Ruangan kecil temaram ini berkesan muram. Lapisan cat dindingnya terkelupas, sementara lantainya penuh bercak-bercak darah yang sudah mengering. Di sudutnya, ranjang besi karatan terdiam, bersebelahan dengan meja troli berisi alat-alat bedah tua yang masih tajam.
Seorang gadis terbaring di ranjang. Tak berdaya. Kedua matanya tak terbuka, juga tak menutup. Embusan napasnya enggan. Pelan dan perlahan akibat darahnya dialiri obat bius. Tak lama kemudian, pintu berengsel tua berderit. Nyaring dan mengganggu. Akan tetapi, si gadis tak dapat mendengarnya. Apalagi pada langkah kaki ringan yang menyertainya.
Lelaki bersetelan dokter bedah berdiri di samping ranjang. Hidung dan mulutnya tertutup masker...