Jumat Pon, 26 Mei 2006.
Matahari baru saja menggelincir ke ufuk barat, menyisakan semburat jingga dan ungu yang melukis langit di atas dusun kecil di pelosok Bantul. Udara gerah khas musim kemarau perlahan berganti dengan hembusan angin sore yang sejuk, membawa aroma tanah yang disiram air sisa cucian piring dan wangi melati yang mulai mekar. Di halaman sebuah rumah sederhana bergaya limasan, keriuhan masih terasa. Terop dari kain terpal biru yang didirikan sejak dua hari lalu masih berdiri kokoh. Deretan kursi plastik warna hijau disusun rapi, menghadap ke sebuah pelaminan sederhana yang dihias dengan kain batik parang dan bunga-bunga segar—mawar merah, krisan putih, dan tentu saja, untaian melati yang harumnya mendominasi udara.
Ini adalah hari kebahagiaan Perkasa dan Ajeng. Hari di mana penantian panjang mereka, yang terpisah jarak dan waktu selama dua belas tahun, akhirnya berujung di pelaminan.
Perkasa, dengan beskap landung warna cokelat tua yang dipadu dengan kain batik motif wahyu tumurun, berdiri di dekat pintu masuk. Sorot matanya yang biasanya tegas, sore itu tampak berbinar-binar, memancarkan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Senyumnya tak pernah lepas dari bibirnya, menyapa setiap tamu yang datang dengan ramah. Sesekali, ia mengusap keringat yang menetes di pelipisnya dengan sapu tangan, bukan karena gerah, melainkan karena rasa gugup dan haru yang bercampur aduk di dadanya. Sementara itu, di dalam kamar, Ajeng duduk di depan cermin besar. Wajahnya yang ayu dirias dengan riasan tipis, menonjolkan kecantikan alamin...