SURAT UNTUK KIRANA
Bagian Satu — Taman Baca dan Perempuan Bersyal Cokelat
Setiap sore, Rama selalu duduk di kursi kayu dekat jendela taman baca.
Ia akan membuka buku yang sama, memesan kopi hitam yang sama, lalu memandang ke jalan kecil di depan gedung, berharap seseorang datang dari kejauhan.
Namanya Kirana.
Sudah dua tahun Kirana tidak pernah muncul lagi.
Rama tidak pernah benar-benar bisa menjelaskan kepada siapa pun mengapa ia terus datang ke tempat yang sama setiap harinya. Teman-temannya sudah bosan mendengar cerita tentang perempuan yang tidak pernah memberi kabar itu. Pak Darmo, penjaga taman baca sekaligus yang menyeduh kopi setiap sore, sudah hafal pesanan Rama tanpa perlu ditanya. Bahkan anak-anak desa yang sering datang membaca sudah tahu bahwa Mas Rama akan selalu duduk di kursi dekat jendela, memandang jalan dengan tatapan yang sulit dibaca.
Namun tidak ada yang bertanya lagi.
Mereka hanya membiarkan Rama dengan ritualnya yang sunyi itu.
Dulu, perempuan itu hampir setiap hari datang ke taman baca desa. Ia suka duduk di pojok rak novel, membaca puisi, lalu mencatat kalimat-kalimat indah di buku kecil berwarna biru. Buku itu selalu ia bawa ke mana-mana, tergantung di dalam tas kanvas cokelat yang sudah sedikit lusuh di bagian jahitannya.
Rama mengenalnya perlahan — seperti cara mengenal musim: tidak tiba-tiba, tidak dengan peng...