ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #4

Kelompok

“Wen, kita masuk kelompok elo, ya!” pinta Fandy sambil merangkul bahuku setelah dosen keluar kelas. Aku tahu, ‘kita’ yang Fandy maksud adalah ‘kami’, yang berarti dirinya dan Intan, kekasihnya. Mereka adalah satu-satunya pasangan pra-ospek angakatanku, yang melanjutkan kisah asmara SMA ke jenjang sarjana.

Belum sempat aku mengiyakan, Intan turut mendekat, duduk di kursi depan, menghadapkan tubuh ke arahku. “Boleh, ya, Wen?” katanya dengan tatapan bola mata hitam yang melas. Bagaimana bisa aku menolak Fandy, teman satu kelompok waktu ospek, dan kekasihnya yang mampu menampilkan wajah melas?

“Boleh, lah,” jawabku pada keduanya. Bukan GR. Memang sejak semester satu, ide-ide praktikku selalu ditanggapi positif oleh dosen. Jadi lumayan jadi incaran teman-teman yang perlu jaminan mutu.

 “Siapa lagi nih, Wen, yang kita ajak?” tanya Fandy semangat, terkait jumlah maksimal satu kelompok yang dibatas dosen mata kuliah Produksi Acara Televisi adalah tujuh orang.

“Gue udah ajak Riki,” jawabku.

“Rikinya mana?” tanya Fandy.

 “Nggak masuk,” jawabku.

Fandy mengernyit ke hadapanku. “Nanti nggak kerja lagi dia pas produksi.”

Aku menggeleng. “Kalau Produksi dia semangat, kok, Fan. Hari ini dia nganter omnya ke rumah sakit,” aku memberi penjelasan sebelum menenggak air mineral yang aku isi ulang dari dispenser fakultas.

Fandy mengangguk lalu bertanya, “Omnya kena?” ucapnya dengan wajah penuh kengerian.

“Barus suspect katanya,” jawabku.

“Oh,” angguk Fandy. “Kotak-kotak dong, Wen, perutnya?”

“Bodo amat, lah, Fan.”

“Aku boleh ajak Ratri nggak, Wen?” tanya Intan tiba-tiba.

Aku tersedak air mineral yang sedang kutenggak, tapi harus mengangguk dengan cepat.

“Boleh, lah!” jawabku setelah susah payah menelan air dengan sedikit semburan yang hampir mengenai wajah Fandy. “Boleh, boleh!” ulangku agar Intan mendapat jawaban lebih pasti. “Kita perlu banget orang kaya Ratri di kelompok kita!”

Lihat selengkapnya