"Prang" kepala zombie di benturkan pada pintu sebagian kaca.
"Prang" lagi-lagi karena ingin masuk sebagian zombie memecahkan kaca jendela dengan kepala mereka, sontak saja darah segar berceceran dilantai.
Pintu berhasil dibuka, semua zombie yang tadi masuk dari samping jendela dan zombie yang baru terlahir keluar dari dalam tanah kini, mereka bisa leluasa masuk lewati pintu depan.
Tapi ada masih ada belasan zombie berusaha merayap merangkak naik dinding tembok keatas jendela kamar. Yang zombie itu adalah kamar Gayatri, tapi zombie-zombie itu terjatuh lagi.
Dihalaman depan rumah bentuknya kini makin tidak beraturan dan tidak terlihat indah lagi.
Tadinya hamparan hijau rumput kecil terlihat indah memanjakan mata, ini hanya lobang-lobang besar tersisa bekas tidurnya panjangnya para zombie.
Apa mungkin benar, semua zombie itu dulunya adalah pekerja yang jadi korban pembunuhan masal. Atau hanya cerita belaka saja, tapi kenyataannya.
Kini kebenaran cerita rumah makin terkuak nyata. Rumah yang hanya berawal dari cerita takhayul, pernah terjadinya pembunuhan masal.
Makin mulai membuat Gayatri harus percaya dengan bangkitnya para zombie-zombie gentayangan.
Tembok tinggi mengelilingi rumah dengan hamparan luas tanahnya, yang kini hanya terlihat lobang-lobang berceceran tanah. Makin terasa kental aura mencekamnya bertaburan gelap malam tiada kedipan bintang.
Begitu juga pintu gerbang tinggi, seakan membuat terkurung puluhan zombie tidak bisa keluar dan berlari kemana-mana.
Tentu saja membuat para zombie leluasa masuk kedalam rumah, karena didalam rumah itu masih ada gadis cantik. Karena gigi-gigi tajam dan agresipnya mereka ingin sekali menggigitnya.
"Akh ... Akhhhhhhhh ..." makin ketakutan Gayatri.
Kamar makin disesaki para zombie mengacak-acak seluruh perabotan. Harja menarik kursi dan Intan segera naiki kursi, dua tangannya mulai mencakar-cakat kedua kaki Gayatri tersisa bekas cakaran menjuntai terduduk ketakutan diatas atap lemari.
"Bunda! Bunda ini aku? Aku Gayatri!" dua tangan berkuku tajam seraya tuli tidak peduli dengan ketakutan Gayatri makin tersudut ketakutan mau lari kemana lagi.
Sorot mata tajam Intan seraya ingin menggigit anaknya itu, yang kini dia sendirian tercekam dalam ketakutan.
Gayatri bingung hendak lari kemana lagi, karena para zombie sudah meringsek masuk kedalam kamar. Hanya ada rasa sedih dan bingung raut wajahnya melihat orang-orang yang di kenalnya, kini mereka sudah jadi zombie berhati buas bak binatang ganas.
"Ayah. Ini, ini aku!" terdiam Harja menatap Gayatri sedikit tersenyum bercampur sedih.
Dua tangan Intan, berhenti sebentar tidak mencoba mencengkram lagi. Kini juga dua mata Intan sesaat berubah seperti mata manusia pada umumnya.
Terrsenyum Intan menatap ketakutan kesedihan Gayatri pelan-pelan dua kaki duduknya bergeser kearah Ibunya masih berdiri didepan lemari diatas kursi.
"Uahhhhhh ...." sontak terkejut Gayatri ketika dua tangan Intan mencengkram dua kakinya.
Senyuman Intan hanya belaka palsu saja, dia hanya ingin memancing Gayatri melunak hatinya. Merontah berusaha dua kakinya terlepas dari cengkraman dua tangan Ibunya, yang kini daya ingatnya telah hilang sebagai Ibu yang dulu pernah begitu sangat sayang sekali pada Gayatri.