Aku dan Wina mulai perjalanan pukul sembilan. Setelah buang air kecil di rerumputan, cuci muka pakai air mineral, dan sarapan sosis terakhir dari IKEA, aku mengambil Petok dari bak truk lalu menyimpannya di kabin. Kami mulai terbiasa dengan tahi kotok yang sesekali keluar dari tunggirnya. Semata-mata karena kami merasa kesepian sehingga butuh binatang peliharan dan rencana akan mengganti mobil nantinya.
Perasaanku terus-terusan kecewa selama perjalanan. Pemandangan yang ada tak jauh berbeda dari yang sudah ada. Sepi, lengang, dengan penggigit di kolong-kolong jembatan dan mayat-mayat bergelimpangan di jalan, torotar, dan pelataran bangunan. Mobil polisi, truk militer, mobil-mobil pribadi dan bus-bus terlantar di tengah da pinggiran jalan. Motor-motor sudah seperti sampah yang tak berguna. Kepulan asap membumbung di setiap penjuru, besar dan kecil. Beberapa kobaran api masih menyala besar di banyak bangunan. Tidak ada penampakan satu pun manusia normal.
Saat matahari berada di atas kepala, kami berhenti di rest area KM 88 Cipularang. Kami mengambil kompor gas kecil dan lima tabung gas kaleng di Alfaexpress yang kosong. Ketika tahu bahwa pompa bensin tidak berfungsi karena listrik tak mengalir, aku mulai mencari mobil pengganti sambil menenteng Petok.
"Kenapa nggak cari mobil kecil aja, sih?" keluh Wina dengan tanya.
"Tidak bisa buat nabrak mobil yang mungkin menghalangi jalan kita." jawabku. Wina diam lalu mengangguk mengerti alasanku. Aku lanjut memberinya gagasan. "Kalau kamu mau, kamu bisa pilih mobil lain untuk kamu setir sendiri."
Wina menggeleng sambil tersenyum. "Aku belum punya SIM."
Aku tertawa, tapi tak melihat Wina ikut tertawa. "Serius?"
Wina menatapku dengan raut serius. "Iya." katanya. Aku tertawa lagi, tapi raut Wina malah berubah kecewa. "Serius!" katanya lagi. Aku makin tertawa. "Kamu lucu, deh." ucapku sambil mendekati sebuah truk berukuran sama dengan truk IKEA yang terparkir di ujung area pom bensin.
"Lucu kenapa?" katanya dari belakangku.
"Karena alasan nggak punya SIM?" kataku tampa menoleh.
Aku sadar Wina berhenti karena langkahnya tak terdengar lagi. Tak lama dia tertawa cekikikan. Aku menoleh dan melihat Wina menepok jidatnya sendiri.
"Oh, iya!" katanya lalu tertawa lagi, menyadari kebodohannya. "Siapa juga yang bakal nilang, ya?" lalu tertawa lagi, mulai mirip kunti.
Aku lanjut berjalan dan berkata "Kita harusnya senang kalau ketemu polisi yang lagi razia."
"Iya, iya." sahut Wina setelah berhenti tertawa. "Nggak usah, lah. Lagi pula aku sudah lupa cara nyetir. Cuma bisa mobil matic. Makin sulit nyari yang cocok."
Aku memaklumi alasan Wina dengan anggukan lalu berkata "Lagi pula aku lebih senang kamu berada di sisiku."
Wina berjalan cepat menyusulku tanpa menanggapi. "Ayo kita cari mobil!" katanya dengan mimik serius.
Biar cinta datang karena tak diundang.
Mobil truk incaranku ada kuncinya. Truk berukuran sama namun dengan bak tertutup berventilasi. Akan sangat berguna sebagai rumah Petok. Indikatornya menunjukan bensin yang full. Kami melanjutkan perjalanan sampai gerbang tol Cileunyi. Dari jalan tol, Kota Bandung terlihat menyedihkan. Mengingatkanku pada sejarah Bandung Lautan Api. Aku mulai mengurangi harapan adanya perbedaan agar tak begitu kecewa nantinya. Entah dengan Wina. Aku berharap dia pun sama. Wina mengarahkanku untuk lewat Kota Garut. Keadaannya tak jauh beda. Kami hanya sempat mengambil dodol dan dorokdok -kerupuk kulit- yang berada di toko oleh-oleh yang aman karena ditinggal pemilik dan tak ada penggigit di sekitarnya.
"Ini kulit apa, yah?" tanyaku sambil ngunyah dorokdok yang sangat gurih.
"Paling juga nenek-nenek. Soalnya keriput, sih." jawab Wina. Aku tertawa atas leluconnya.
"Kirain kulit trenggiling." ocehku, berusaha mengimbangi. Giliran Wina yang tertawa. Melihat itu, aku mencoba mulai merangkai kata. "Kalau kelak kulitmu sekeriput ini, aku akan tetap ada di sampingmu."
Wina batuk tersedak keruput kulit lalu buru-buru minum air mineral.