Zikr Mahabbah

Aldrich Candra
Chapter #1

Prolog

Rumah putih di pertigaan perumahan itu terlihat mewah dari luar. Dinding batunya berukir bak istana. Pelatarannya mampu memuat sampai tiga mobil. Namun, tidak ada kendaraan. Tamannya pun telah mengering.

Ketika pintu dibuka, seorang gadis keluar dari sana, memeluk kain putih di tangan. Jalannya tertatih hingga harus menghadapi tangga menurun dan terguling karena menginjak gamis panjangnya. Dia meringkuk kesakitan sambil tertawa, kemudian berganti gelengan kuat.

"Aku tidak boleh mati di sini. Tidak sekarang." Suara yang terdengar dari bibirnya begitu lirih. Kulit putihnya diwarnai bekas kebiruan dan aliran merah gelap dari pelipis. Rambut panjang kelamnya acak, menutupi sebagian wajah.

Bayang yang dicitrakan sinaran lampu dari dalam rumah membuat gadis itu bergegas bangkit, menyeret kakinya dengan paksa untuk mencapai gerbang di pertengahan pagar-pagar tinggi seperti tombak tajam. Jemarinya bergetar saat membuka pengunci. Tidak ada lagi penjaga keamanan yang akan membukakan gerbang. Hanya sunyi dan teriakan yang memanggil namanya berkali-kali.

"Aruna! Aruna!" Pria tua keluar dari rumah membawa kayu panjang. Amarah mempengaruhi rautnya ketika mengejar sang putri meski napas sudah tersengal. Wanita yang menyusul pun dihempaskan hingga terjatuh di pelataran, dibiarkan menangisi keadaan meski meminta sang suami berhenti mengejar.

Di tempat lain, seorang pemuda merapatkan jaket kulit yang melingkupi tubuhnya. Dia menghindari kepadatan manusia di antara bisingnya musik dan terus menghubungi nomor yang terlihat pada layar ponsel. Beberapa wanita melirik namun tak mampu menarik perhatian. Tujuannya datang hanya satu, menemui gadis yang duduk di depan bartender sambil menyesap cairan dari dasar gelas tinggi.

"Hai, Naufal!" sapa si gadis saat bertemu tatap dengan pemuda itu sambil mengangkat gelas ke udara. Terusan sepaha yang dikenakan tanpa tali, mengekspos bahu kurusnya.

"Pulang."

"Naufal. Aku baru datang."

"Terus?" Pemuda yang terus dipanggil dengan nama Naufal itu membuka jaketnya, menyampirkan pada bahu si gadis yang terus berceloteh tentang berbagai alibi. Ponsel di tangannya sudah berpindah dalam saku celana. "Intinya, kamu hanya ingin aku datang, bukan aku jemput?"

Si pemuda menyugar rambut ikalnya ke belakang setelah mendapat anggukan. Otot padatnya tak mampu disembunyikan lengan kaus. Langkahnya beralih pada arah keluar ruangan, tidak peduli dengan panggilan-panggilan dari gadis yang menyusul dan berusaha memegang tangannya.

"Naufal! Apa kita tidak bisa bersenang-senang sedikit di dalam?" Logat si gadis jelas tidak seperti orang lokal. Kulit putih dan mata sipitnya lebih seperti keturunan Asia Timur. Hentakan dari hak sepatunya menegaskan kekesalan setiap kali ditinggalkan.

Akhirnya, si pemuda menghentikan langkah dan berbalik. "Hye Rin. Aku tidak bisa terus datang. Berhenti mencariku."

Helaan napasnya dibalas dengan rengutan bersama putaran bola mata. Gadis itu justru menautkan lengannya pada siku dalam pemuda di depannya.

"Oke. Aku akan kembali ke hotel, tapi sama kamu." Ganti Hye Rin yang menarik Naufal keluar dari koridor-koridor. Rengutannya berganti senyuman, berbanding terbalik dengan pasangannya.

Lihat selengkapnya