Blurb
Lurah Dua Ratus Juta" bercerita tentang Kardi, seorang pria biasa yang ingin jadi lurah di desanya. Demi menang, ia habiskan uang ratusan juta untuk membeli dukungan warga. Namun setelah terpilih, gaji kecil dan tekanan membuatnya frustasi. Ambisi yang dulu tampak mulia berubah jadi jalan menuju korupsi dan penjara.
Sebuah kisah satir tentang kekuasaan, uang, dan cita-cita yang salah arah.
Premis
Kardi, pria desa yang hidup sederhana dan dikenal jujur, memiliki mimpi besar membawa perubahan bagi desanya yang tertinggal. Dengan niat awal yang tulus, ia mencalonkan diri sebagai lurah. Karena kurang dikenal dan terdesak kebutuhan biaya kampanye, Kardi tergoda menggunakan uang untuk membeli simpati warga. Ia pun terpilih menjadi lurah.
Namun setelah menjabat, Kardi dihadapkan pada kenyataan pahit: jabatan tidak membawa kekayaan, sementara tuntutan warga, tekanan politik, dan hutang kampanye terus menghimpitnya. Perlahan, idealismenya runtuh. Demi menutupi kekurangan dan mempertahankan kekuasaan, Kardi terjerumus dalam praktik korupsi.
Kebenaran akhirnya terungkap. Kardi ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman penjara. Di balik jeruji besi, ia mengalami titik terendah hidupnya. Rasa penyesalan, kehilangan kepercayaan warga, dan kesadaran atas kesalahannya menjadi awal perubahan batin Kardi.
Setelah bebas dari penjara, Kardi kembali ke desa sebagai sosok yang berbeda. Me
Karakter
Kardi, pria sederhana dari Desa Sukamaju, merasa hidupnya selalu diremehkan. Suatu hari di warung kopi, ia mendengar kabar bahwa lurah lama akan pensiun. Dari obrolan santai itu, lahirlah niat nekat — Kardi ingin mencalonkan diri jadi lurah.
Namun untuk dikenal warga, Kardi harus punya uang. Demi kampanye, ia menggadaikan motor, menjual sawah, bahkan meminjam dari rentenir. Janjinya manis, programnya ambisius, dan uangnya deras — membuat warga berpaling padanya.
Kardi menang. Ia resmi jadi lurah. Tapi semua berubah ketika kenyataan datang: gaji kecil, utang menumpuk, dan warga yang tak henti menuntut.
Dalam tekanan dan rasa malu, Kardi mulai menyalahgunakan dana desa.
Awalnya kecil, lalu makin besar — hingga Rana, wartawan muda, mulai mengendus kebusukan di balik jabatan barunya.
Kisah ini bukan sekadar tentang politik, tapi tentang ambisi, uang, dan harga diri.
"Lurah Dua Ratus Juta" menggambarkan bagaimana mimpi bisa berubah jadi malapetaka ketika niat baik dibungkus dengan keserakahan.