ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #9

Drone

Aku tahu bahwa hari sudah pagi. Ada cahaya matahari tak langsung yang menembus kaca pembatas yang juga tembusan dari jendela studio-editing di sebelah. Aku bangun dari sofa krem yang terlalu pendek untukku yang bertinggi 168cm untuk bisa selonjoran. Memang sofa ini diperuntukan untuk duduk. Namanaya juga sofa. Kalau untuk ditiduri mah namanya Sofi. Itu pun khusus untuk suami Sofi.

Aku bangun dari sofa dengan menyisakan ceplakan tubuh yang membuatnya kusut. Aku dekati kabel roll dan melepas kabel powernya. Lampu indkator sudah hijau, menandakan semua baterai sudah terisi penuh. Aku melepas semua baterai dan memasangkanya pada slot drone, lalu mencabut juga carger remote bermonitor darinya.

Aku mulai keluar dari studio-utama ke ruang tunggu dengan membuka pintu berkarpet peredam dan mengganjalnya dengan kursi kayu kotak agar tidak menutup. Aku buka dulu kunci pintu depan studio. Aku kembali ke dalam mengambil drone dan menentengnya dengan dua tangan, melewati ruang tunggu dan membuka pintu depan dengan tangan kiri, lalu menaruh drone di lantai. Aku menekan dulu tombol power drone sebelum bangkit dari jongkok. Drone sudah siap. Aku masuk, menutup, dan mengunci pintu lalu ke ruang utama untuk mengambil remotenya.

Aku mulai menyalakan remote drone, membuat tampilan di monitor menampilkan pemandangan yang disorot kamera pada drone di luar: lorong di depan studio, menghadap ke timur, karena aku akan menerbangkan drone ini melalui lorong timur. Aku menggerakan batang kemudi pada remote yang membuat drone terbang hingga hampir menyentuh langit-langit lorong yang bertinggi tiga meter aku lalu menggerakannya lagi untuk maju dan berbelok perlahan untuk masuk ke lorong timur. Tidak ada penampakan penggigit membuatku mempercepat laju drone dengan ketinggian tetap. Sehampir sampainya di ujung lorong aku menurunkan kecepatan, perlahan mengarahkan drone masuk ke lorong selatan sambil memutar arah yang sekaligus menjadi arah kamera. Dan tigak penggigit itu masih di sana, di posisi yang sama.

Sosok mahasiswi penggiit masih duduk di bawah lantai dengan pundak begerak naik-turun seperti ngos-ngosan. Padahal kerjaannya cuma duduk, tapi terlihat capek begitu. Terlihat lebay. Tapi aku tak lantas berpikir begitu, karena sosok lainnya pun terlihat begitu. Pak Satpam berdirinya sudah tidak begitu dekat dengan persimpangan lorong, tapi arah tubuhnya masih sama. Pundaknya pun sama, bergerak-gerak naik-turun. Begitu pula dengan sosok petugas kebersihan, masih berdiri di depan kursi tunggu dengan gerak pundak yang sama dan arah hadap yang sama. Itu menjadi satu poin penting bagiku: Mereka sangat kuat berdiri atau berdiam diri.

Lihat selengkapnya