Blurb
Dua puluh tahun yang lalu, ia meninggalkan lelaki yang paling mencintainya.
Bukan karena cintanya kurang. Justru karena cinta itu terasa terlalu rapuh untuk menghadapi dunia. Ia memilih masa depan yang lebih pasti, menikah dengan pria yang mampu memberinya kehidupan yang nyaman, tetapi tak pernah benar-benar mampu menyentuh hatinya.
Ketika pernikahan itu berakhir, ia menyadari bahwa rumah yang selama ini ia bangun hanyalah bangunan tanpa kehangatan.
Lalu ia mulai mencari lelaki yang pernah ditinggalkannya.
Namun jejaknya telah lenyap.
Tak ada alamat.
Tak ada nomor.
Tak ada kabar.
Seolah waktu telah menenggelamkannya.
Dalam pencarian yang tak berujung, ia berpindah dari satu hubungan ke hubungan lain, berharap menemukan seseorang yang dapat mengisi ruang kosong di dalam dirinya. Sampai suatu hari ia bertemu seorang lelaki yang memiliki senyum, tatapan, dan cara diam yang mengingatkannya pada cinta pertamanya.
Namun semakin dekat ia dengannya, semakin ia bertanya:
Apakah ia sedang menemukan seseorang...
atau hanya tenggelam semakin jauh di dalam kenangan?
I Jump Alone Into The Sea adalah novel puitis tentang cinta yang datang pada waktu yang salah, harga dari sebuah pilihan, dan perjalanan pulang menuju diri sendiri—ketika orang yang paling sulit ditemukan ternyata bukan kekasih lama, melainkan diri yang pernah berani mencintai.
Premis
Seorang perempuan meninggalkan lelaki yang paling mencintainya karena percaya cinta tidak cukup untuk membangun masa depan. Ia memilih kehidupan yang lebih mapan.
Namun, kehidupan yang dipilih ternyata hanya memberi keamanan, bukan kehangatan.
Bertahun-tahun kemudian, setelah pernikahan yang gagal, ia menyadari bahwa satu-satunya tempat yang selalu ingin ia pulang sudah lama hilang.
Yang ia cari bukan lagi lelaki itu.
Yang ia cari adalah dirinya sebelum ia mengambil keputusan tersebut.
Karakter
Pada usia dua puluh tiga tahun, Aruna percaya bahwa cinta tidak cukup untuk mengalahkan kenyataan. Ia meninggalkan Kai, lelaki sederhana yang mencintainya dengan seluruh hidupnya, demi mengejar masa depan yang lebih menjanjikan. Baginya, keputusan itu bukan pengkhianatan, melainkan keberanian untuk bertahan hidup.
Beberapa tahun kemudian, Aruna menikah dengan seorang pria yang mapan, baik, dan bertanggung jawab. Dari luar, hidupnya tampak sempurna. Namun di balik rumah yang nyaman dan kehidupan yang teratur, pernikahan mereka perlahan berubah menjadi hubungan tanpa kehangatan. Mereka saling menghormati, tetapi tidak pernah benar-benar saling memiliki. Ketika perceraian akhirnya terjadi, Aruna sadar bahwa ia telah kehilangan lebih dari sekadar sebuah pernikahan.
Untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun, ia mencoba mencari Kai.
Namun semua jejak lelaki itu telah menghilang. Nomor teleponnya tidak lagi aktif. Rumah lamanya telah dihuni orang lain. Teman-teman yang mengenalnya tak lagi tahu ke mana ia pergi. Seolah lelaki itu ditelan waktu, menyisakan kenangan yang tak pernah benar-benar mati.
Dalam kesepiannya, Aruna mencoba membuka hati kepada beberapa pria yang datang silih berganti. Ada yang menawarkan gairah, ada yang menawarkan rasa aman, ada pula yang menawarkan masa depan. Tetapi setiap hubungan hanya membuatnya semakin sadar bahwa ia terus membandingkan mereka dengan seseorang yang telah lama hilang.
Hingga suatu hari, ia bertemu seorang lelaki asing yang memiliki senyum yang sama, kebiasaan yang sama, bahkan cara memandang laut yang mengingatkannya pada Kai. Pertemuan itu membangkitkan harapan yang telah lama terkubur, sekaligus memaksanya menghadapi pertanyaan yang selama ini ia hindari:
Apakah yang ia cari benar-benar seorang lelaki?
Ataukah ia sedang mengejar bayangan dari kehidupan yang tak pernah sempat ia jalani?
Melalui perjalanan yang membentang dari kota-kota asing, hubungan-hubungan yang tak pernah benar-benar utuh, dan kenangan yang terus memanggilnya kembali ke masa lalu, Aruna akhirnya memahami bahwa penyesalan bukanlah sesuatu yang harus dihapus, melainkan sesuatu yang harus diterima.
Di tepi laut, tempat semua perjalanan seolah berakhir, ia menyadari bahwa dua puluh tahun lalu ia memang meninggalkan seseorang. Namun yang sesungguhnya tertinggal bukanlah lelaki yang pernah dicintainya.
Melainkan dirinya sendiri.
Dan pada akhirnya, setiap orang memiliki lautnya masing-masing—tempat untuk melompat sendirian, bukan demi mengakhiri hidup, melainkan untuk berdamai dengan semua kehilangan yang tak pernah bisa dikembalikan.