota ini terasa terlalu bising bagi Hana, kecuali saat jarum jam menyentuh angka lima sore.
Bagi sebagian besar mahasiswa di Universitas Arsitektur Metropolitan, jam lima adalah tanda untuk bergegas pulang, berebut ruang di kereta komuter yang sesak, atau sekedar menuntaskan sisa kopi di kantin sebelum gerbang kampus dikunci. Namun, jam lima adalah ritual bagi Hana. Ia akan berjalan kaki selama sepuluh menit menuju Taman Chidori, sebuah ruang terbuka hijau kecil yang terjepit di antara deretan gedung pencakar langit distrik bisnis.
Di sana, di sebuah bangku kayu tua yang menghadap ke arah barat, Hana akan membuka buku sketsanya.
Srak. Srak.
Suara pensil grafitnya bergesekan dengan kertas linen yang kasar. Hana tidak menggambar gedung-gedung modern yang kaku. Ia sedang mencoba menangkap bagaimana cahaya matahari senja—yang orang Jepang sebut sebagai Yuuyake—jatuh di permukaan kaca gedung perkantoran di seberang taman. Cahaya itu tidak pernah sama setiap harinya. Terkadang ia berwarna oranye pekat seperti jeruk matang, terkadang ungu pucat.
"Hari ini... sedikit lebih redup," gumam Hana pelan. Ia menyeka butiran keringat di dahi dengan punggung tangan. Kemeja putih oversized-nya terasa sedikit lengket karena udara musim panas yang mulai menyengat.
Hana mengalihkan pandangannya ke arah Gedung Menara Kaca di seberang jalan. Itu adalah markas besar firma arsitektur ternama, tempat yang menjadi mimpi buruk sekaligus cita-cita setiap mahasiswa di jurusannya. Di lantai dua belas, ada sebuah jendela besar dengan bingkai perak yang selalu menarik perhatiannya.
Di balik jendela itu, selalu ada siluet seorang pria.
Pria itu jarang bergerak. Ia biasanya berdiri atau duduk di depan meja gambar yang diterangi lampu arsitek berwarna putih dingin. Di saat semua orang sudah mematikan komputer dan bersiap pulang, pria itu tetap di sana, menjadi satu-satunya titik kehidupan di gedung yang mulai menggelap.
Hana sering bertanya-tanya, siapa pria itu? Apakah dia seorang jenius yang tenggelam dalam karyanya, atau hanya jiwa kesepian lainnya yang tidak memiliki alasan untuk pulang?
Tiba-tiba, jantung Hana berdegup sedikit lebih kencang saat melihat siluet itu bergerak. Pria itu mendekat ke arah jendela, seolah-olah sedang memandang ke bawah, ke arah taman. Secara refleks, Hana menundukkan kepalanya dalam-dalam ke buku sketsanya, berpura-pura sangat sibuk menggambar meski tangannya sedikit gemetar.
Jangan menoleh, Hana. Dia tidak mungkin melihatmu dari jarak sejauh itu, batinnya menenangkan diri sendiri.
_______________________________
Sementara itu, di lantai dua belas Gedung Menara Kaca, Rei baru saja melepaskan kacamatanya. Matanya terasa pedih setelah menatap maket digital selama delapan jam tanpa henti. Sebagai kepala arsitek muda, tekanannya sangat besar. Proyek pembangunan museum seni di pinggiran kota sedang berada di ujung tanduk, dan Rei adalah tipe orang yang lebih suka menyiksa dirinya sendiri dengan kesempurnaan daripada menyerahkan hasil yang "biasa saja".
Ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke Taman Chidori. Dari ketinggian ini, dunia tampak seperti miniatur yang sunyi.
Matanya secara otomatis mencari titik yang sama setiap sore: sebuah bangku kayu di bawah pohon sakura yang sudah rontok daunnya. Di sana, seorang gadis dengan tas kanvas dan rambut yang diikat asal-asalan selalu duduk dengan tekun.
Gadis itu selalu memakai pakaian yang sederhana—rok kain panjang atau celana denim longgar—tapi ada sesuatu tentang caranya menatap langit yang membuat Rei terpaku. Gadis itu seolah-olah sedang berkomunikasi dengan matahari yang tenggelam, seolah-olah dia adalah satu-satunya orang di kota ini yang benar-benar menghargai detik-detik sebelum cahaya hilang.
"Lagi-lagi dia," bisik Rei. Suaranya serak karena jarang digunakan bicara sepanjang hari.
Rei melihat gadis itu menunduk cepat saat ia mendekati jendela. Ada senyum tipis, hampir tak kentara, muncul di sudut bibir Rei yang biasanya kaku. Tanpa sadar, Rei menyentuh kaca jendela yang terasa hangat karena sisa panas matahari.
Bagi Rei, kehadiran gadis di bawah sana adalah penanda waktu yang lebih akurat daripada jam tangannya. Jika gadis itu menutup buku sketsanya, artinya hari sudah benar-benar malam, dan Rei harus mulai memikirkan makan malam instan di apartemennya yang kosong.
Namun sore ini berbeda. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba tertutup awan kelabu yang datang dari arah teluk. Angin bertiup lebih kencang, menerbangkan beberapa lembar kertas dari meja Rei dan menggoyang dahan pohon di taman.
Kitsune no yomeiri. Pernikahan rubah. Istilah Jepang untuk hujan yang turun saat matahari masih bersinar.
Rei melihat gadis di bawah sana panik. Gadis itu sibuk memasukkan buku sketsanya ke dalam tas kanvas, mencoba melindunginya agar tidak basah. Namun, rintik hujan turun lebih cepat dari dugaannya. Dalam hitungan detik, taman itu mulai basah.
Tanpa berpikir panjang, sebuah insting yang sudah lama mati di dalam diri Rei mendadak bangkit. Ia menyambar jas abu-abunya yang tersampir di kursi dan payung hitam panjang di sudut ruangan. Ia berlari menuju lift, mengabaikan tatapan heran dari beberapa staf administrasi yang masih tersisa.
Jangan pergi dulu, pikir Rei saat pintu lift tertutup perlahan. Tunggu di sana.