ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #17

Malam Berencana

Aku dan Wina sudah berada di gerbang tol Karawaci sebelum matahari terbenam. Kami menghindari perjalanan malam agar tak bertemu para penggigit. Aku parkirkan truk IKEA di bahu jalan setelah memasukan Petok ke dalam bak truk dan menguncinya. Gerbang tol tempat yang cukup terbuka, sehingga kami bisa menyadari jika ada penggigit yang mendekat. Aku dan Wina sepakat untuk tidak tidur bersama. Maksudnya, tidak tidur pada waktu yang sama. Aku persilakan Wina tidur duluan. Sebaliknya pun demikian. Jadi malah tak ada yang tidur. Alasannya sama: takut ngorok karena malu.

"Kamu aja dulu."

"Kamu."

"Kamu."

"Kamu."

Terus begitu sampai kami sadar telah melakukan dialog yang tidak perlu. Kami pun sepakat untuk memaklumi jika ada yang ngorok.

"Kalau aku ngorok, kamu bangunin, yah!" pinta Wina.

Aku menggeleng tidak setuju. "Nggak ah." kataku. "Buatku, suara ngorokmu adalah lagu."

"Apaan sih kamu!" seru Wina dengan ngambek-ngambek manja.

Aku tertawa. "Iya, aku bangunin. Tapi setelah aku ketawain dulu."

Wina memukul bahuku. Aku pura-pura kesakitan. Padahal ketagihan.

Terdesak oleh perasaan, aku beranikan diri dengan berkata "Kalau satu-satunya kesempatan disentuh olehmu adalah dengan pukulan, aku rela babak belur."

"Dih." ucap Wina memalingkan wajah dariku lalu berpangku tangan. Wajahnya dijutek-jutekin. Cahaya kuning lampu baterai matahari jalan tol membuat parasnya semakin indah.

"Seru juga kali yah kalau kisah kita jadi cerita." ujarku terlampau percaya diri.

Wina tak menyambut pendapatku dengan antusias. "Hmmm. Apa serunya?" dia malah bertanya. "Cuma kita berdua. Nggak ada karakter lain. Nggak ada konflik. Nggak ada affair. Cuma kita dan para penggigit yang gitu-gitu aja."

Lihat selengkapnya