Zona Zombie -Novel-

Herman Siem
Chapter #15

Ketakutan & Cemburu

Sorot cahaya lampu motor mati, tidak lagi menerangi jalan. Bayu baru sampai didepan pintu gerbang rumah pacarnya itu.

Helmnya dibuka, lalu di letakan saja pada sadel jok motor semuanya sudah basah, mungkin tadi melewati genangan air.

Dua mata menatap bingung bercampur cemas, hanya sepi hening mencekam berselimut kabut.

Kelelawar masih berterbangan diatas rumah seraya menutupi menutupi sinar cahaya rembulan malam.

Banyak galian lobang dan tumpukan tanah tidak beraturan sepanjang halaman rumah.

Sobekan potongan bungkusan paket tidak menentu letaknya, semakin bikin curiga dua mata masih menatap dan hanya berdiri saja didepan pintu gerbang tinggi.

Pintu utama di biarkan begitu saja terbuka. Cahaya terang sempat terlihat diatas jendela atas.

Makin berkutat bingung, makin ada rasa kegelisahan yang sengkarutmarut menyambangi relung pikiran pacarnya Gayatri.

Padahal tadi sempat dirinya bisa berkomunikasi dengan pacarnya itu, tetapi kenapa sekarang dirinya hanya di pertontonkan festival gratis keanehan saja berlatar belakang gelap mencekam itu.

"Gaya?" pelan panggilan terdengar.

Tatapan kebingungan dua mata seakan tidak ingin terlepas dua tangan penuh kegelisahaan. Serasa makin mencengkram lekukan besi-besi basah dan berkarat pintu gerbang rumah.

"Ada apa ini?" guman jelas suara Bayu makin bingung.

"Bekas apa lobang-lobang itu? Kenapa banyak sekali?" tanya sendiri terucap tapi tidak ada yang menjawabnya.

"Gaya ..." berteriak tapi suaranya terbawa angin dan tidak terdengar.

Mungkin dirasa makin aneh dan makin curiganya Bayu, kini dua kakinya melangkah naik bebas sekali, tidak seperti tadi Lukas.

Dia harus mengoper dan mengecoh zombie-zombie dengan harus berkorban paket-pekat yang pastinya dia akan menanggung semua kerugian itu.

Bayu sudah berpindah, kini dirinya terlihat sudah ada dibalik dalam pintu gerbang. Motor besar warna hitamnya di biarkan saja menunggu didepan sendiri dalam gelap dan dingin berkabut.

Sudah mendarat dua kaki pacarnya Gayatri diatas tanah becek basah, yang katanya itu bekas kuburan masal pembunuhan.

Berat ragu kakinya melangkah, hanya samar cahaya sinar rembulan malam menerangi derap langkah Bayu terhenti.

Hamparan lobang-lobang tanah, tercecer basah sisa tanah diatasnya sedikit mengunduk.

Kabut putih pekat, makin terasa bikin hatinya was-was sempat berapa kali terhenti langkahnya berdiri perhatikan lobang-lobang.

"Kayak lobang kuburan?" guman penasaran tapi hatinya terhantui rasa takut.

Bayu putarkan dirinya, hampir semua halaman berlobang. Dua matanya tertujuh curiga, ketika melihat banyak sekali peningglan ratusan jejak kaki yang tidak beraturan.

Lihat selengkapnya