═════════════════
AKAR TUMBUH
Kebun Lentera Talas
─────────────────
Kabut di kebun ini tidak pernah benar-benar putih. Ia selalu memiliki semburat abu-abu, seperti asap dari tungku yang enggan padam, atau keraguan yang menggantung di tenggorokan seorang anak yang dipaksa dewasa terlalu cepat.
Jaganara (Nara), begitu ia biasa dipanggil berdiri di tepi kebun yang liar, sepatu karetnya nyaris tenggelam dalam lumpur sisa hujan semalam. Di hadapannya, tanaman talas menjalar ke mana-mana, daun-daunnya yang lebar seperti perisai yang rusak, beberapa di antaranya sudah menguning dan berlubang dimakan ulat. Di kejauhan, rumah kayu tua berdiri dengan cat yang mengelupas, seperti luka yang tidak pernah sembuh sepenuhnya.
Nara berusia enam belas tahun, tetapi pundaknya sudah terasa memikul beban yang tidak seharusnya ia pikul. Beban itu bukan berasal dari buku pelajaran atau tugas sekolah itu terlalu ringan. Beban itu berasal dari kesadaran bahwa sejak ayah dan ibunya memilih jalannya masing-masing di kota, ia adalah satu-satunya yang tersisa untuk menjaga "titipan" ini. Kebun ini adalah satu-satunya warisan yang tidak bisa mereka jual, satu-satunya tanah yang masih mengingat langkah kaki kakeknya, Murta Wijaya.
Ia melangkah masuk, menyusuri lorong yang hampir tertutup gulma. Tangannya meraba daun talas yang terkulai, dan untuk sesaat, ia merasakan kehangatan aneh di ujung jarinya seolah tanaman itu mengenalinya, seolah ia bukan orang asing di sini.
Di beranda rumah, kursi rotan tua masih ada. Kosong. Nara mendekatinya dan menghirup udara di sekitarnya. Ada sesuatu di udara bau samar yang tidak ia mengerti. Bau arang dan getah pohon, seperti sisa tinta yang mengering di atas kertas tua. Bau itu seolah menempel di kayu beranda, meskipun ayahnya sudah bertahun-tahun tidak pernah menginjakkan kaki di sini.
Nara tidak tahu mengapa, tetapi bau itu membuat dadanya terasa lebih ringan. Ia duduk di kursi rotan itu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian.
Namun, kebun ini tidak akan merawat dirinya sendiri. Dan Nara tahu, di luar sana, ada tetangga yang sudah menunggu untuk melihatnya menyerah.
Pagi berikutnya, Nara sudah berada di kebun sebelum matahari benar-benar terbit. Ia mencabut gulma dengan tangan ...