Karakter
Sandi adalah pemuda dengan gejala fobia sosial, salah satu bagian dari gangguan kejiwaan dimana ia akan takut, gugup ataupun cemas jika bertemu dengan orang, bahkan dengan orang yang sudah dikenalnya sekalipun. Sandi bercita-cita ingin menjadi sutradara video klip musik yang mendunia dan berprestasi, modal untuk itu ada, Sandi adalah pemuda yang berbakat yang dapat membuat ide video klip hanya dengan membayangkan karyanya di kepalanya saja, tapi ketakutannya pada orang lain menghambat bakatnya.
Suatu saat ia dijodohkan dengan adik kelas sang kakak, namanya Dian Nurhayati, tapi rencana pernikahan mereka dibatalkan, hanya karena saat acara lamaran Sandi mengurung diri di kamar karena takut bertemu saudara serta besan, bukan hanya saudara dan besan dari Nurhayati, tapi juga saudara dan besannya sendiri.
Selama acara besanan, Sandi bersembunyi di sebuah gubug di sawah, ia pergi menggunakan sepeda motor ayahnya, Slamet, untuk pergi ke sawah sepi sekitar beberapa kilometer dari rumah Sandi, Sandi sudah menghilang dan pergi ke sawah dua hari sebelum acara lamaran dimulai, akibatnya Slamet harus bekerja naik angkot, hal itu pun membuat Toha, kakak Sandi, kesal setengah mati dengan Sandi, apalagi Slamet mengatakan bahwa ia harus pulang jalan kaki karena tidak tahu cara menggunakan gojek dan ojek sedang sepi serta sudah tidak ada angkot atau bis di jam sore di daerah antara kantornya dengan rumah.
Setelah pulang Sandi dihajar Toha dimana Toha memaksanya untuk mencium kaki ayah ibunya karena Sandi sudah membuat mereka capek dan malu, tapi Toha melawan dan mengancam akan bunuh diri, ia sendiri kemudian menusuk dirinya dengan pisau di bagian dada, Sandi akhirnya dibawa ke UGD dan Toha stress karena baru tahu adiknya begitu depresi karena desakannya untuk mencari kerja di tengah-tengah penyakit mentalnya, akhirnya Slamet, Toha dan sang ibu, Rumiati, baru sadar bahwa obat psikiater tidaklah cukup, harus ada dukungan dari orang-orang sekitar, demi kesembuhan dari Sandi.
Pak Ustadz pun didatangkan untuk membina serta membimbing Sandi, tapi Sandi salah paham sehingga ia mengamuk dan menjadi tontonan banyak orang, akhirnya strategi pun dirubah, mereka melakukan pendekatan lain demi Sandi yang semakin parah saja, yaitu berusaha untuk memanusiakan Sandi, mereka mencoba tidak membeda-bedakan Sandi dengan warga lain, baik dalam bersikap dan berperilaku juga dalam pandangan dan tutur kata, hal itu mempan, Sandi jadi sedikit mau bersosialisasi, orang-orang pun sebisa mungkin tidak membicarakan kejelekan Sandi di depan matanya, hal itu terjadi berbulan-bulan.
Tapi ada seorang pemuda iseng bernama Fikri, ia memviralkan kisah hidup Sandi tersebut di media sosial, mulai dari pernikahan Sandi yang batal karena ia kabur ke tengah sawah, juga termasuk dirinya yang mengancam akan bunuh diri yang akhirnya menusuk dadanya sendiri.
Sandi mendapat cibiran di dunia maya, mulanya ia seperti tidak masalah dengan itu, Sandi tetap coba bergaul dan ikut sholat di masjid, hal baru yang baru dilakukannya beberapa bulan. Tapi tidak ada yang tahu isi hati seseorang, Sandi berusaha menggantung dirinya di tengah-tengah masjid, untuk terpergok pak ustadz.
Setelah tenang, Sandi ditanyai Pak Ustadz, alasannya, dan Sandi menjawab Sandi malu karena apa yang dialaminya jadi viral, Pak Ustadz pun kemudian menghimbau supaya jangan lagi memviralkan Sandi yang memang memiliki gangguan jiwa, tapi Fikri yang merasa sakit hati karena merasa dibentak oleh Pak Ustadz dimana sebenarnya Pak Ustadz memarahi semua yang ada di tempat karena ia sendiri tidak tahu Fikri lah yang melakukannya, memviralkan kembali aksi percobaan bunuh diri dari Sandi.
Berita tersebut kemudian terdengar oleh seorang direktur utama pembuatan video klip musik, yang merasa Sandi mirip dirinya beberapa tahun lalu, direktur itu sendiri adalah direktur utama pembuatan video klip para musisi ternama, ia sendiri sempat membuka facebook Sandi dan membaca premis serta sinopsis video klip musik yang dipamerkan Sandi di beranda facebooknya.
Direktur tersebut pun merasa tertarik, mulanya ia sulit menghubungi Sandi, karena facebook lama Sandi sudah lama tidak Sandi cek lagi, tapi akhirnya komentar direktur tersebut di beranda facebook lama Sandi dikomentari oleh Toha, dimana hal tersebut direspon oleh direktur tersebut bahwa dirinya sangat tertarik merekrut adik dari Toha tersebut, Toha pun memberitahu kabar bahagia itu kepada Sandi dan Sandi amat bahagia, ia merasa cita-citanya akan terwujud.
Kemudian Pak Ustadz yang mengetahui kabar tersebut datang bersama Fikri, Fikri meminta maaf dan mengakui semua perbuatannya, Sandi pun memaafkan, tapi ia mengatakan ia tidak bisa dulu ke masjid untuk shalat isya berjamaah disebabkan mentalnya belum pulih benar, semua pun memahami sehingga Sandi sholat isya sendiri di rumah sedangkan Pak Ustadz, Fikri serta Rumiati meninggalkannya ke masjid.
Lalu Sandi berwudhu kemudian duduk sejenak menunggu qomat sambil membuka chat di whatsapp dari teman-temannya yang mengucapkan selamat atas direkrutnya Sandi sebagai sutradara pembuat video klip musik, tak sedikit pula yang menyelamati Sandi karena pada akhirnya mau aktif lagi di chat whatsapp.
Lalu adzan berkumandang dan Sandi pun shalat isya, dalam shalatnya Sandi berdoa agar diberi kelancaran dalam bekerja, setelah itu Sandi menutup pintu rumah dan memutuskan untuk istirahat tidur agar kejang kecemasannya tidak kambuh, sebab sejak pagi hari ia belum sempat tidur, hanya dalam beberapa menit Sandi pun terlelap, Sandi meninggalkan handphonenya yang dicharger di ruang tamu dekat foto-foto ia dan keluarganya.
Tiba-tiba sebuah truk tronton menabrak rumah Sandi, tepat menabrak kamar dimana Sandi sedang tidur, Sandi tewas seketika, pekik istighfar terdengar dari para tetangga, kemudian suara handphone berdering, Lukman (Tokoh Utama naskah Buih Pikiran), yang ternyata bos tempat Sandi akan bekerja sebagai sutradara video klip musik menelepon, tapi Sandi sudah kadung tewas, goncangan pun terjadi selama beberapa detik di seluruh ruang rumah setelah truk tronton menabrak kamar Sandi.
Lalu satu foto keluarga Sandi rubuh, dimana ternyata di belakang foto tersebut terdapat foto lama, foto yang dibingkai, foto ketika Sandi masih kecil, ketika ia memenangkan lomba bulu tangkis, dimana Sandi, kedua orang tua dan kakaknya tersenyum bahagia, berbeda dengan foto yang tadi menutupi dan rubuh.
Momen antara Lukman menelepon dan foto yang ambruk sehingga foto lama terungkap terjadi berbarengan, menggambarkan betapa dulu Sandi adalah anak yang membanggakan orang tua dan kakaknya dan meski ia pada akhirnya "hampir" kembali seperti dulu, dengan panggilan kerja dari Lukman dan Sandi pun mau dan berniat bekerja serta bersosialisasi, Tuhan berkehendak lain dengan mencabut nyawanya lewat tertabrak truk tronton, yang maknanya manusia bisa berencana, namun Tuhanlah yang menentukan takdir manusia.