AKAR, ANGIN, DAN PERJALANAN PULANG

Oleh: Maulana

AKAR, ANGIN, DAN PERJALANAN PULANG

Hidup, pada suatu titik yang paling sunyi, kerap memperlakukan kita seperti biji kopi yang disangrai dalam wajan besi yang panas. Ia diaduk, diputar, ditekan, bahkan hampir hangus oleh api keadaan, semata-mata hanya untuk mengeluarkan aroma terbaiknya.

Bagi Bumi, angka dua puluh sembilan dalam kalender hidupnya bukan lagi sekadar penanda bertambahnya usia, melainkan monumen atas reruntuhan yang ia bangun sendiri. Dua tahun lalu, dunianya mendadak amblas. Perusahaan tempat ia mendedikasikan seluruh tenaga dan kepalanya melakukan efisiensi besar-besaran, dan namanya tercetak di urutan pertama lembar pemutusan hubungan. Belum cukup membuat dadanya berlubang, perempuan yang ia yakini sebagai dermaga tempat kapa...

Baca selengkapnya →