Zona Zombie -Novel-

Herman Siem
Chapter #12

Dua Cowok Tampan

Wajah sedih kini mendarat beralas dua tangan bersila diatas dua tumit kaki setengah menyilang.

Bikin rintik tetesan air mata jatuh dari dua sela pangkal paha putih, masih mendarat wajahnya beralas lipatan dua tangan.

"Apa karena gua ngak percaya cerita itu?" guman dalam hati Gayatri makin sedih ada rasa sesal.

Benar saja wajahnya sudah sembab basah, ketika tidak lagi mendarat pada lepitan dua tangannya. Berapa kali dua tangannya menyeka rintik air mata agar tidak terus melulu membasahi wajahnya.

"Kasihan Bunda, Ayah, Ardi dan Jakira," beranjak bangun berbalik kearah jendela.

Sedikit disingkap tirai jendela agar tidak memancing datangnya para zombie. Halaman rumah yang gelap hanya terlihat berjejer berdiri puluhan zombie seraya sedang tertidur sesaat.

Makin sedih, makin bingung dalam hati sampai mengular pada wajahnya Gayatri, bila dirinya benar-benar terkurung dalam zona zombie.

"Gua, harus kemana? Gua, ngak bisa kemana-mana?" guman lagi, padahal ponsel sudah ada dalam saku celana pendek hitam kirinya.

"Gua, harus minta tolong sama siapa?" guman lagi makin lupa Gayatri.

Tapi kali ini malahan tangan kirinya merogoh saku celana kirinya, wajahnya mulai sedikit tesenyum menahan sedih ketika tangan kirinya sudah pegang ponsel.

Sambil terduduk diatas ranjang, jari lentik tangan kirinya mulai mainkan menscrol layar ponsel.

Kelihatan cahaya menerangi wajah Gayatri, hatinya mungkin ingin sekali cepat bisa bebas selamat dari rumahnya yang kini jadi sarang zombie.

"Baik, baik Pak. Saya segera meluncur kealamat rumah itu," sahut Lukas sedikit tersenyum pada sinar cahaya rembulan malam walau masih terhalangi serpihan awan hitam di depanya.

"Syukurlah genangan air sudah surut," guman Lukas sudah duduk diatas sadel jok motor sambil masuk ponsel kedalam saku celananya. Sekilas indicator batrenya kekihatan makin menipis.

Mungkin barusan dirinya mendapatkan kabar dari seseorang memberitahukan, bila menuju Jalan Ujung Lembah sudah surut tidak lagi tergenang air.

Berapa jam dengan sabarnya Lukas menunggu saja sejak dari tadi ditepian jalan yang tidak jauh dari genangan air.

Mungkin karena dirinya punya tanggung jawab penuh sebagai kurir, harus tetap mengantarkan barang pesanan.

"Gua, harus cepat anterin paket itu. Mungkin aja dia berharap bangat kalau paketnya segera diterima," tersenyum bulat kini wajah tampan Lukas sambil tangan kirinya menekan tombol otomatis motor matic terdengar suara mesinnya rada bising.

"Breekbek ... Breekbek..." makin sisa air dalam knalpot bikin motor suaranya jadi begitu.

Motor berjalan mengajak senyuman kepastian kurir tampan akan segera mengantrakan paket pada penerimanya. Mungkin dia sangat berharap sekali bisa cepat menerima paket pesanannya.

"Baik, baik Gaya. Aku segera kesana," jawab Bayu.

Lihat selengkapnya