ZOMBLO APOCALYPSE

Agung Satriawan
Chapter #13

Sunset

Aku mesti menyeberangi jalan raya depan kampus lalu memanjat pagar untuk sampai di jalan tol, setelah melempar dulu ransel dan menyelinapkan linggis melalui celah pagar besi jalan tol. Kampusku sering disebut kampus pinggir tol, karena dari jalan tol Jakarta-Tangerang, gedungnya terlihat mencolok. Saat ini, keadaan jalan tol sangat asing. Mobil-mobil terlantar. Bus PPD, Mayasari, dan mobil-mobil pribadi terparkir di tengah jalan. Beberapa masih mengepulkan asap. Di jajaran sebelah kanan tampak lima mobil berdempetan karena tabarakan beruntun. Pintu-pintunya terbuka tanpa terlihat penumpang yang sudah pada keluar entah ke mana. Beberapa yang tak kuat aku lihat lama-lama masih ada mayatnya. Lukanya bukan akibat kecelakaan, melainkan luka gigitan.

Aku yakin jalan tol ini jalur yang aman bagiku untuk berjalan. Cahaya matahari siang tak terhalang gedung atau pepohonan. Ingin rasanya membawa mobil yang terbengkalai, tapi aku jijik. Beberapa mayat sepertinya mati sebelum sempat berubah. Beberapa wajah dan tangannya menghitam karena terbakar sinar matahari karena tak sempat bersembunyi, sebagaimana penggigit lain yang tak sempat mencari tempat berteduh di pinggir-pinggir jalan tol. Saat melewati pinggiran bus Mayasari AC34, sepasang tangan menggebrak kaca. Aku menjauh seketika. Penggigit di dalamnya mengerang-ngerang dan melotot ke arahku. Dia masih hidup, tapi tak tahu cara keluar dari bus itu. Aku tak berani menghitung jumlah mayat atau penggigit yang mungkin ada di dalamnya, aku buru-buru berlari menjauh.

Sebuah mobil menarik perhatianku. Masih ada yang bergerak dan bersuara di belakangnya. Tapi bukan manusia, melainkan ayam, eh, ayam. Iya. Benar-benar ayam. Sebuah mobil colt hitam bak terbuka dengan keranjang ayam broiler. Pikiranku langsung membayangkan ayam bakar. Kebanyakan sudah mati, tapi yang masih hidup lumayan. Naluri kuliner membuatku mengambil air mineral dari ransel lalu menyiramkannya ke beberapa ayam di beberapa keranjang, agar mereka tetap hidup sampai aku menyembelihnya nanti. Setelah habis dua botol, aku kembali ke dekat kabin.

Ada banyak noda darah yang sudah menghitam di kabin. Aku lihat kunci dengan gantungan bentuk gajah bertuliskan Thailand masih menggantung di lubang kontak. Aku coba putar tapi mesin tidak sampai menderu. Haya sampai suara,

CENGEGES...CENGENGES...CENGEGESAN...

Aku coba lagi

CENGEGES...CENGENGES...CENGEGESAN...BREMMMM....

Hatiku sangat senang mendengar deru mesin. Meskipun bau ayam, aku tak peduli. Aku masukan ransel dan linggis ke dalam kursi samping kemudi lalu duduk di balik kemudi dan menutup pintu. Aku oper pernseling kemudian memutar arah mobil ke barat. Tak peduli meski harus melawan arah, karena tak ada putaran di jalan tol. Lagi pula, kalau sampai berpapasan dengan mobil dari arah lain aku malah bahagia karena berarti masih ada kehidupan.

Lihat selengkapnya