Malam itu, di lantai tiga perpustakaan kota yang tua dan berdebu, aku menemukan sebuah buku tanpa judul. Sampul kulitnya kasar, hitam legam seperti malam tanpa bintang. Saat aku membukanya, tidak ada cetakan tinta sama sekali. Halaman-halaman kertas tebal di dalamnya kosong melompong — kecuali satu kalimat pendek yang ditulis tangan dengan tinta emas di halaman pertama:
*“Bahasa manusia adalah penjara; cerita ini hanya bisa dibaca oleh mereka yang berani melampaui kata-kata.”*
Aku tersenyum tipis. Sebagai penerjemah...