"Klotak ... Klotek ..." slot grendel masih kuat mengunci pintu sejak dari tadi juga handle pintu cuman bergerak naik turun.
Kini tertelengkup tidurnya makin lelap, bantal guling sudah terjatuh dilantai mungkin kedinginan tidak dipeluk lagi.
Tetesan air jatuh dari atas plapon yang bocor mengenai wajah cantiknya Gayatri tapi tetap saja makin pulas tidurnya.
Belasan, bahkan puluhan zombie sudah ada didepan pintu kamar. Lorong kamar makin terasa sesak dengan hiruk pikuk para zombie macam aneka wajah seramnya.
"Blug ... Blug ... Blug ..." hentakan kepalan tangan makin menghujam daun pintu agar terbuka.
"Srettt ... Srettt ..." belasan pasang kuku tajam zombie mencakar menyisahkan pada daun pintu.
Wajah seram para zombie, bibir berlinangan darah dengan dua mata tajam menyorot ingin membuka paksa pintu kamar masih terasa kokoh kuat terkunci dari dalam.
Seakan ingin membelah jalan dengan tarikan dua tangan Tuminem membuat minggir dan terjatuh belasan zombie dilorong.
Seraya memberi jalan puluhan zombie minggir dua tangan mereka seraya mencakar-cakar ketika Tuminem, Intan, Harja, Ardi dan Jakira, mereka kesemuanya sudah tertular liur virus zombie.
Seram wajah para zombie, pucat wajahnya, pakaiannya compang-camping kumal dengan tatapan tajam dua mata menghitam menyorot pada pintu.
"Buggg ... Buggg ... Buggg ..." makin kencang suara gedoran tangan-tangan dua adik yang kini wajahnya makin terasa sangat menakutkan sekali.
"Huhhhhh ...!" mengerang suara masih penuh bercak darah terdengar marah menarik dua anaknya mundur kebelakang.
"Buggg ... Buggg ... Buggg ..." wajah seram penuh luka sekujur tubuh Harja, dengan kepalan dua tangannya terus menggedor pintu.
Begitu juga dengan tatapan sinis, tidak adalagi rasa kasih sayang yang tumbuh pada seorang Intan, dimana dirinya dulu begitu sekali lembut penuh belaian kasih sayang pada Gayatri.
Tatapan wajah seram seluruh tubuhnya masih berlumuran sisa bercak darah pucat, mungkin itu bekas gigitan para zombie lainnya sudah mengularkan virus kedalam tubuhnya.
"Buggg ... Buggg ... Buggg ...!" makin kencang gedoran pintu.
Bukan hanya Harja dan Intan saja, tapi dua anaknya kini juga merka ikut menggedor pintu lagi seraya membangunkan Kakaknya terlalu lelap tidurnya didalam kamar.
"Huhhhhhhh ..." sontak mengerang semua zombie makin ingin meringsek masuk kedalam kamar.
Karena masih ada satu korban lagi yang mereka juga ingin sekali gigi-gigi mereka ingin menggigitnya.
"Sreeettt ... Sreetttt ..." kuku tajam mencakar dinding luar kamar.
"Brak ... Brak ... Brak ..." belasan zombie benturkan punggung belakangnya pada dinding luar kamar.