ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #11

Membunuh

Aku sudah pindah dari studio-utama ke studio-editing tanpa kendala berarti selain mesti manggul ransel. Membawa serta drone dan segala perkakasnya. Tidak ada makan-siang kali ini. Sebelum ada kepastian bahwa kantin jadi tujuan yang aman, aku masih harus menyisakan pecel ayam yang sudah sangat dingin untuk hari-hari berikutnya. Maka aku baru akan makan lagi malam nanti.

Sekarang, di siang hari yang panas ini aku harus kembali menerbangkan drone. Ini bukan hal yang baru. Aku biasa menerbangkan layangan waktu kecil dulu. Saking seringnya rambut hitamku perlahan bergradasi kuning keemasan. Siang ini sudah aku perhitungkan sebagai waktu yang tepat karena matahari sedang berada di atas kepala, sehingga meminimalisir bayangan yang terbentuk dari gedung atau pepohonan, sehingga gerak drone akan lebih leluasa.

Aku sudah menaruh drone di balkon luar studio tanpa memanjat jendela. Cukup membungkuk dari dekat bingkai besi ke luar jendela dan menaruh drone di sana. Aku duduk di atas kursi kerja yang aku hadapkan ke luar jendela, membuatku bisa melihat drone ketika baru lepas landas. Pemandangan langit, awan, dan atap-atap bangunan mulai terlihat. Kemudian asap-asap yang kemarin sore aku lihat sekarang justru semakin besar, banyak, dan kelam. Gumpalannya membumbung tinggi mengotori langit. Saat semakin meninggi, aku putarkan drone 360 derajat, ternyata gumpalan asap dan kobaran api terlihat di beberapa titik di setiap penjuru mata angin. Setidaknya ada 12 titik yang mengepulkan asap dan tujuh titik masih berupa kobaran api yang membakar lantai gedung-gedung dan rumah. Pasti lebih banyak lagi jika jarak pandang kamera bisa menangkap lebih jauh dan jernih. Aku arahkan drone melewati atap aula menuju kantin. Arah sorot kamera aku buat ke bawah.

Apa yang terlihat membuatku bergidik dan sempat mual lagi. Aku menguatkan diri. Mayat-mayat bergelimpangan di pavingblock area parkir. Ada sekitar dua puluh. Jika aku terbangkan drone lebih tinggi lagi tentu jumlahnya lebih. Bercak darah mengotori parkiran, dan kalau tidak salah, karena aku tak mau memastikan, ada banyak potongan tangan atau kaki di sekitar gelimpangan tubuh itu. Aku melihat beberapa gerakan di bawah pohon di samping lapangan futsal. Para penggigit berdiri di bawah bayangan pepohonan. Aku melihat lagi sekilas di samping gardu listrik, lalu di teras aula yang ternaungi bayangan. Aku menurunkan ketinggian drone untuk bisa melihat lebih detail keadaan di bawah. Para penggigit lebih banyak dari yang kukira. Mereka berdiri di bawah pohon dan bawah atap pinggiran aula dengan tubuh sesenggalan, ada juga yang seperti gemetaran sesekali. Salah satunya menyadari kehadiran drone di atas mereka, lalu mengerang. Sosok itu melangkah maju keluar dari tempat teduh, aku baru mau menjauhkan posisi drone darinya, tapi tidak jadi karena ternyata penggigit itu pun tidak jadi mengejar dan kembali mundur sesaat setelah kulitnya diterangi cahaya matahari diiringi erangan yang lebih nyaring, seperti jeritan.

Jeritan itu menarik perhatian penggigit lain di samping dan seberangnya. Gerak drone membuat mereka jadi sadar pula keberadaannya, mereka langsung melangkah sekali untuk keluar dari bayang-bayang pohon, diantaranya sempat melangkah dua kali tapi langsung balik lagi seiring jerit serupa. Sosok yang sempat melangkah keluar tadi wajahnya berubah seketika seperti menghitam dengan raut yang mirip orang menahan berak seminggu. Pemandangan itu membuat aku bahagia. Mereka tak kuat menahan sinar matahari. Aku langsung merasa peluang bertahan hidupku membesar lagi.

Aku semakin semangat menerbangkan drone. Mengarahkannya menuju kantin, melewati gedung BEM dan pinggiran kolam yang sering disebut danau. Aku melihat lebih banyak lagi penggigit di bawah pohon dan di gedung BEM yang hanya mampu mengerang dan menggerakan tangan ketika drone melintas dekat mereka. Aku merendahkan ketinggian drone agar tidak menabrak atap kantin, mendekati lapak kantin pertama dan melihat hidangan yang aku yakin sudah basi dikerubungi lalat. Tampilan ayam serundeng, ikan tongkol bumbu cabai, dan tahu toge, membuat perutku makin keroncongan. Memang bukan itu makanan yang aku incar, melainkan bahan baku yang ada di dapurnya.

Aku menghela nafas dulu sebelum menurunkan lagi ketinggian drone dan memutar kamera untuk mengetahui batas ruang yang cuku sempit. Jika drone ini menabrak dan jatuh, rusaklah pemetaannku. Drone merendah dan bergerak ke balik etalase makanan, dan tampaklah kompor, magicjare, ulekan, dan perkakas dapur lainnya. Di bawah meja terlihat seonggok karung yang aku anggap beras Maknyusss premium. Aku memutar arah hingga menyorot lemari pendingin yang masih bersuara. Ada sawi, daun bawang, dan keresek yang aku yakni berisi bahan makanan, serta puluhan botol air mineral dan minuman manis. Harapanku pun semakin nyata. Aku punya sumber kehidupan untuk bertahan lebih lama lagi sebelum bisa keluar dari sini atau seseorang menyelamatkanku. Aku masih berharap ada polisi, tentara, atau satpol PP yang ditugasi mencari orang yang selamat sepertiku. Sebelum itu terjadi, aku harus punya cukup makanan dan air.

Lihat selengkapnya