ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #19

Senjata Harapan

Kami sudah belindung sebelum gelap. Wina mengajakku ke rumah mewah di jalan raya kota. Wina bilang itu adalah rumah idamannya selama ini. Saat kami sampai, gerbang rumah itu terbuka dengan bagian teras yang berantakan dengan koper, tas, dan baju-baju yang berserakan. Sepertinya pemilik rumah terburu-buru pergi. Kami duduk -duduk di sofa terasnya yang luas. Membiarkan Petok bermain di halaman rumput berpepohonan hias, sesekali mematok tanah mencari makan, meski kami sudah memberi auran beras.

"Sejak SMP aku sering lewat rumah ini. Penasaran banget sama dalamnya, akhirnya kesampaian."

"Selamat, yah," ucapku. "Sekarang malah kamu bisa jadi pemiliknya.Kita adalah pemilik semua properti yang ada di negara ini."

Wina merapatkan kedua bibirnya. Membuatnya semakin tampak lucu dan menggemaskan. "Iya juga, yah," katanya, seperti baru menyadari.

"Semua yang di Jakarta, Tangerang, dan semua daerah yang kita lewati kemarin, sekarang nggak ada yang punya, jadi bisa kita akuin," ujarku.

"Tapi nggak ada artinya kalau dunia ini sepi. Nggak bakal terasa seperti rumah," ungkap Wina yang tak bisa aku bantah. "Kita harus cari orang-orang yang selamat," ucapnya lagi sambil menegakan punggungnya.

"Atau kita membuatnya sendiri," sambarku cepat, takut keburut basi. Aku pandangi Wina sambil dengan tatapan tumpul agar ia tidak ketakutan. "Maksudku, harus ada yang melakukan itu. Tidak harus sekarang juga."

Wina menatapku dengan dingin. Membuatku merasa bersalah.

"Tidak harus kita," ucapku dengan gerak tangan membuka-tutup. Wina berhenti menatap. Cukup mengurangi kecepatan detak jantungku.

"Kenapa kamu nggak bilang sih kalau kamu udah tunangan?" tanyaku.

Wina kembali menyadarkan punggung di sofa lalu menjawab lesu. "Kamunya kan nggak nanya. Ngapain juga aku kasih pengumuman."

"Iya juga, yah," balasku. "Tapi itu kan membuatku jadi berharap."

"Berharap apa?"

"Berharap," aku pikir-pikir dulu, kalau-kalau ini terlalu vulgar. "berharap aku bisa....dengan kamu...menambah lagi jumlah populasi."

Wina malah tertawa. Itu membuatku lega malah, karena aku kira bakal marah atau ketakutan. "Sori kalau bikin kamu berharap begitu. Aku masih berharap A Agus masih hidup. Mungkin dia sedang tugas ke luar waktu penggigit merajalela."

"Iya. Bisa aja," kataku, menahan kata 'semoga'.

Lihat selengkapnya