Kosong!
Hanya ada kosong setelah membuka mata--yang entah sudah berapa lama terpejam.
Namun, aku urung bertanya. Pada langit-langit kamar atau suster yang baru saja menyambangi--menyunggingkan senyum--hal rutin yang agaknya ia lakukan tiap hari.
"Selamat pagi," sapanya, berlanjut pada pertanyaan-pertanyaan yang kujawab dengan gelengan.
Rasanya letih. Berat lidahku bahkan sekadar untuk mengatakan "tidak".
Kusadari separuh kepala dibalut perban. Rasanya seperti ditindih batu berton-ton, begitu sakit digerakan.
Ini pasti karena kejadian kemarin.
Siapa pula yang repot-repot membawa--menyambung nyawaku--ke sini, yang sebetulnya bisa saja lunas malam itu.
Apa susahnya membiarkan?
Membiarkan seseorang yang seharusnya mati sejak lama.
Kini, aku mendapati diri, merasakan nyeri di tubuh, tak tertahankan di hati. Kembali memikul semua, mengingat setiap detail kejadian. Pertengkaran itu lagi. Tatapan Ibu yang berlalu, juga perlakuan Papa.
Entah.
Apakah napas yang ada ini patut kusyukuri atau tidak. Kesakitan ini, penderitaan ini. Aku ingin semuanya berakhir. Aku sudah amat lelah menanggungnya sendiri.
Aku sudah tak punya harapan.
Bukankah harapan yang membuat orang melanjutkan hidup?
Lalu, buat apa aku bertahan?
Lebih tepatnya, buat siapa?
Aku tak punya apa-apa, tak memiliki siapa-siapa untuk bersandar.
Lihatlah ini!
Di rumah sakit ini!
Aku berani bertaruh!
Tak akan ada seorang pun pasien yang masuk rumah sakit ini dengan kondisi terluka sepertiku. Selain ....
Pasti ada yang menemani, ada yang membesuk.
Tapi aku?
Tak ada.
Tak ada yang menginginkan aku.