ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #8

Ratna-Alex

Membuat Ratna sudah punya kelompok meskipun dirinya tidak masuk, adalah rencana Alex dalam rangka meluluhkan hatinya. Alex pernah cerita kepadaku bahwa dia jatuh cinta pada Ratna ketika kami satu kelas dalam mata kuliah Bahasa Inggris II. Waktu itu Ratna menjadi pasangan tanya jawab perkenalan dalam Bahasa Inggris. Waktu itu aku melihat Alex begitu lancar, sementara Ratna terbata-bata.

“My name is Ratna.”

“Helo, Ratna, my name is Alex. Nice too meet you. You look beautiful today.”

“Ya…”

 “Are you merried or engaged?” tanya Alex, membuat dosen dan segelintir saja mahasiswa tertawa. Waktu itu, aku ikut-ikutan tertawa biar dikira jago Bahasa Inggris.

“I can’t understand kalau cepat-cepat.” keluh Ratna sambil menahan tertawa.

“It’s oke.” sahut Alex. “You don’t need to understand, you only have to know that you are so beautiful and I hope you don’t have boyfriend, yet, because I can see my unborn children in your eyes.”

Dosen Bahasa Inggris malah memasukan tangannya ke dalam mulut lalu bersiul wit-wiw, mirip pelatih sepak bola di pinggir lapangan. Aku ngangguk-ngangguk sambil senyum, masih dalam rangka biar dikira ngerti. Hampir semua mahasiswa terpesona dengan kemampuan Bahasa Inggris Alex yang ia dapat dari pengalaman sekolah di Inggris karena ayahnya atase di kedubes. Alex pun tahu itu bisa menjadi modal baginya untuk mendekati Ratna. Sebuah kemampuan yang aku harapan ada pada diriku.

Sejak saat itu, Alex dan Ratna kerap besama. Setiap kali satu mata kuliah, Alex selalu berusaha duduk di samping Ratna. Aku melihat Ratna cukup kalem. Tidak tampak letupan-letupan asmara yang menjadi tanda rasa yang sama. Ratna memang tak menolak Alex untuk mendekatinya. Tapi belum mau hanya berdua. Selalu menyertakan teman wanita lainnya ketika Alex pedekate. Aku mengira-ngira. Ada sesuatu yang menghalangi Ratna untuk menerima Alex. Tebakanku, Ratna sudah punya. Aku pun tahu ketika sarapan sebelum mata kuliah statistik paling pagi.

Waktu itu baru sedikit sekali mahasiswa yang sudah di kantin. Termasuk aku dan Ratna. Sambil sarapan Indomie goreng, Ratna bercetita padaku yang sambil nyeruput kopi endorsan channel Baim Wong.

“Gue ngeri juga deh, Wen, sama Alex.”

“Kok, ngeri?” tanyaku heran dengan pilihan kata.

“Gelagatnya kaya playboy gitu.” jawab Ratna dengan aksen Jakselnya. “Kaya biasa banget deketin cewek gitu.”

 “Ya karena yang dia deketin selalu cewek kali, nggak pernah cowok.” sahutku asal.

“Bukan begitu juga kali.” ketusnya. “Maksud gue, kaya nggak ada tegang-tegangnya gitu sama gue.”

 Aku ngangguk, mengerti keresahan Ratna. “Percaya diri.” ujarku pelan.

Lihat selengkapnya