"Begitu rendahnya Kakekmu, Gaya. Sampai dia rela dan sebegitu rendahnya mengadai'kan kesetiaan cinta Laminten, Nenekmu dengan rumah dan segudang hartanya Tuan Elmo," dua bola mata hitam Adul hanya menatap menahan marah kesalnya Gayatri.
"Tapi tidak seharusnya Mang Adul membunuh mereka semuanya!" beranjak bangun dua tangan Gayatri sudah kesetanan akan mencengkramnya.
"Gaya!" refleks Bayu beranjak bangun menarik gaya sedih memeluk.
Sedikit menahan cemburu Lukas hanya terduduk menonton festival dua insan, yang lagi-lagi bikin hatinya tertahan cemburu buta. Pelukan hangat dan sapuan hangat telapak tangan Bayu mendarat diwajah buat menyeka kesedihan pacarnya itu.
"Saya menyesal, Gayatri. Benar rumah ini pernah terjadi pembunuhan masal karena racun yang sudah di campurkan itu. Dan seluruh tanah dan rumah, semua itu benar terkubur mayat-mayat yang tewas karena kemarahan saya pada Kakekmu. Semua itu saya yang membunuh dan saya juga yang menguburkan semua mayat-mayat mereka," menyadari kesalahannya Adul makin menyesal.
Mungkin para zombie baru dengar dan sadar, kenapa mereka bisa jadi mayat hidup sekarang. Pengakuan Adul tentu memancing kuping para zombie makin mendekat dan meringsek berdiri mengelilingi paviliun.
Wajah seram, puluhan pasang tangan mengerang ingin mencakar dan mungkin ingin mengoyak tubuhnya Adul.
Sinar rembulan malam mulai terlihat terang, sebagian gumpalan awan hitam kini menerangi paviliun yang di dalamnya masih terdengar pengakuan bersalah dan penyeselan.
"Terlambat sudah Mang Adul menyesali perbuatan keji itu. Sekarang semua zombie-zombie itu, mereka tidak mau tahu dan pastinya zombie-zombie itu akan tidak membiar'kan kita hidup bebas," pelukan terlepas dari dua tangan Bayu berdiri dihadapan Adul masih terduduk.
Sontak terkejut Gayatri saat menyingkap tirai jendela, diluar sudah berdiri Tuan Elmo, Laminten dan Rusman, mereka juga sudah jadi zombie.
Mungkin mereka bertiga baru bangkit dari kematian hanya untuk menuntut balas dendam pada Adul.
"Kakek, Nenek?" guman ketakutan mundur Gayatri.
"Itu Rusman, Tuan Elmo dan Laminten Nenek kamu, Gayatri." sahut Adul beranjak bangun malahan dirinya berdiri dibalik jendela.
"Mang Adul!" hampr leher Adul tertarik keluar.
Cepat ditarik mundur kebelakang oleh Lukas, Adul hanya terdiam wajahnya layu berat menyesal karena rasa sesalnya.
"Mang Adul, jangan merasa bersalah lantas pasrah begitu aja!" sambung Bayu melirik Gayatri mungkin tidak sependapat dengan cowok ganteng itu perlakukan Adul.
"Biarin aja Mang Adul mati! Dia sudah ngebunuh Kakek dan Nenek!" kesal sontak dua tangan Gayatri menarik mundur Lukas dan Bayu.
"Gaya!" tidak lagi dua tangan Gayatri mendorong Adul makin dekati jendela terbuka.