ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #2

Pada Mulanya

Pada mulanya orang-orang menyangka ini dalah wabah Covid terbaru. Sebulan kemudian para ahli kesehatan dunia mulai bicara soal Cikungunya yang berevolusi. Satu minggu setelah itu, pemerintah mengumumkan darurat wabah Zika, yang katanya dibawa oleh bule-bule Eropa yang sedang marak berwisata keliling dunia untuk menghindari panas ekstrem. Dilihat dari gejalanya memang mirip. Demam, nyeri sendi, mata merah. Tapi ternyata wabah ini berkembang jauh lebih parah dari semua itu. Orang-orang yang sakit sampai meronta-ronta, berteriak, dan meracau dalam pembaringan. Rumah sakit dan puskesmas jadi tempat yang gaduh. Setidaknya itu yang tampak dari tayangan-tayangan berita tivi, unggahan Youtube, Tiktok, dan Instagram. Keadaan itu terjadi di berbagai daerah. Judul-judul videonya pun clickbait, membuatku tak tahan menahan penasaran: 'VIRAL! KESURUPAN MASSAL DI RUMAH SAKIT!', 'HEBOH! LOMBA TERIAK DI PUSKESMAS!, 'TAK DISANGKA, ANGGOTA DPRD MENGAMUK DI RUANG SIDANG!!!'.

Aku pernah penasaran ingin membuktikan berita-berita itu. Aku datangi puskesmas terdekat dari kosan. Ternyata semua berita itu benar. Puskesmas penuh pasien korban wabah misterius. Mereka berteriak-teriak seolah bersautan, mirip orang kesurupan di acara mistis. Ada yang cuma meracau tak karuan. Sampai ada juga yang mengeluhkan beban hidup dengan mata terpejam namun sambil berteriak. Salah satunya seorang bapak setengah baya yang berteriak-teriak pada tamunya, "WHAAAA! PERGI KAU DEBT KOLEKTOR! DUITNYA BELUM ADA! WHAAAA! BERANI KAU AMBIL MOTORKU, KU BACOK KAU!"

Begitulah tingkah orang-orang yang terkena wabah, meluapkan keresahan alam bawah sadar mereka. Fasilitas-fasilitas kesehatan benar-benar kacau. Wisma Atlet kembali dialih fungsikan sebagai rumah sakit darurat. Pasien membeludak sampai teras bangunan. Menteri kesehatan memerintahkan puskesmas dan rumah sakit untuk mengadakan bangsal-bangsal darurat. Bahkan beberapa pasien membawa kasur sendiri agar bisa dapat perawatan. Aku bisa mencium bau ompol anak dari kasur-kasur gulung itu. Beberapa beraroma kerak iler mingguan.

Tapi inilah yang membuat wabah jadi tak terbendung. Ketika presiden memerintahkan kantor-kantor polisi, barak-barak tentara, bahkan dapur SPPG, dijadikan rumah sakit darurat. Universitas dan akademi yang membuka kuliah kedokteran dan keperawatan diperintah untuk membantu tenaga medis profesional, bahkan bagi mereka yang baru tingkat satu. Karena blunder itulah pertahanan negara runtuh. Keputusan gegabah yang berbuah bencana. Bagai menaruh bom waktu di benteng terakhir. Dari tempat-tempat itulah gigitan-gigitan pertama terjadi. Polisi dan tentara malah jadi korban gigitan pertama bersama para keluarga pasien. Pasien tiba-tiba bangkit dan menggigit. Yang digigit jadi yang menggigit. Mereka menjadi haus darah, mengestafet virus ke manusia-manusia lain tanpa pandang bulu. Itu karena para penggigit bukan lagi manusia!

Pengumuman status darurat dari presiden sangat terlambat. Sekarang komunikasi GSM dan internet sudah lumpuh. Kekacauan sudah dimulai.

Lihat selengkapnya