Aroma biji kopi Arabika yang terpanggang memenuhi indra penciuman Hana, memberikan kontras yang tajam dengan aroma tanah basah yang baru saja mereka tinggalkan di luar. Kedai "Komorebi" tidak besar; hanya ada lima meja kayu yang dipoles halus dan deretan rak buku tua di sudut ruangan. Cahaya lampu gantung berwarna kuning temaram menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di dinding, memberikan kesan seolah waktu telah melambat, atau bahkan berhenti sama sekali bagi mereka berdua.
Rei duduk di hadapan Hana, meletakkan payung hitamnya yang masih meneteskan air di samping kursi. Pria itu melepas jas abu-abunya, menyampirkannya di sandaran kursi, dan kini hanya mengenakan kemeja biru tua yang sedikit ketat di bagian bahu. Hana menelan ludah pelan. Tanpa perlindungan jas formalnya, Rei tampak sedikit kurang seperti "atasan yang mengintimidasi" dan lebih seperti pria biasa yang memiliki beban di pundaknya.
"Dua Latte panas," ujar Rei kepada barista tanpa perlu melihat menu. Ia kemudian menatap Hana. "Atau kau lebih suka sesuatu yang dingin?"
Hana menggeleng cepat, jemarinya masih memeluk tas kanvas di pangkuannya. "Latte panas terdengar sempurna sekarang. Terima kasih."
Rei mengangguk, lalu kembali menatap Hana dengan intensitas yang membuat gadis itu merasa seolah seluruh rahasianya sedang dibaca. "Tadi kau bilang... aku adalah satu-satunya bagian dari gedung itu yang memiliki jiwa. Apa maksudmu?"
Hana tertegun. Ia tidak menyangka Rei akan langsung menanyakan hal sedalam itu. Ia membuka buku sketsanya perlahan, membalik halaman-halaman yang berisi coretan kasar gedung-gedung beton, hingga tiba di halaman terakhir yang tadi ia tunjukkan.
"Gedung Menara Kaca itu indah, Rei-san," Hana memulai, suaranya sedikit gemetar namun tulus. "Tapi ia sangat dingin. Arsitekturnya dirancang untuk menunjukkan kekuasaan dan efisiensi. Kaca-kacanya memantulkan langit, tapi tidak menyerapnya. Namun setiap sore, saat aku melihat siluetmu di jendela itu... kau tampak seperti satu-satunya variabel yang tidak pasti. Kau bergerak, kau berpikir, kau lelah. Kau membuat gedung mati itu terasa hidup."
Rei terdiam cukup lama. Ia mengambil buku sketsa Hana, jemarinya yang panjang mengusap pinggiran kertas dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang menyentuh barang pecah belah yang sangat mahal.
"Ironis," bisik Rei, lebih kepada dirinya sendiri. "Aku menghabiskan sepuluh tahun terakhir mencoba menjadi bagian dari mesin itu. Menjadi efisien, menjadi dingin, menjadi sukses. Dan di sini kau berada, seorang mahasiswi yang memberitahuku bahwa bagian terbaik dari diriku adalah fakta bahwa aku terlihat... lelah?"
Hana merasa bersalah. "Maaf, bukan maksudku—"
"Jangan minta maaf," potong Rei cepat. Ia menatap Hana dengan senyum tipis yang tulus. "Itu adalah pujian terbaik yang pernah kudengar selama bertahun-tahun. Di duniaku, orang-orang hanya memuji betapa presisinya garisku atau betapa hematnya anggaranku. Tidak ada yang pernah melihat 'jiwa' di sana."
Pesanan mereka datang. Uap panas mengepul dari cangkir keramik putih. Rei menyesap kopinya, matanya masih tak lepas dari sketsa Hana.
"Kau tahu, Hana? Aku sedang mengerjakan proyek Museum Seni Modern di Ueno. Kami sedang terjebak pada desain pencahayaan untuk galeri utama. Aku ingin sesuatu yang terasa seperti... senja. Hangat, transisi, tapi tetap fungsional. Melihat sketsamu, aku baru menyadari bahwa selama ini aku terlalu fokus pada lampu listrik, bukan pada bagaimana cahaya matahari yang sebenarnya jatuh."
Hana merasakan lonjakan antusiasme. Ini adalah duniaya—arsitektur dan perasaan. "Kenapa tidak mencoba menggunakan teknik Shouji? Tapi dengan material modern. Membiarkan cahaya masuk secara alami, sehingga bayangan yang tercipta tidak tajam, melainkan lembut."
Diskusi itu mengalir begitu saja. Jarak usia dan status seolah menguap bersama uap kopi. Mereka mulai menggambar di serbet kertas kedai kopi—garis-garis teknis dari Rei dan coretan artistik dari Hana. Tangan mereka beberapa kali bersentuhan saat berebut pulpen, menciptakan percikan listrik yang membuat Hana harus berkali-kali mengatur napasnya agar tidak terdengar terengah-engah.
Namun, di tengah kehangatan itu, ponsel Rei di atas meja bergetar hebat. Nama yang muncul di layar adalah "Direktur Sato".
Wajah Rei seketika berubah. Guratan lelah dan dingin itu kembali muncul, menggantikan binar mata yang tadi sempat Hana lihat. Rei menghela napas panjang sebelum mengangkat telepon itu.