Aku Sendiri Saja

Oleh: Dara Kirana

Setelah Mas Zaki meninggal, aku merasa lega. Kepalaku terasa ringan, seolah dinding yang menghimpitku selama ini runtuh. Sungguh perasaan yang aneh untuk seorang istri yang baru saja kehilangan suaminya.

Ini sudah hari ketujuh setelah kematiannya. Namun, sejak hari pertama pun tak setitik air mataku jatuh untuknya. Aku tidak senang, tidak juga sedih. Hampa, kosong, tetapi ringan.

Beberapa tetangga berbisik-bisik mengenai aku yang tak menangisi kematian suamiku. Kebanyakan istri akan meraung-raung ketika ditinggal pergi suami selamanya. Namun, aku? Diam seperti batu, seperti tak punya perasaan, katanya.

Aku pun tak tahu. Mungkin saja air mataku telah habis menangisi perlakuannya padaku selama ini, hingga tak tersisa untuk mengantarkan kepergiannya. Mungkin, aku terlihat jahat di mata orang-orang. Namun, apakah air mata bisa dijadikan ukuran untuk menilai hati seseorang?

"Aku kalau jadi Nina, nggak berhenti-berhenti aku nangis. Suami baik, mapan, nggak patriarki gitu kok, nggak sayang, ya?" kata seseorang yang membantuku memasak di dapur.

"Kita yang cuma tetangga aja sedikit banyak merasa kehilangan orang sebaik Zaki,” sahut seorang ibu-ibu. 

"Si Nina nggak bersyukur, makanya suaminya diambil Tuhan,” tambah ibu-ibu yang  lain. 

Aku menghentikan langkah...

Baca selengkapnya →