ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #12

Energi

Aku sudah membawa sepuluh genggam beras yang aku jejali ke dalam ransel. Berhitung cepat bahwa itu akan cukup untuk sepuluh hari. Aku sisir lapak-lapak kantin dengan cepat, mengambil apa saja dulu yang ada di kulkas, lemari bumbu, dan dapur, tanpa memeriksa dulu apakah masih layak atau sudah basi. Salah satu lemari malah berisi peralatan make up yang sepertinya milik karyawan kantin, reflek aku bawa juga. Suara erangan dari para penggigit yang melihatku terdengar dari pepohonan dekat danau, membuatku buru-buru. Setelah mengambil tiga botol air mineral yang masih berada di dalam kardus dan memasukannya ke dalam ransel dan memungut linggis di dekat kulkas kaca milik Sosro, aku langsung bergegas keluar dari area kantin menuju parkiran.

Aku berlari kecil menuju gedung utama. Memastikan langkahku menapak di bagian terang karena sinar matahari sepanjang parkiran. Linggis aku genggam dengan kedua tangan. Senjata baru yang lebih berat, tapi lebih mematikan, menurutku. Setelah membunuh penggigit barusan, ada rasa berani yang terbawa untuk melakukannya lagi. Hanya saja aku terus mengigatkan diri untuk tidak membunuh penggigit yang tidak menyerang atau yang aku kenal. Siapa tahu ada obat untuk wabah ini. Syukurnya keadaan di sekitar gedung utama masih sama. Tak ada penggigit di sekitar pintu.

Aku bergegas masuk dengan langkah lari berjinjit agar tak banyak suara. Aku langsung menapaki tangga menuju lantai dua dan terus meliku sampai di tangga lantai tiga. Penggit yang sempat melihatku di lantai empat sangat dekat dengan jalur tangga. Sosok itu melihatku lalu bergerak mengejar, membuatku tak lagi sanggup berjinjit karena harus menambah kecepatan. Suara derap kakiku bergema sepanjang jalur tangga. Membuat suara erangan terdengar semakin banyak dan nyaring. Aku tak peduli sejauh mana penggigit di lantai tiga mengejar, aku terus berlari. Lalu tiba-tiba lampu-lamput di lantai empat padam. Jalur tangga menjadi gelap. Kaki tersandung anak tangga, aku melambatkan langkah naikku. Napasku tersenggal senggal sambil berusaha terus naik tanpa melihat. Suara erangan di lantai lima mulai terdengar, sementara dari lantai tiga terus meraung-raung. Tubuhku memaksa otak untuk berpikir mengambil keputusan. Risiko, hambatan, dan peluang. Seketika aku turun, karena ancaman di bawah sudah aku ketahui, sementara peluangku untuk selamat sampai ke lantau tujuh mengecil, dan kemungkinan listrik kembali menyala adalah 50:50, karena pemadaman ini sangat mungkin terus terjadi karena kerusakan akibat tidak adanya teknisi PLN yang cukup.

Lihat selengkapnya