Zikr Mahabbah

Aldrich Candra
Chapter #2

Zikri - Catatan Biru

"Bang Zikri beneran nggak sibuk hari ini?" Mira mempertanyakan lagi ketika roda mobil yang kami tumpangi berhenti di depan wisma. Dia bilang mau mengemasi sisa barang yang tertinggal untuk dibereskan.

Aku mengangguk sambil melepaskan sabuk pengaman yang dia kenakan. "Abang tunggu sini aja?"

"Nggak lama kok, Bang."

Jilbab lebarnya mengikuti pergerakan saat keluar lebih dulu sambil menenteng tas kosong. Senyum gadis yang telah menjadi istriku selalu terlihat ceria tanpa beban selama beberapa hari mengenal.

Ya. Beberapa hari pernikahan yang kami jalani seperti teman. Jangan dikira begitu nikah langsung bisa berlanjut pada urusan lebih intim. Kami ... butuh waktu. Bicara secara langsung saja masih terasa kaku.

Lima menit, sepuluh menit, belum ada tanda Mira keluar dari wisma. "Katanya cuma bentar."

Akhirnya aku memilih menyusul, menyusuri lorong yang sebagian besar sepi pada jam kerja. "Ra?" Kupanggil namanya, memastikan semua baik sampai berada di depan pintu kamar yang terbuka.

"Masih lama, Ra?" Kutanyakan lagi sambil mengetuk pintu sebelum masuk.

Mira duduk di pinggiran ranjang, memegangi buku catatan kecil berwarna biru muda. Aku mengenali benda itu dan sempat terdiam, menelan ludah yang mengumpul dalam rongga mulut dengan susah payah.

Kuberanikan diri untuk duduk di sisi dirinya yang menunduk dan menutup buku di depannya.

"Baca apa?" Berusaha terdengar normal, tapi aku malah tergagap ketika mencoba meraih benda yang kutahu milik Runa.

Senyum yang sempat kulontarkan redup seketika saat dia menampakkan bulir di pipi. Hangat ketika kusapu dengan ujung jari.

"Habis baca apa? Kok malah nangis gini?" Kuraih buku di tangannya, tetapi Mira justru menjauh, menyekat jarak, memeluk erat buku itu di dada seraya menggeleng.

"Abang ada hubungan apa sama Runa?"

Pertanyaannya mengejutkan. Benar, itu buku yang kuberikan pada Runa. Tapi ... "Hubungan?"

"Apa yang aku nggak tahu?"

Beberapa hari setelah pernikahan, kami tidak pernah membahas masa lalu. Semua seolah menjadi buku baru dengan lembaran-lembaran putih yang harusnya tak dikotori dengan aib yang telah ditinggalkan.

Aku masih menahan gemuruh di dada, menjaga intonasi bicara meski kedua tangan sudah mengepal di pangkuan. "Maksudmu apa? Aku nggak ngerti?"

"Jangan bohong!"

Lihat selengkapnya