PROTOKOL PENGHAPUSAN

Oleh: N. Y. YONS

Blurb

Di Indonesia masa depan yang diawasi oleh sistem digital ketat, sebuah rahasia kelam dari tahun 1994 kembali menghantui. Ketika putrinya menemukan ribuan data orang-orang yang "dihapus" dari sejarah, Reza—seorang pria yang memilih jalan aman dan pengecut di masa lalu—harus memilih antara melindungi keluarganya atau berdiri di sisi kebenaran demi melawan Protokol Penghapusan.

Premis

Bagaimana jika seluruh sejarah hidupmu, ingatan orang lain tentangmu, dan catatan keberadaanmu dapat dihapus dalam sekejap oleh sebuah sistem otoriter yang menuntut kepatuhan mutlak?

Karakter

Berlatar di Jakarta dari era Orde Baru (1994) hingga masa depan distopia (2026), cerita ini mengikuti perjalanan hidup Reza Mahendra. Pada tahun 1994, Reza menyaksikan seorang siswi bernama Rani Kusuma dihancurkan secara publik oleh gurunya karena esai kritis tentang sistem pendidikan, sementara Reza memilih diam demi keselamatannya sendiri.

​Tiga puluh tahun kemudian, Reza bekerja di perusahaan teknologi milik Surya Wijaya—pencipta algoritma rahasia bernama Protokol Penghapusan yang mampu melenyapkan individu sepenuhnya dari catatan fisik, digital, dan ingatan masyarakat. Ketika putri Reza, Kiara, menemukan anomali berupa puluhan ribu "orang hilang" lewat analisis data besar, ia langsung ditandai untuk dihapus dalam 72 jam.
​
Didorong oleh rasa bersalah masa lalu dan tekad melindungi putrinya, Reza, bersama Arya (sahabat lamanya yang hidup dalam pelarian) dan Kiara, menyusup ke markas pusat perusahaan pada tengah malam. Di tengah ancaman maut dan protokol otomatis, mereka berhasil mengunggah seluruh bukti ke server internasional sebelum akhirnya tubuh dan identitas mereka sendiri ikut dihapus oleh sistem.

​Dua puluh enam tahun kemudian, meskipun nama dan rupa Reza, Arya, dan Kiara telah dihapus dari sejarah, kebenaran telah terungkap ke publik. Sebuah museum memorial berdiri mengenang para martir tanpa wajah, dan benih perlawanan kembali tumbuh di hati generasi baru, membuktikan bahwa tyrani paling sempurna pun tidak pernah sepenuhnya mampu memadamkan nurani manusia.
Lihat selengkapnya