ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #25

Permintaan

Aku dan Riki ngedeprok di lapangan basket kampus, setelah keluar dari gedung utama lewat jendela toilet lantai dua, melompat ke pohon dan turun melaluinya. Lapangan basket tempat kami duduk adalah area paling terbuka yang berarti paling aman karena tersorot sinar matahari siang secara menyeluruh. Riki masih membiasakan diri untuk yakin bahwa para penggigit tidak akan menyerang dari bawah pepohonan di sekitar lapangan. Kadang-kadang masih kagetan saat mendengar erangan penggigit di sekeliling. Ia makan roti tawar dari ransel dengan sangat lahap, seolah belum makan dari PAUD.

"Nggak ada selai nanasnya apa nih?" tanya Riki. Sudah habis enam lembar sejak ia makan sambil mendengar ceritaku selama terjebak sendiri sampai sekarang di sini.

"Nggak ada." jawabku. "Nanti kalau lewat Indomaret kita ambil."

Aku melihat kulit tubuh Riki semakin cerah, seiring pucat yang kian memudar. Sepertinya darah dia kembali beredar dengan lancar. Glowing bak habis dioles skincare made in Korea Utara. Setelah menenggak satu botol air mineral sekaligus, ia sendawa lalu menghela napas.

"Kapan kita menyuntikan anti virus ke Ratri, Wen?"

Aku memandangnya dengan serius. Aku sudah menebak hal ini akan ia bicarakan. Aku hasus menjawab dengan hati-hati. "Ini aku lagi mikir." jawabku, agar dia tidak menunggu. Aku memang sedang berpikir.

"Masalahnya kita tidak tau di mana Ratri berada." ucapku.

Riki memelas dan berkata "Plis, Wen, kita harus coba nyari dia, Wen. Cuma dia semangatku, matahari, rembulanku, saparuh napasku, belahan..."

"Pret, lah!" potongku. "Elo nggak milih keluargamu?"

Riki tampak berpikir. Mungkin merasa jadi anak durhaka. "Dengan jumlah anti virus yang terbatas, nggak akan cukup. Mending Ratri dulu. Tapi nanti anti virus bakap ada lagi, kan?""

"Semoga." jawabku. "Tentara Australia bilang akan terus memproduksi, dan kita bisa meminta lagi saat mereka sudah berada di Tanjung Priuk. Kalau kita sudah mengobati yang lain, kita standby di sana."

"Berapa lama penggigit bisa bertahan?"

Aku menggeleng. "Harusnya elo lebih tau. Elo kan mantan. Coba elo cerita bagaimana kesan-kesannya selama jadi orang gila?"

Riki senyum tipis. Seperti merasa malu akan masa lalu yang berlumur darah, lalu menggeleng dalam kebingungan. "Gue nggak bisa mengingat dengan jelas." katanya. "Cuma samar-samar waktu gue berusaha menyelamatkan Ratri di dalam lift dan di lantai tiga, terus waktu staf fakultas ngegigit pundak gue di dalam lift. Habis itu semakin samar. Rasanya seperti mimpi buruk waktu sakit panas. Ada bayangan tapi susah diingat."

Riki garuk-garuk kepala saking bingungnya. "Kayanya aku sempat menggigit seorang mahasiswa. Gue merasa lapar banget sekaligus haus gila."

"Elo ngengigit Ratri deh kayanya." ujarku.

Lihat selengkapnya