Angin Sejuk Di Bawah Matahari Terik

Oleh: faridhachacha

Larut malam tiba saat rintik hujan mulai membanjiri kota. Percakapan ringan mengalir tiada henti, seperti mengirim sinyal agar mata tak lekas tertutup. Tak ada yang aneh, semua berjalan normal. Namun setelahnya, sorot lampu itu datang dari arah yang tidak terduga, semakin luas hingga menutup pandangan. Dentuman keras menusuk gendang telinga diikuti bunyi mesin yang tak lagi terdengar normal. Tubuhnya terdorong ke depan, menyentuh permukaan yang kasar dan dingin. Semua terasa sunyi, dadanya berat seolah udara tak sigap memenuhi paru-parunya. Sayup-sayup orang memanggil namun tubuh seakan membeku, lalu gelap seketika.

***

Pandangannya kosong, kedua kakinya menekuk diikuti tangan yang melingkar seperti menginginkan dua jiwa saling berpelukan. Sepi itu datang tanpa aba-aba, Raya duduk di ruang makan yang tak lagi dipenuhi canda tawa ketika makan siang.

”Yang sabar ya, Ray.” ”Raya harus Ikhlas.” Atau “Semangat Raya.” Kalimat-kal...

Baca selengkapnya →