ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #20

Nembak

Aku jadi tahu bahwa Wina sangat cekatan. Pantas saja ia selamat dari huru-hara di tokonya. Waktu siang mentereng kami masuk kembali ke Brigif untuk mengambil senjata, Wina menunjukan hal itu. Aku bertugas menarik perhatian para penggigit dengan membunyikan klakson dan sesekali berteriak "AGUUUS!" sebagai permintaan Wina. Dengan suara klakson dari truk yang aku jalankan berkeliling komplek militer, Wina jadi tahu bangunan mana saja yang ada penggigitnya dan jalur mana yang bisa ia gunakan sebagai jalan masuk menuju gudang senjata. Setelah memastikan jalan dan isi gudang senjata tak ada penggigit, Wina masuk selama lima belas menit, lalu keluar, berjalan mendekati truk dengan membawa 'hasil panen' dalam ransel dan jinjingan.

Empat senapan laras panjang M16, sepuluh magazine, delapan granat tangan, rompi anti peluru, sepasang helm baja, keris, tombak, dan busur panah.

"Kok ada keris segala?" tanyaku.

"Nggak tau." jawab Wina. "Mungkin tentara di sini dilatih menggunakan senjata jadul juga."

"Hmmm, masuk akal." kataku sambil membantu mengangkut bawaan Wina ke dalam bak truk yang sudah banyak tahi Petoknya.

"Sampai kapan kita bawa-bawa Petok kaya gini?" tanya Wina saat menaruh kotak kayu berisi granat bertuliskan 'JANGAN DIBANTING!'.

"Aku sih pengen ngebebasin Petok, tapi kok nggak tega, yah." jawabku.

"Padahal tadinya kita mau makan dia, yah." ujar Wina. "Mau kita jadikan opor."

Aku mengangguk. Sudah beberapa kali aku berniat menyembelihnya, tapi umur Petok terus manjang karena kami masih menemukan makanan baru, seperti yang ada di rumah kemarin. Sudah beberapa kali pula kami melihat ayam-ayam lain di jalan-jalan. Tapi Petok seperti punya ciri khas tersendiri. Ada semacam ikatan emosional yang sudah terjalin antara aku, Wina, dan dia. Mungkin Petok pun merasa demikian. Diam-diam bersenandung lagu D'Massive 'Di Antara Kalian' ketika melihat aku dan Wina berdampingan.

"Ya, sudah, nanti kalau kita ketemu ayam broiler yang sama, kita bebasin dia untuk memilih. Mau terus bersama kita atau bersama sebangsanya." ujarku.

"Kamu bijak banget." kata Wina dengan senyum rekayasa.

"Iya, dong. Emangnya kamu. Bajak. Bajak laut lagi."

"Kamu tuh bajak henpon." balas Wina. Kami sama-sama tertawa.

"Karena menurutmu aku bijak, apa kamu sudah jatuh cinta padaku?" tanyaku iseng, sambil menutup pintu bak truk.

Wina menatapku ragu. Tawanya semakin memudar lalu kepalanya menggeleng kecil. Entah sebagai jawaban 'belum' atau sebagai jawaban 'tidak yakin'. Yang pasti aku sudah merasa tak perlu ragu untuk terbuka. Wina sudah punya tunangan dan tentara Australia menunjukan bahwa masih ada kehidupan. Bayangan punya istri bule Australia mulai masuk ke dalam kepalaku.

"Kapan kita akan mulai latihan menembak?" tanya Wina.

"Di perjalanan menuju pesisir selatan. Di tempat sepi yang tidak ada penggigitnya biar bisa konsentrasi."

Kami pun memulai perjalan menuju selatan. Wina bilang, Ujung Genteng dan Pantai Cipatujah Tasikmalaya sama-sama di pesisir selatan. Jadi, berjalan ke arah barat dari Pantai Cipatujah akan membawa kami ke Ujung Genteng, Sukabumi. Perjalanan menuju pesisir selatan mebuka fakta baru yang tak jauh berbeda dengan perjalanan kami sebelumnya. Sepi dan berantakan. Pemukiman, pasar, kantor-kantor desa menunjukan sisa huru-hara berupa mayat dan puing sisa kebakaran. Selain hewan, kehidupan yang ada adalah kehidupan para penggigit yang berteduh di bawah teras-teras bangunan dan pepohonan. Saat melewati area perbukitan yang ada kebun tehnya, aku memutuskan untuk berhenti dulu.

"Jadi di sini kita latihan menembak?" tanya Wina setelah menyusulku turun dari truk.

"Iya." jawabku sambil berjalan menuju bagian belakang bak truk sementara Wina mengikuti. "Di sini jauh dari pohon-pohon besar. Cuma ada pohon teh. Nggak mungkin lah penggigit berteduh di pohon teh, kecuali dia ulet yang suka teriak pucuk, pucuk!"

Aku melepas slot kunci bak truk. Aroma tahi kotok langsung menyelinap ke hidungku. Petok berjalan sempoyongan ke ujung pintu, sepertinya sudah mual karena berdiam di dalam bak dengan perjalanan berkelok-kelok. Aku ambil Petok dan melemparknya ke jalan lalu mengambil dua senapan. Wina mengambil tas jinjing dan kotak granat.

Lihat selengkapnya