Air Mata di Atas Meja Kayu Kusam
Malam itu, hujan turun membasahi aspal ibu kota dengan sisa-sisa dingin yang menusuk tulang. Di kursi belakang sebuah mobil mewah yang melaju tenang, duduk seorang pria muda berjas rapi bernama Adrian. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tujuh tahun, Adrian telah menggenggam apa yang diimpikan banyak orang: posisi direktur utama di sebuah perusahaan investasi terkemuka, rumah megah di kawasan elite, dan rasa hormat dari rekan-rekan bisnisnya.
Namun, di balik semua gelimang harta dan kesuksesan itu, ada satu sudut sunyi di lubuk hati Adrian yang tak pernah benar-benar hangat.
Adrian adalah seorang anak adopsi. Dua puluh dua tahun yang lalu, ia ditemukan menangis sendirian di sebuah stasiun kereta yang bising dan asing. Keberuntungan memihaknya ketika sepasang suami istri kaya raya yang telah belasan tahun ...