═════════════════
AIRDROPS BINGO
Lumbung Padi Digital
─────────────────
Di kampus swasta di Dago, Bandung, udara malam terasa lembap dan dingin. Noir Angkasa duduk di sudut kafe yang selalu ramai dengan mahasiswa yang lebih kaya darinya. Jari-jarinya menari di atas keyboard laptop yang sudah usang, tetapi pikirannya tidak ada di sana. Di layar, skripsinya tentang "Disrupsi Ekonomi Digital" terbuka, tetapi pandangannya terus tertuju pada ponselnya, di mana pesan-pesan masuk dari teman-teman yang memesan baju.
"Size L masih ada?"
"Bisa dikirim besok?"
"Ini original kan, No?"
Noir tersenyum pahit. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa baju branded yang ia jual itu adalah KW super dari Tanah Abang. Ia tidak membohongi mereka ia hanya tidak mengatakan kebenaran. Dan kebenaran itu sederhana: uang kuliahnya tidak cukup untuk biaya hidup, apalagi untuk terlihat "setara" dengan teman-temannya.
Ia mengetik balasan cepat, mengatur pengiriman, lalu kembali ke skripsinya. Teori-teori ekonomi makro terasa begitu abstrak dibandingkan dengan realita di hadapannya. Bagaimana caranya menghitung inflasi negara ketika aku sendiri tidak punya uang untuk makan malam?
Jari-jarinya berhenti di atas keyboard. Di sudut kafe, sekelompok mahasiswa tertawa keras tertawa yang tidak pernah ia mengerti. Ia menatap layar laptopnya, tetapi angka-angka itu kabur. Di perutnya, ada sensasi kosong yang tidak mau pergi. Bukan lapar. Sesuatu yang lebih dalam seperti ada lubang di antara tulang rusuknya yang tidak bisa diisi oleh apapun.
Pintu kafe terbuka, dan Kakak masuk. Kakaknya itu terlihat lelah kemeja putihnya sedikit kusut, dasinya longgar, dan matanya sembab seperti orang yang baru saja menahan tangis di perjalanan. Tapi Kakak tersenyum saat melihat Noir.
"Masih begadang, No?" Kakak duduk di hadapannya dan meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja. "Ini. Buat modal jualanmu. Lima juta."
Noir terkejut. Ia membuka amplop itu dan melihat uang tunai yang ditata rapi. "Kak, ini dari mana? Gaji honorer Kakak kan "
"Sudah, No. Aku bisa atur. Yang penting kamu bisa lanjut kuliah, jualan baju, dan tidak terlihat seperti anak miskin di kampus ini." Kakak tersenyum, tetapi ada kepahitan di balik senyum itu. "Kakak sudah hancur di dunia yang pakai topeng. Kamu... kamu harus lebih baik."
Noir ingin berkata sesuatu. Di tenggorokannya, ada kata-kata yang berdesakan, tetapi ia tidak tahu harus memilih yang mana. Ia menggenggam amplop itu dan merasakan uang di dalamnya kertas yang tipis,...