Zona Zombie -Novel-

Herman Siem
Chapter #5

Lelap Dalam Nyata

"Plak ... Brug ..." tertutup terbuka duan jendela samping kanan.

Katanya tadi siang engsel yang lepas sempat di perbaiki Adul. Tapi kelihatannya daun jendela terlepas lagi dari kusennya.

Halaman samping kelihatan sekali terhampar luas gelap berselimut kabut putih pekat, tidak ada penerangan sama sekali hanya berpayung langit gelap.

Lorong panjang jalan diapit kanan kiri pintu kamar mulai tertutup rapat sejak dari sore, mungkin siempunya kamar mulai lelap termanjakan hangatnya selimut dalam baringan diatas kasur empuk.

Terasa sepi sunyi hanya kelihatan samar gelap cahaya penerangan yang menerangi seluruh ruangan.

Memang kalau di perhatikan rumah yang sekarang ditempati dan tinggali keluarga Gayatari terlihat dulunya bekas peninggalan orang belanda.

Terpampang masih banyak foto-foto hitam putih, mungkin foto itu adalah benar Kakek dan Neneknya Gayatri, Ayahnya Harja.

Foto itu terlihat begitu banyak sekali lelaki wanita tua dan muda berjejer berlapis berapa barisan tersenyum.

Apa mungkin mereka itu pekerja-pekerja yang bekerja pada Rusman. Tampak Rusman berfoto dengan orang tercetak pada foto usang. Apa benar, dulunya Rusman begitu banyak sekali tanah dan perkebunannya.

Dan mungkin juga benar ceritanya Adul, bila rumah yang saat ini ditempati Gayatri dan keluarganya, dulunya pernah terjadi pembunuhan masal, tidak tahu kenapa sebabnya.

Ada satu foto yang paling mencolok, seorang lelaki bertelanjang dada berdiri disamping Rusman disamping berdiri wanita cantik setelan kebaya biru. Tidak tahu siapa lelaki dan wanita itu, tapi rasa-rasanya lelaki itu seperti dikenal.

Apakah lelaki itu masih hidup atau sudah tiada. Mungkin bila dia masih hidup, mungkin dia bisa menceritakan kebenaran.

Sejak dari siang langit hanya terlihat gelap, serpihan awan bergumpal hitam makin merajalela menguasai langit semesta. Tidak sedikitpun memberikan kesempatan bagi sinar cahaya rembulan dan kedipan jutaan bintang untuk menyelenggarakan festival malam keindahan langit yang sesungguhnya.

Malahan malam gelap tersungguhkan aktraksi ribuan kelelawar terbang bebas dengan nyanyian suara bebasnya memekik diatas langit.

Setiap kali sinar cahaya rembulan malam ingin sekali menjadi arti tugasnya menerangi semesta, tapi lagi-lagi serpihan gerombolan awan hitam menghalanginya.

Menjadikan malam makin gelap, hanya terang cahaya terlihat dari setiap jendela rumah yang terlihat menyalah samar dari depan rumah.

Gelap samar tidak terlalu menerangi sekitar bangunan rumah. Serasa membisu terlelap setiap pemilik jiwa yang seharian terbawa senyuman raganya menikmati siang hari, kini dia terbaring tidur terbuai dalam mimpi.

Lihat selengkapnya