Sedikit mengintip dua mata Gayatri dari balik celah pintu, semua zombie masih terasa sibuk sekali. Mereka masih berebutan buka kotak paket, yang lagi-lagi isinya hanya jepitan rambut dan kaca mata hitam.
Tersenyum raut wajah gadis yang kini dirinya diapit dua cowok tampan, ketika melihat jepitan rambut warna merah muda di sematkan pada rambut Jakira, adiknya oleh dua tangan makin memucat Ibunya.
Bergaya zombie lelaki setelah memakai kaca mata hitam, lalu laganya seperti penyanyi pop terkenal luar negeri. Dengan lincah gerakannya persis sekali, seraya sedang konser dihadapan banyak penonton bertepuk tangan terpancing ikuti gerakan tanpa music.
Tapi tidak pada sebagian zombie yang masih sibuk sekali berebutan, dorong-dorongan hinggah sampai terjatuh dan bertumpuk perebutkan potongan tangan. Tentu membuat mual Gayatri kembali pelan-pelan tutup pintu dan mendorong sedikit ranjang agar tetap menghalangi.
"Gaya, tadi loe kenapa? Gua dengar loe kayak panggil seseorang saat ada dibawah?" dirasa sudah pas lemari berdiri dibawah atas plapon yang bolong, kemudian Lukas mendekati Gayatri.
Masih ada rasa cemburu yang makin bikin hatinya Bayu tidak tenang, kalau-kalau pacarnya itu akan terpancing rayuan atau bujukan kurir tampan.
"Tadi kalau aku ngak salah dengar, kamu manggil Mang Adul?" tidak mau kalah perhatiannya Bayu juga berdiri disamping sisi kanan Gayatri tersenyum melirik Lukas yang berdiri disamping kirinya.
Kamar sudah tidak beraturan bentuk posisi furniture, mungkin bukan kapal pecah yang mendarat dalam kamar pemilik nama Gayatri itu. Tapi karena keadaan dirinya, yang kenapa tidak percaya pada takhyul dan sampai membangunkan mimpinya dari tidur sudah terkurung dalam rumah zona zombie.
"Iya, tadi aku sempat melihat Mang Adul," sambil mengelus foto menjawab.
Lukas ikut perhatikan foto berukuran kecil terbalut frame kayu warna coklat tua, fotonya saja masih hitam putih.
Tampak berdiri barisan paling depan Tuan Elmo, Laminten, Rusman dan Adul berlatar belakang rumah tua bergaya belanda, rumah yang saat ini sudah jadi zona zombie. Berjejer berdiri setengah melingkar, kelihatan tiga barisan, mungkin itu para pekerja sambil pegang alat pertanian.
"Ini Tuan Elmo, dia orang belanda. Dia sangat baik sekali, dia begitu sangat baik sekali pada semua pekerja. Pernah Bunda bercerita, saking percayanya Tuan Elmo sama Rusman, Kakekku. Sampai Tuan Elmo memberikan rumah dan tanah yang luas ini pada Kakekku. Tapi setelah itu kata Bunda, Tuan Elmo lenyap begitu saja hilang, bak ditelan bumi. Begitu juga Kakek, meninggal secara misteri begitu saja. Kakek di temukan tewas tergeletak didepan halaman rumah," sambil mengelus foto tangan kanannya Gayarti melirik senyuman pada pacarnya.
"Perempuan itu siapa dan lelaki itu siapa?" telunjuk tangan kanan Lukas menyentuh foto masih terbungkus kaca.
"Ini Mang Adul. Orang kepercayaan Kakek. Dan ini Nenek, istrinya Kakekku. Nenek juga katanya mati ngak wajar. Cuman Mang Adul masih tinggal dan ikut bersama kami. Mang Adul yang masih hidup dan dia yang tahu gimana kejadian masa lalu. Tapi kadang Mang Adul cuman bikin nakutin doang dengan cerita-cerita dia. Kalau ruamh ini dulunya pernah terjadi pembunuhan masal dan banyak mayat-mayat di kuburkan disini juga," frame foto kini diletakan saja pada meja bersamping dengan ponsel yang sebentar lagi akan terisi penuh energi batrenya.
"Apa Mang Adul yang membunuh Tuan Elmo, Nenek dan Kakekmu, Gaya?" tanya Lukas sedikit curiga dari raut wajahnya.