Remuk

Oleh: Rere Valencia

Blurb

Dewasa ini makin banyak orang yang terlilit hutang dan kemiskinan, mereka rela melakukan apapun demi menyambung hidup bahkan menjual diri, menjual narkoba, dan melakukan pekerjaan yang dilarang agama maupun negara, salah satu yang paling miris adalah menjual diri atau bahkan menjual anak sendiri yang kebanyakan dibawah umur demi keluar dari kemiskinan bahkan hanya untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, naskah saya bagi sebagian orang akan dianggap ngeres jika dilihat dari luar, tapi sebenarnya film ini adalah film kampanye jangan bugil di depan kamera, dimana digambarkan dalam film ini bahwa si anak yang akan dieksploitasi mendapatkan kecemasan berat akibat dirinya dipaksa oleh kedua orang tuanya yang juga terpaksa untuk membuat film dewasa dimana anak mereka sendiri yang menjadi bintangnya. Saya berharap tidak ada lagi orang tua atau siapapun yang mencoba jalan pintas untuk melakukan hal yang dilarang baik oleh agama maupun negara agar bisa keluar dari jerat kemiskinan, organisasi kriminal dalam film ini hanyalah gambaran bahwa memang diluar sana ada kelompok terorganisir yang dimana membuat orang terpaksa melakukan
kejahatan apapun termasuk menjadi kurir dan bandar narkoba, menjual diri bahkan saudara/i dan anak sendiri, memperjual belikan barang-barang ilegal dan binatang eksotis dan lain sebagainya. Lalu mengapa saya mengambil tema pornografi? Alasannya adalah dari semua hal dilarang baik oleh agama maupun negara, menjual anak sendiri adalah yang paling kelam serta memilukan, karena saya ingin masyarakat sadar bahwa ada yang tega melakukannya dengan keterpaksaan maupun memang ingin bergelimang harta, dan semua itu adalah gambaran nyata yang ada di masyarakat saat ini, saya ingin memberi contoh lewat ini supaya orang-orang melihat akibatnya dari apa yang akan terjadi bila mencoba menjual anak, yang ada hanya kepahitan dan kepahitan, sehingga masyarakat kapok atau tidak berniat untuk melakukannya.

Premis

Suami istri memiliki kesepakatan dengan organisasi kriminal, bahwa anak mereka yang masih dibawah umur (usia 14 hendak 15 jalan) diminta untuk menjadi model film porno ilegal berkedok amatir yang akan dijual oleh organisasi tersebut, semua itu demi agar mereka serta putri mereka keluar dari jerat kemiskinan dan hutang yang melilit mereka pun bisa lunas.

Karakter

Satriyo dan Asti, suami istri, sedang bingung karena anak mereka, Astrid yang sedang tertidur lelap, mereka janjikan akan menjadi model film porno ilegal dibawah umur pada sebuah organisasi kriminal, Satriyo yang sedang ngopi dan merokok merasa bingung, Asti sang istri pun mengeluh apakah mereka akan menyerahkan keperawanan Astrid saja pada organisasi, mereka memikirkan masa depan Astrid dari segi mental yang akan hancur jika Astrid memang jadi akan menjadi model porno dari organisasi, Asti, mereka bingung, jika Astrid tidak menjadi model mereka bingung dengan pelunasan hutang mereka, tapi jika Asti menjadi model maka secara mental Astrid masa depan Astrid akan hancur.

Astrid sedang belajar, mengerjakan soal pekerjaan rumah, kemudian Susi, adik dari Satriyo, datang. Ia membawa ikan segar di dalam termos es, beberapa waktu kemudian Astrid menyeset kulit ikan, Asti datang dan menggantikan tugas Astrid, kemudian Astrid berkata pada ibunya "Tidak mengucap Alhamdullilah, bu?" karena diberi ikan oleh Susi. Kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Asti. Ia menyadari bagaimana bisa ia yang akan menjual anaknya mengucapkan
kata-kata suci tersebut? Ia merasa menjadi orang munafik, apalagi Astrid adalah anak yang baik, sopan dan rajin beribadah. Ia pun curhat hal tersebut pada Satriyo, Satriyo kemudian berkata bahwa lihat saja dan pasrah pada kehendak Tuhan, tapi jawaban Asti yang menyatakan bahwa "Semoga kehendak Tuhan sesuai dengan kehendak kita" membuat Satriyo marah, tapi marah Satriyo hilang ketika melihat kerut pipi Asti yang mulai keriput, ia pun memegangi pipinya sendiri kemudian terdiam, bersandar pada pintu kemudian matanya berair.(menangis yang ditahan)

Satriyo terbangun, kemudian membangunkan Asti untuk shalat malam bersama, tapi Asti berpesan agar Astrid tidak dibangunkan, karena Astrid sudah shalat malam sendiri, Asti merasa trenyuh, bagaimana putrinya tersebut yang rajin beribadah serta santun baik perbuatan maupun perkataan tega mereka serahkan keperawanannya pada organisasi kriminal, saat melihat putrinya beribadah, tubuh Asti sama sekali tidak bisa bergerak, Satriyo pun berkesimpulan bahwa pasti Allah SWT, punya
rencana mengapa Asti melihat ibadah dari Astrid.

Di tempat lain Dodi diminta ibunya untuk menggantikan menjaga warung, tapi Dodi sedang sibuk menghitung uang kas desa dan harus berhati-hati menghitungnya, kemudian
Astrid datang, mulanya, Maryam, ibu Dodi, menyatakan bahwa Astrid tidak bisa lagi berhutang, tetapi kemudian ia menyatakan bahwa ia diminta untuk melunasi hutang
karena yang ia tahu proyek ayahnya tentang tambang emas di desa gumelar lancar, malamnya Dodi yang amat sayang pada keluarga Satriyo menanyakan pada Sinyo, apakah dalam list orang-orang yang akan digunakan oleh organisasi ada anak bernama Astrid disana, tapi tidak ada nama Astrid yang membuat Dodi lega.

Asti mengeluh ketika ada seorang ibu-ibu yang mengatakan handphone Satriyo bagus tapi masih sering berhutang, Satriyo pun menyatakan bahwa itu adalah handphone untuk berkomunikasi dengan orang organisasi jadi tidak bisa dijual, lalu Asti menyatakan bahwa jika Satriyo terus berhubungan dengan orang organisasi, itu berarti Satriyo memang berharap anaknya digarap dan dieksploitasi oleh organisasi, Satriyo berbalik badan, tidak peduli.

Dodi mendatangi rumah Sinyo dan mencengkram kerah baju csnya itu karena menelepon di siang hari, Dodi sudah berpesan agar telepon dilakukan di malam hari, Sinyo beralasan bahwa itu adalah pesan penting dari Mr. Thomas, Dodi pun menyatakan bahwa jika itu memang penting, lebih baik didiskusikan di sebuah gubuk di tengah sawah seperti biasanya, Sinyo pun protes kalau Dodi seenaknya sendiri karena Sinyo disuruh capek-capek datang ke rumah Dodi, mereka pun membicarakan itu di dalam, tanpa Dodi sadari percakapan mereka sudah disadap oleh polisi, dimana sebuah alat sadap disembunyikan dan diisolasi dibawah meja oleh Sinyo.

Saat Asti mencuci Satriyo datang dan menyatakan karena syuting tinggal dua minggu lagi apakah Astrid akan diberitahu saja semua tentang Astrid yang akan
dijadikan model porno, Asti menolak karena Astrid sedang fokus ulangan matematika, tapi pernyataan dari Satriyo yang menyatakan bahwa tidak ada bedanya karena masa depan Astrid sepertinya akan suram membuat Asti marah dan memukul cucian, Satriyo panik karena Astrid sedang ada di rumah, Asti pun menantang supaya
sekalian aja Astrid supaya tahu, Satriyo sendiri kemudian menyatakan bahwa caranya bukan seperti itu, Asti melanjutkan mencuci, ia menunduk mencucinya.

Asti bertemu dengan Pardi di pasar, kebetulan Astrid juga ikut, Astrid kemudian diperkenalkan pada Pardi, Pardi meminta Astrid untuk dibelikan rokok dimana uang kembaliannya untuk Astrid, Astrid pun menurut kemudian pergi membelikan rokok, sedangkan Asti dan Pardi kemudian membicarakan masalah organisasi saat
Astrid pergi memberi rokok, Pardi menepuk-nepuk pundak Asti yang terlihat sedih.

Asti sedang mengaji surah Ali Imran, Astrid sedang belajar, Satriyo sedang merokok, kemudian Satriyo membuang rokoknya, tapi dilihatnya rokok masih panjang, Satriyo pun mengambilnya kembali, Astrid kemudian datang dan menyatakan pada ayahnya bahwa alhamdulillah ada yang mau membelikan rokok untuk ayahnya yaitu
Pardi, Satriyo tidak menjawab, berlalu pergi, Astrid merasa keheranan. Malamnya Asti membangunkan Satriyo untuk Shalat Hajat, tujuannya adalah untuk meminta petunjuk apakah mereka akan memberitahu Astrid secepatnya tentang menjadi model porno atau diberitahu menjelang hari syuting, Satriyo menyatakan bahwa agar tidak membawa-bawa agama kemudian tidak merespon ajakan Asti, Asti pun shalat sendiri.

Pada suatu pagi dengan sepihak Satriyo kemudian menceritakan bahwa Astrid akan dijadikan model porno oleh pihak organisasi, awalnya reaksi Astrid terkejut, tetapi
kemudian ia tersenyum dan menyatakan tidak apa-apa, otomatis hal itu membuat Satriyo sujud di kaki Astrid dan menangis dan memeluknya, Astrid menyatakan tidak
apa-apa karena Astrid ikhlas kemudian ia pun berangkat ke sekolah, dengan mata merah, berair serta nanar Satriyo memperhatikan Astrid yang pergi berangkat sekolah dengan menunduk murung.

Siangnya Satrityo menyatakan pada Asti bahwa ia memikirkan bagaimana hidup Astrid, omongan Satriyo melebar bahwa jika sudah diberitahu pasti reaksi dari Astrid adalah ikhlas dan menerima, Asti bingung tidak paham, dan pada akhirnya Satriyo menyatakan sudah memberitahu Astrid tadi pagi, Asti mengamuk karena sudah bercerita tanpa sepengetahuan dirinya, karena seharusnya Asti yang berbicara , Satriyo menyatakan supaya Astrid tidak kaget, Asti marah, menyatakan apakah tidak bisa menunggu sampai sore sampai semuanya berkumpul di rumah, Satriyo pun diminta Asti untuk mengulang kembali bagaimana kata-katanya, tapi Satriyo mengaku lupa, dan hanya berkata "Begini, begini, begini, penyebabnya, alasannya" Asti merasa heran karena usia yang belum terlalu tua Satriyo
sudah menjadi sangat pelupa.

Sorenya rapat keluarga diadakan, Asti menangis sesenggukan, Astrid menyatakan dia ikhlas setelah ditanya Satriyo, setelah itu rapat keluarga selesai karena Astrid menyatakan diri hendak belajar. Malamnya mereka bertiga Shalat Tahajud bersama, setelah shalat Astrid berterimakasih pada ayah dan ibunya karena setiap malam mau mendoakan dirinya terkait masalah yang akan segera dihadapi Astrid, Satriyo dan Asti terus berdzikir kemudian Astrid mulai berdzikir.

Satriyo mendapati dari Asti bahwa Astrid tidak berangkat sekolah karena sakit, Asti menyalahkan Satriyo karena Satriyo memberitahu Astrid lebih cepat, ia juga
menyinggung karena Satriyo orangnya tidak enakan dan membahas pornografi dengan teman-temannya, Satriyo dan Asti akhirnya jadi terbujuk oleh istri bos besar organisasi dan tidak bisa menolak tawaran karena SPP Astrid selama 6 bulan sudah dilunasi oleh istri bos organisasi. Tanpa disadari Astrid memperhatikan kedua orang tuanya dengan raut wajah sedih.

Pardi kemudian datang dan ia pun terkejut ketika diberitahu bahwa Astrid sudah tahu terlebih dahulu, Pardi kemudian mengobrol dengan Pardi, Pardi kemudian memperhatikan Astrid yang kumal tanpa sengaja dengan mimik trenyuh. Astrid pun mendengar semua obrolan ayahnya dan Pardi, Astrid menunduk, tangan dan kepalanya ia sandarkan ke dinding rotan, Astrid tidak terisak, namun badannya gemetar.

Lalu saat Pardi menanyakan nama lengkap Astrid yaitu Sintia Astrid Permata Putri scene menyambung ke scene Dodi yang terkejut melihat nama-nama lengkap dari anak-anak yang akan dieksploitasi, disana ia melihat nama Astrid yang oleh organisasi lebih dipilih dipanggil dengan nama dengannya yaitu Sintia, ia membaca itu dari SMS yang dikirim Sinyo pada pukul 3 pagi. Dodi kemudian menyeruput kopi dingin, tangannya gemetar, pandangannya kosong.

Kemudian scene beralih ke para polisi yang sedang membahas tentang organisasi kriminal yang menjadikan pornografi anak sebagai ladang bisnis, diskusi pun terjadi terkait apa yang mereka tahu tentang organisasi, termasuk orang-orang di dalamnya, mereka juga membicarakan tentang Thomas dari keterangan Sinyo
tapi bisa saja itu nama samaran karena Sunyoto, salah satu orang organisasi, di handphonenya ada yang dipanggil sebagai Big Boss.

Para polisi pun menyatakan bahwa mereka sudah mendapat data anak-anak yang akan dieksploitasi, Supriyadi, kepala misi tersebut kemudian berkata "Tunggu bukannya Sintia satu desa dengan penghubung bernama Dodi" Seorang polisi mengiyakan tetapi untuk anak-anak lainnya tidak satu desa dengan penghubung pada organisasi, Supriyadi berpikir dan menyatakan seolah organisasi ingin polisi memulai penyelidikan dari Dodi dan Astrid karena satu desa, tapi kemudian Supriyadi menyatakan itu semua jebakan dan meminta seluruh jajaran anak buahnya untuk fokus pada anak yang berada di jawa barat, karena anak yang lain berada di jawa tengah.

Tak seperti biasa, kali ini Astrid tak menjawab salam, sebab biasanya ia akan membalas salam dari siapapun juga, ketika ditanya kenapa tidak menjawab salam, Astrid berdalih mengapa ia harus bersandiwara di hadapan Tuhan, Asti terdiam ia sebetulnya ingin menampar Astrid, ia urungkan, ia kemudian menyatakan bahwa keperluan untuk berlatih Asti untuk seks sudah dibeli, Asti bergeming dan tetap belajar mengerjakan soal fisika.

Malamnya Astrid belum pulang sampai tengah malam, padahal itu bukan kebiasaan Astrid dan itu baru pertama kalinya, beberapa waktu kemudian terdengar suara
motor, Astrid pulang sambil membawa martabak, Astrid diantar seorang pemuda kampung bernama Dedi. Asti kesal dan pura-pura tidur. Di tempat lain Dodi meminta Sinyo untuk bertemu, Sinyo sempat protes karena jauh, tapi akhirnya Sinyo mengiyakan.

Sinyo kemudian melaporkan pertemuan mendadak dirinya dengan Dodi, Sinyo kemudian bercerita bahwa dulu Satrityo dan istrinya kaya raya, tetapi bangkrut, di dalam keadaan hampir bangkrut karena penyakit anak sulungnya yang sangat berat, Satriyo sering memberi uang pada anak-anak yang mau menemani putra sulungnya, baik hanya menemani maupun sekedar bermain, salah satu anak-anak itu adalah Dodi, Dodi merasa berhutang budi sampai saat ini pada keluarga Satriyo. Sinyo pun menyatakan bahwa hutang berobat anaknya belum lunas sampai saat ini. Supriyadi kemudian meminta Sinyo untuk mengamati Satriyo dan
keluarganya.

Satriyo dan Asti ribut karena Satriyo pulang lebih awak tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Astrid kemudian menyatakan kalau ingin melihat anaknya latihan bermarturbasi sekalian saja untuk berlatih dengan cara berhubungan badan antara ia dan ayahnya, Satriyo memelototi Astrid, Astrid menantang apakah Satriyo ingin melihat anak perempuannya telanjang dan menunjukkan bagian tubuhnya pada ayahnya, Satriyo diam tak bergerak, ia shock, pun Asti terkejut.
Kemudian tamu datang, saat tamu datang karena tidak ingin orang luar mendengar keributan, Asti memarahi Astrid dengan suara pelan, Astrid tidak peduli dan pura-pura tidur padahal Asti meminta Astrid untuk mandi junub dulu.

Malamnya di warung remang-remang Astrid menemani om-om nakal dan cukup satu orang 150 ribu supaya dirinya bisa digarap mereka, siangnya Astrid memasukkan
uang hasil zinah nya ke dalam sebuah tabungan yang ditulisi nama Asti dengan cepat dan terburu-buru karena Asti meminta Astrid untuk membantu dirinya membalik kasur. Astrid beralasan lama karena sedang mencari lip tint nya, Asti kemudian menasehati Astrid, bukan berarti Astrid akan syuting dewasa maka ia bisa menjadi anak nakal di dunia nyata, tapi Astrid pura-pura tidak mendengarkan.

Satriyo kemudian meminta diadakan rapat keluarga, Astrid seperti tidak peduli dan terus belajar karena besoknya ada ulangan bahasa indonesia, Asti pun masih sibuk dengan memasak, tetapi Satriyo tetap memaksa untuk rapat, Satriyo kemudian menyatakan bahwa ada perubahan cerita dalam skenario porno yang dirancang organisasi, Asti bersujud syukur mengira Astrid tidak perlu syuting tapi pernyataan Satriyo menggugurkan rasa syukur Asti karena hanya cerita yang dirubah tapi pemainnya tidak. Satriyo menyatakan karena Astrid sudah berlatih dengan peralatan seks dan selaputnya sudah sobek, maka Satriyo diminta untuk membeli obat agar keperawanan Astrid kembali, Asti bertanya apakah obatnya tidak mahal, dan Satriyo menjawab bahwa ia sudah meminjam pada salah satu temannya, dam berjanji mengembalikan tiga kali lipat, yang direspon oleh Asti bahwa Satriyo itu wong goblok (Orang bodoh). Tiba-tiba Astrid berteriak dan lari menuju kamarnya.

Asti dan Satriyo bertanya apakah Astrid menangis karena filmnya tidak jadi batal, tapi Astrid kemudian berkata ia hanya mau bercerita dengan Asti, Satriyo pun ppergi tapi ia mendengar kata-kata "Astagfirullah hal adzim" dari ibunya dengan suara yang keras, Satriyo amat sedih, ia yang sedang duduk di kursi depan menunduk. Di kamar Asti membelai-belai rambut Astrid, menghibur anaknya supaya tidak pergi kembali ke warung remang-remang.

Sorenya Satriyo pergi ke toko milik organisasi dan kemudian membeli obat untuk keperawanan tanpa disadari ia diawasi Nurdin, pemuda suruhan Dodi dan Sinyo,
kemudian Satriyo pulang, Asti menyatakakan bahwa mereka seperti orang munafik karena menyerahkan keperawanan anak padahal mereka mengucap salam dalam agama.
Tiba-tiba teman-teman Astrid datang karena Astrid tidak masuk sekolah untuk waktu lama, Satriyo kemudian menyatakan dia yang akan membuat alasan kenapa Asti tidak masuk begitu lama setelah ulangan bahasa indonesia.


Tiba-tiba Astrid merasakan kejang, tubuhnya merasakan rasa yang tidak pernah ia rasakan selama ini, ia merasakan kejang kecemasan, Astrid curhat pada ibunya bahwa rasanya ia merasakan rasa tubuh yang sangat berbeda dari biasanya, saat Asti menyatakan bahwa pasti ayahnya bisa membuat alasan pada teman-temannya, Astrid menyatakan bahwa itu adalah rasa yang lain, Astrid merasa jantungnya berdebar-debar dibarengi tangannya yang kesemutan, kadang sesak dan mual, kadang badannya gemetar dan rasanya sangat tidak karuan, jika ditidurkan tidak bisa tidur. Asti takut Astrid mengidap HIV/Aids, Astrid dengan rasa cemas tinggi marah karena
Asti berani berpikir seperti itu

Satriyo kemudian menyatakan membuat alasan bahwa Astrid tidak masuk 11 hari karena punya paru kronis dan sementara ini tinggal di rumah budhenya di Semarang,
lalu Asti teringat jika 11 hari tidak masuk sekolah berarti waktu tinggal 3 hari lagi untuk syuting, lalu Satriyo menyatakan bahwa bukan itu masalahnya, tapi apakah mental Astrid sudah kuat, saat meributkan hal itu Astrid kejang-kejang di saat ia memperhatikan sekeliling, ia kehilangan kesadaran dan kejang-kejang yang membuat kedua orang tuanya panik.

Asti yang panik bertanya harus apa, Satriyo kemudian meminta supaya Asti pergi ke rumah sakit dan menyatakan biaya menyusul karena kondisi Astrid sedang parah, Satriyo kemudian menyatakan ia akan ke rumah Bos Besar organisasi untuk meminjam uang, Satriyo menyatakan tidak ada lagi cara lain, dan akan memesan
gojek dulu saat ditanya apakah handphone Satriyo meskipun bagus bisa untuk memesan gojek, Satriyo menjawab ia diberi handphone oleh Sinyo, Asti pun bertanya-tanya siapa Sinyo dan curiga pada Sinyo, lalu Satriyo menyatakan bahwa Sinyo adalah salah satu anak buah organisasi bersama dengan Dodi, yang satu kampung dengan mereka, yang tentu membuat Asti terkejut bukan main. Asti pun emosi pada Dodi, tidak menyangka bahwa anak yang setiap hari terlihat
di masjid bisa ikut organisasi laknat seperti itu.

Kemudian Asti dibawa ke rumah sakit dengan Grab, Asti merasa bersyukur karena Astrid tidak diantar gojek karena hujan besar dan Asti pun mengeluhkan karena mereka tidak memenuhi syarat untuk memiliki BPJS dan tidak memiliki KIS. Saat di rumah sakit dokter menyatakan bahwa Astrid mengalami kecemasan berat, beberapa saat kemudian Satriyo datang dan menanyakan apa nama sakit Astrid, Asti menjawab bahwa Astrid mengalami Anxiety atau kecemasan, dan
menyatakan bahwa kecemasan Astrid sudah tinggi. Saat ditanya bagaimana pengobatannya, Asti menjawab bahwa harus ditangani psikiater. Asti berharap syuting bisa dibatalkan karena ia merasa syuting porno lah yang menyebabkan Astrid mengalami kecemasan berat, tapi Satriyo menyatakan tidak bisa, karena saat bertemu istri Bos Besar Satriyo menyatakan syuting ditunda selama 4 hari karena istri Bos Besar percaya di hari 7 Astrid sudah sembuh. Satriyo pun menyatakan bahwa jika syuting batal ia diancam untuk mengembalikan semua yang pernah diberikan istri Bos Besar sebanyak 5 kali lipat, Asti pun beristigfar terkejut mendengar hal tersebut sambil mengelus dada.

Nurdin masuk, ia duduk di sisi yang sama dengan Satriyo, Asti dan Astrid, ia menghubungi Dodi lewat pesan Whatsapp apa yang harus ia lakukan selanjutnya,
selanjutnya Dodi yang dalam naskah masih menjadi orang misterius berkata supaya Nurdin pulang duluan sebelum mereka supaya Satriyo dan keluarganya tidak curiga, Nurdin membalas tapi sebagai penonton kita tidak tahu apa yang diketik Nurdin, Satriyo dan keluarganya terlihat dari sudut POV Nurdin. Ia memperhatikan Satriyo yang panik karena lupa belum membayar. Nurdin menanyakan langkah selanjutnya, kemudian ia diajak bertemu oleh Dodi di sebuah warteg.

Dodi dan Nurdin mengobrol di warteg kemudian Dodi menjebak salah satu pekerja bangunan yang warteg agar memberikan nomor handphone Sunyoto, yang menjadi
bos mandor pembangunan mall baru di kota, Dodi lalu memberitahu Nurdin lewat chat whatsapp bahwa Sunyoto adalah menantu Bos Besar, Nurdin yang juga ada di warteg
kemudian juga diminta untuk menyadap handphone Sunyoto, dan meminta setelah itu melapor ke Sinyo, Dodi berkata supaya Nurdin jangan takut karena Sinyo adalah polisi, Nurdin menjawab oke, ia pun menyatakan kalau sudah dalam satu warteg tapi harus berbicara lewat Whatsapp itu berat. Dodi mengirim Whatsapp pada Sinyo bahwa perekrutan penyadap beres, lalu Nurdin memanggil Dodi, ia menunjukkan Satriyo, Asti dan Astrid yang sedang naik becak pulang menuju rumah.

Di dalam becak Astrid menyatakan akan menceritakan masalah di warung remang kepada Satriyo, Asti tersentak dan berharap semua selamat, Satriyo kebingungan, Satriyo kemudian bertanya apakah ia akan menceritakan semuanya di rumah, Astrid menjawab "Iya" Sesampainya di rumah setelah semua diceritakan Satriyo mengusir Asti dan Astrid, pandangan mata Satriyo nanar dan matanya merah, ia tidak menjawab ketika Asti dan Astrid mengucap salam. Asti kembali mendekati Satriyo, Asti menunjuk Astrid yang sedang lemah, tapi Satriyo masuk rumah dan menutup pintu.

Asti sedang menceritakan masalahnya juga tentang Satriyo pada Yanto, adik laki-lakinya, Astrid menggigil di kamar tidur karena kejang kecemasannya, tiba-tiba rumah Yanto diteror, sebuah batu besar dilempar, Yanto kolaps karena terkejut sebab ia punya penyakit jantung parah, saat di rumah sakit, pihak rumah sakit menyatakan bahwa Yanto telah meninggal, Asti terisak dan merasa sangat shock.

Asti dan Astrid diantar pulang oleh tiga orang polisi, Satriyo tak menyangka Yanto akan tewas karena masalah mereka, tiba-tiba Satriyo menyatakan bahwa tiga polisi yang ada di depan adalah anak buah bos besar yang menyusup ke kepolisian, Asti yang kebingungan diajak Satriyo untuk Shalat Isya, Asti kemudian mengeluh kini Astrid sudah tidak mau shalat wajib 5 waktu lagi, apalagi shalat malam, Asti pun kembali menyinggung ucapan Astrid tentang sandiwara di hadapan Gusti Allah dan Asti menyarankan supaya tidak perlu Shalat Isya tapi tidur saja, yang dijawab dengan bentakan Satriyo. Kemudian scene berlanjut dimana Asti dan Satriyo berwudhu.

Nurdin menghubungi Dodi tetapi Dodi sedang tertidur, lalu di alun-alun kota Asti terkejut mendapati tiga polisi yang dikatakan sebagai mata-mata organisasi tewas, Asti membacanya di majalah dinding alun-alun kota, di alun-alun Asti dan Astrid juga menyinggung Wa Siroh yang setiap hari rajin bershalawat di masjid tapi mau menyewakan rumahnya untuk syuting film porno.

Di tempat lain Nurdin melaporkan bahwa Supriyadi yang merupakan kepala penyelidikan merupakan titipan dari Bos Besar. Nurdin menyatakan mungkin Sinyo karena sudah akrab dengan istrinya Supriyadi untuk memancing istri Supriyadi dengan candaan-candaan karena sudah akrab agar tidak mencurigakan untuk memancing keterangan penting dari istri Supriyadi. Nurdin menyatakan masih memantau handphonenya Sunyoto dan akan menghubungi lagi, tapi setelah itu Nurdin hilang tanpa jejak sampai akhir naskah saya.

Satriyo dan Asti sedang membicarakan 3 polisi yang terbunuh, mereka merasa sedang berhadapan dengan orang-orang yang mengerikan, tapi Satriyo menyatakan
jika memang benar pelakunya dari organisasi pasti sekarang Bos Besar sedang dalam pengejaran polisi, Satriyo pun meminta agar mereka fokus untuk syuting Astrid saja. Asti masih berharap saat syuting polisi akan menggerebek, bahkan Asti berharap markas Bos Besar akan digrebeg, tapi Satriyo menyatakan bahwa itu adalah urusan polisi. Asti kemudian merasa tak yakin jika yang membunuh anak-anak buah Bos Besar di kepolisian bukan organisasi yang di surat kabar disebut begal, tapi Satriyo meyakinkan bahwa jika Bos Besar melakukannya justru itu akan merugikan pihak organisasi, sebab ketiga polisi yang
terbunuh sangat membantu organisasi.

Markas kepolisian sedang rapat, para penyidik menyatakan 3 polisi yang terbunuh memang ada hubungannya dengan organisasi, dan anak buah anak buah Supriyadi yang lain menyatakan bahwa mereka dibunuh supaya polisi berpikir bahwa mereka hanya korban biasa pembegalan dan supaya mereka berpikir bahwa bos besar tidak mungkin menghabisi anak buahnya sendiri, Surpriyadi pun berpikir begitu, dan menyatakan besok akan diadakan rapat keputusan. Kemudian Surpiyadi menelepon
Satriyo, intinya ia mengancam bahwa Satriyo dan keluarganya tidak akan mendapat uang, intinya tetap hidup susah, supaya itu tidak terjadi Supriyadi meminta supaya Satriyo meyakinkan Asti supaya percaya bahwa apa yang Asti yakini sekarang memang benar, Supriyadi pun mengancam, jika skenario organisasi tidak dituruti maka Satriyo dan keluarganya akan kesulitan untuk makan seumur hidup mereka.

Astrid dan Asti sedang berlatih berapa lama waktu orgasme, dalam skenario Astrid dituntut orgasme setelah 21 menit tapi baru 7 menit Astrid sudah tidak kuat, tiba-tiba Satriyo panik, mereka lupa untuk membeli kaos oblong dan celana olahraga untuk Pardi untuk keperluan syuting. Di tempat lain Dodi menghubungi Sinyo, tapi tidak ada jawaban, kemudian tukang paket muncul mengantarkan barang.

Dodi yang berada di sawah berpapasan dengan Asti, Dodi berusaha menjelaskan semuanya dan menyatakan bahwa orang di organisasi masih ada dan dia adalah Supriyadi, Dodi menyatakan bahwa pasti Asti sudah tahu dirinya terlibat di organisasi jika sudah pernah mendengar tentang Sinyo, Dodi pun menyatakan bahwa Sinyo sudah
mati, kepalanya dikirim lewat paket oleh organisasi. Lalu Asti bertanya, jika memang seperti itu mengapa Bos Besar tidak segera ditangkap, lalu Dodi menjelaskan bahwa yang membuat semua tersendat adalah Supriyadi, Asti tidak percaya dan lebih memilih percaya suaminya, Satriyo, bahwa 3 polisi yang tewas adalah anggota organisasi bukan Supriyadi, Dodi terhenyak, Asti pergi meninggalkan Dodi. Dodi kemudian membayangkan ketika ia tahu bahwa Sinyo pertama menyatakan diri sebagai polisi pada Dodi, Dodi merasa bangga tapi Sinyo merasa diamnya dia selama ini karena tidak bisa bergerak telah membuat banyak keluarga remuk dan hancur, sebelumnya pun Asti menyatakan organisasi dan orang-orangnya termasuk Dodi telah membuat keluarga Satriyo menjadi remuk. Dodi kemudian pulang ke rumahnya dan ia bunuh diri
di kamarnya dengan meminum racun tikus.

Astrid terbangun kemudian Asti berkata pada Astrid bahwa syuting akan dilakukan setelah Isya, Asti memperingatkan supaya Astrid tidak salah dalam berdialog dan apakah Astrid kesulitan dalam adegan tertentu, Astrid pun menjawab ia sama sekali tidak merasa kesulitan. Asti kemudian menanyakan beberapa adegan dan Astrid menyatakan bahwa tidak ada kesulitan.

Satriyo datang kemudian Asti bertanya apakah penyelidikan masih dilakukan dan Asti mendapat jawaban yang mengecewakan bahwa penyelidikan ditutup sementara selama dua minggu, Satriyo beralasan bahwa Supriyadi telah mengganti wakilnya dalam penyelidikan kasus tersebut, dengan alasan wakil dari Supriyadi mengarahkan Dodi, Sinyo dan Nurdin tanpa sepengetahuan Supriyadi, lalu Asti berpendapat mungkin benar Supriyadi adalah mata-mata organisasi, tapi ia juga
mendengar desas-desus bahwa Hadi, wakil dari Supriyadi yang sudah diganti ingin mengambil posisi Supriyadi, Satriyo kemudian menjelaskan bahwa Supriyadi
itu orang baik, dan Hadi ingin mencoreng muka Supriyadi di kepolisian, lagi-lagi supaya bisa menggantikan posisi Supriyadi. Satriyo juga menyatakan bahwa Supriyadi bersih dan juga tidak korup. Asti kemudian menyinggung Dodi yang bunuh diri, dan Satriyo menjawab itu semua sudah ketentuan Yang Kuasa. Asti kemudian meminta rokok dari Satriyo karena Asti sudah lama tidak merokok, Supriyadi keheranan karena Asti merokok kembali.

Astrid sedang belajar dengan teman-teman sekelasnya tentang tugas pelajaran l matematika, Satriyo mendengarkan dari jauh, kemudian suara anak-anak yang sedang
belajar tertutupi oleh shalawat Wa Siroh di masjid yang sangat keras, Asti yang kesal kemudian menyatakan bahwa Sirah adalah nenek-nenek munafik dan shalawatnya
tidak akan pernah diterima, Satriyo menyatakan supaya jangan marah keras-keras karena ada teman-teman Astrid. Asti dengan trenyuh kemudian menyatakan bahwa tidak disangka bahwa keperawanan Astrid hilang tinggal 4 jam lagi.

Pardi menunggu di rumah Wa Sirah, kemudian ia melihat Satriyo, Asti dan Astrid datang, mereka bersalaman dan berbasa-basi sedikit, Satriyo meminta supaya Astrid segera masuk ke kamar bersama dengan Pardi, Pardi meminta supaya pintu dibuka saja supaya tidak ada yang curiga. Asti duduk di kursi panjang untuk menunggu proses syuting selesai, ia memilah-milah kaset, dilihatnya kaset penyanyi favoritnya yaitu Didi Kempot, Asti memandangnya kemudian meletakkannya di meja.

Pardi berjalan menuntun Astrid, Satriyo mengikuti di belakangnya, saat Pardi hendak menutup pintu, Satriyo mencegah dengan tangannya supaya pintu tidak ditutup, Satriyo kemudian mengambil kursi kemudian duduk di depan pintu menyaksikan Astrid digarap oleh Pardi, shot hanya memperlihatkan Satriyo yang menonton dan Asti yang duduk di kursi lain menunggu sambil mengetuk-ngetuk kaset Didi Kempot, lalu kita mendengar suara Pardi secara OS agar Astrid
membuka pakaiannya, kata-kata kotor pun kemudian muncul dari mulut Pardi sesuai skenario tetapi hanya Only Sound, suara Pardi kenyot payudara Astrid yang mendesah pun terdengar, mata Satriyo makin sayu, Asti membuka kaset Didi Kempot.

Satriyo memperhatikan dengan seksama, matanya menjadi merah menahan tangis, Asti memasukkan kaset Didi Kempot ke dalam tape, ia melongok ke Satriyo dan berkata apakah suaminya itu akan menonton Astrid digarap, Satriyo menjawab "iya", lalu Asti bertanya apakah Satriyo akan kuat melihat anaknya digarap? Satriyo menjawab
"kuat", Asti kemudian menjawab, jika dia yang menonton dia tidak akan kuat.

Tombol play dari tape ditekan, lagu Cucak Rowo dari Didi Kempot mengalun, Satriyo diam duduk di kursinya, ia menonton dengan mata merah dan sayu, bola mata Asti menatap langit-langit, kemudian menunduk dan menatap langit-langit kembali, gestur Asti resah, ia berusaha menahan isak.

Saat suara vocal Didi Kempot muncul kredit title mulai terlihat dan saat pasangan duet Didi Kempot bernyanyi layar menggelap dan full credit title muncul.
Lihat selengkapnya