ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #26

Konser

Aku dan Riki sudah mengumpulkan dua belas mobil di parkiran selatan. Parkiran terluas dan terdekat dengan pintu depan gedung utama kampus. Kami menghadapkan empat mobil ke teras gedung utama, agak melengkung, agar empat di sisi kanan dan empat di sisi kiri seolah melingkari truk yang nantinya akan menjadi tempat kami berdiri. Jarak antar mobil kami atur lima meter satu sama lain, agar para penggigit di sekitar bisa mendekat. Semua lampu mobil kami nyalakan. Kami sudah memastikan tidak ada satu pun anggota kelompok kami yang akan kami suntikan anti virus di sisi selatan. Hanya ada tiga penggigit yang berteduh di pepohonan dekat gerbang.

Aku dan Riki buang air kecil dan besar dulu di saluran air depan pagar besi kampus supaya tidak kebelet saat malam. Pukul 17:15 cahaya matahari sudah terhalang bangunan apartemen yang menjadi tetangga kanan area kampus. Parkiran barat dan area lapangan basket sudah ternaungi bayangan gedung utama kampus. Kalau saja penggigit melihat kami, mereka sudah bisa mendekat. Para penggigit di teras depan pintu depan gedung utama sudah menatap kami terus menerus dengan erangan kelaparan, menunggu cahaya meredup. Aku dan Riki bergegas menaikan ransel dan senapan ke atas bak truk dengan cara lempar tangkap. Riki naik lebih dulu melalui kabin. Setelah semua barang dipindahkan ke atas, aku menyusul naik. Ketika matahari sudah tak menyoroti parkiran tempat kami berada, para penggigit di teras kampus langsung berlari mengerang dengan cepat. Aku dan Riki menarik kokang di sisi kanan senapan, mulai mengarahkan bidikan pada sosok di bawah sambil melihat dengan seksama wajah-wajah mereka. Tidak ada satu pun yang kami kenal. Kami mesti mengambil langkah berikutnya. Aku menembakan senapan ke atas.

DAR!

Letusan yang mambuat para penggigit di seluruh area kampus mengerang. Kegaduhan terdengar dari lobi gedung utama. Puluhan penggigit keluar berdesakan melalui pintu depan, mencari sumber suara.

DAR! tembakku memberi petunjuk arah pada mereka.Makin banyak penggigit keluar dari gedung dan area parkiran. Semua menuju ke satu titik. Truk tempat aku dan Riki berdiri. Penggigit yang sudah lebih dulu keluar sudah menggapai truk. Menggedor-gedor bagian samping dan depan dengan kepala mendongak dan tangan menjulur. Semakin gelap semakin ramai.

"Elo jangan ngeliat ke bawah!" ujarku, saat melihat Riki melakukan itu. "Tenang aja! Fokus cari Ratri dan anak-anak!"

"Oke." teriak Riki, tanpa mampu menyembunyikan raut paniknya.

Truk tempat kami memang bergoyang-goyang karena tumbukan tangan para penggigit. Tapi aku sudah meyakinkan Riki bahwa mereka punya keterbatasan yang membuat kami akan tetap aman, selama mereka tak punya pijakan yang cukup untuk memanjat. Para penggigit tidak bisa bekerjasama.

Langit semakin gelap. Sudah sangat hitam. Bulan dan bintang semakin jelas. Tapi area parkiran semakin terlihat terang karena sorot dua belas mobil yang kami jajarkan ditambah lampu truk pijakan. Semakin banyak penggigit mendekat ke truk dari berbagai arah. Riki belum juga bersuara. Aku pun memancing lagi.

DAR! DAR!

Lihat selengkapnya