Zona Zombie -Novel-

Herman Siem
Chapter #6

Malam Kematian

Pintu kamar sudah terbuka, belasan zombie meringsek masuk kedalam kamar anak yang baru tumbuh jadi remaja cantik penghobi cerita seram zombie.

Geletakan begitu saja komik-komik horror aneka cerita seram zombie berceceran tidur bersama Jakira, tidurnya lelap sekali.

Semua zombie minggir, ketika menyelah belasan zombie ingin mencabik-cabik dan menggigit tubuh mungilnya Jakira sontak terjaga bangun.

"Uuahhhhh ..." teriak ketakutan Jakira.

Apa yang jadi hobinya Jakira selama ini mungkin sekarang nyata terjadi. Akan jadi kenyataan buat Jakira, siap-siap seluruh tubuhnya terkoyak tertular liur virus zombie.

Zombie wanita tua, satu matanya bolong dan satu mata bagian kirinya hanya bergelayutan urat saja hampir copot melompot. Ada bekas gigitan pada leher kanannya, wanita tua itu makin mendekat Jakira sontak terjaga bangun.

Terkejut Jakira makin ketakutan, tapi tidak percaya cepat merangkak berdiri menepi kesudut kamar.

"Mbok ...? Mbok Tuminem ...?" tubuh wanita tua yang kini telah jadi mayat hidup meringsek naik keatas ranjang disertai belasan zombie lainnya.

"Akhhhhhh ..." dua tangan gadis mungil itu mencoba mendorong Tuminem dan zombe lainnya makin kuat meringsek.

"Ayah ... Bunda ..." mungkin itu jadi teriakan terakhirnya Jakira seluruh bagian tubuhnya tercabik oleh belasan tangan seramnya zombie.

"Akhhhhh ..." darah segar muncrat dari leher ketika gigitan tajam gigi Tuminem mendarat dileher Jakira.

Terjaga bangun Ardi, adik lelaki bungsu mungkin mendengar teriakan Jakira dari kamar sebelah.

Bingung bercampur ketakutan makin bikin mencekam suasana kamar yang sepi dan sunyi.

"Jakira?" guman ketakutan raut wajahnya mulai kecut ketakutan.

"Kreekkk ..." makin bikin ketakutan Ardi saat pintu terbuka sendiri.

Sepi kelihatan samar cahaya didepan pintu kamar, ada rasa takut makin mengerut wajahnya. Tapi dua kakinya malahan membandel mengajaknya turun dari atas ranjang.

Dua telapak kaki sontak menyelam kedalam sandal selop hitam lalu di ajaknya berjalan kedua kaki Ardi lengkap mengenakan piyama biru tua lengan panjang kearah pintu.

"Dagg ... Duggg ..." mungkin itu suara deguban ritme jantung Ardi makin terdengar kencang.

Buliran peluh mulai muncul dari balik kulit ari wajahnya makin ciut ketakutan. Hatinya tidak ingin mendekati pintu, tapi sejak dari tadi dua kakinya terus mengajaknya.

"Jakira? Jakira ..." guman dan memanggil pelan suaranya Ardi.

Dirinya malahan berhenti ditengah-tengah antara keluar dan masuk dalam kamar, Ardi tidak berani keluar.

Padahal udara sangat dingin sekali malam itu, tapi rasa ketakutan mencekam makin bikin nyalinya ciut. Sontak saja bulir-bulir peluh makin asyik riang bermain di wajahnya Ardi pucat tegang dan ketakutan.

Lihat selengkapnya