ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #3

Penggigit

Penggigit adalah sebutanku untuk mereka yang terinfeksi. Aku tak tahu sebutan yang lebih pantas untuk mereka, karena mereka memang tukang gigit. Tadinya aku mau kasih julukan Penghisap. Tapi terdengar jungkies sekali. Pernah ingin menjuluki mereka debt-colector, karena mereka suka mencegat dan mengejar, tapi membuatku ingat hutang cicilan motor yang belum lunas, yang aku harap dilupakan karena wabah ini. Sempat terlintas menyebut mereka Pemangsa. Tapi itu malah mengesankan mereka adalah pihak yang superior. Aku tak mau merasa lemah di depan mereka. Sudah cukup kesendirian ini menyiksaku, aku tak mau lemah pula dalam menghadapinya. Jadi, supaya cepat ada julukan, aku putuskan untuk menyebut demikian: Penggigit.

Aku harus bergerak dalam senyap agar tetap hidup. Aku tak boleh sering bersuara karena mereka selayaknya manusia yang merespon dengan semua indera. Bedanya, mata dan kulit mereka sangat sensitif terhadap sinar matahari. Mereka akan memejamkan mata dan berteriak kesakitan jika terpapar sinar matahari. Karena itulah korban gigitan yang tak sempat berlindung dari sinar matahari ketika berubah jadi penggigit, akan mati kepanasan. Karena itu pula mereka tak mau keluar saat siang. Sepanjang hari, dari pagi sampai sore, mereka berlindung dalam bangunan, di bawah atap bangunan, atau berteduh di bawah pohon rindang. Namun saat gelap, mereka keluar, berjalan-jalan sambil mengerang mencari mangsa.

Kulit mereka pucat. Sepucat warna kaki yang terlalu lama memakai sepatu basah. Hanya saja tidak sampai keriput, kecuali karena memang sudah tua. Mata mereka merah di bagian yang seharusnya berwarna putih, seperti mata yang baru kelilipan debu sehabis naik motor di jalanan ngebul tanpa helm. Telapak tangan mereka kaku, membentuk gaya mencakar yang tak mau melunglai.

Lihat selengkapnya