Zona Zombie -Novel-

Herman Siem
Chapter #10

Sesaat Bisa Selamat

"Dugg" karena gelap bikin wajahnya Gayatri terbentur lagi tiang kayu kaso berdiri tegak di depannya.

"Hahhh!" kesal menahan sakit.

Menoleh kebelakang wajah ketakutan, sejak dari tadi mereka berdua hanya merangkak berputar-putar diatas uwungan atas atas rumah.

Apalagi Gayatri mau selamatkan dirinya kemana, dirinya hanya bisa menghindari kematian yang sejak dari tadi mengejarnya.

"Gua, harus cepat menghindar dari Ayah. Kalau ngak, gua bisa benaran mati konyol," guman pelan-pelan merangak jalan. Tidak sengaja tangan kanannya pegang kayu kaso ukurannya cukup besar.

"Hahhh ... Hahhhh ..." mengerang setengah tubuhnya Intan sudah terlihat diatas, dua tangannya menahan atap reng kayu kaso.

Sempat Harja melirik seraya ada panggilan zombie lainnya akan menemani dirinya buat memburu mangsanya, yang mungkin kini dia makin terdesak ketakutan.

Seketika dua kaki Intan mengayun dibawah menendang belasan zombie terjatuh dan sudah menarik tubuhnya naik keatas plapon.

Tatapan gelap dua mata Intan perhatikan dalam uwungan atap plapon yang gelap saja.

Intan merangkak jalan, bak katak melompat pendek seraya sedang mengejar buruannya.

Lalu dia berhenti diatas genteng yang terbuka, lalu dua tangannya berapa kali membenturkan pada genteng.

"Brug ... Brug ... Brug ..." berapa genteng pecah berhamburan serpihannya mengenai wajah Intan seakan kuat kebal tidak merasakan sakit.

Atas uwungan atas plapon kini sudah terang dengan masuknya cahaya sinar rembulan malam, walau tidak terang. Makin ketakutan Gayatri saat dua pasang mata zombie mengarah padanya.

"Hahhh ... Akhhhhhh ..." benaran saja kali ini dirinya ketakutan makin kencang merangkaknya.

Sorotan dua mata Harja dan Intan makin tajam dan jelas melihat buruannya ada didepan mereka terus merengkak.

Gayatri makin ketakutan, wajahnya makin disayangi dengan bulir peluh yang bermain asyik sekali jatuh mendarat meluncur kelehernya.

"Akhhhhhh ..." makin ketakutan dan makin cepat Gayatri menghindari Ayah dan Ibunya.

Mereka berdua makin tidak sadar, bila yang sedang jadi buruan mangsanya adalah anak kandungnya sendiri.

Hanya berputar-putar diatas uwungan atas plapon, mereka bertiga seperti main kejar-kejaran yang tidak tahu dimana akhir finisnya.

Masih pegang kayu kaso tangan kanannya, makin terasa sakit dua tumit kakinya mencium serpihan pecahan genteng.

"Pergi! Pergi kalian!" sambil menimpuki pecahan genteng kewajah dua zombie.

Lihat selengkapnya