Arif tidak pernah menganggap dirinya seorang penjudi.
Penjudi, dalam bayangannya, adalah orang yang kalah karena bodoh. Ia tidak bodoh. Ia mahasiswa semester tujuh dengan IPK 3,6, dan ketika pertama kali membuka aplikasi itu atas ajakan Dimas, teman sekosnya yang sering pulang dini hari dengan senyum lebar. Ia melakukannya dengan kepala dingin. Ia akan coba sebentar. Ia tahu cara berhenti.
Itu pikiran Arif pada bulan pertama.
Pada bulan kedua, ia sudah tidak ingat kapan terakhir kali ia tidur sebelum jam dua pagi.
Pada bulan ketiga, ia mengangkat telepon ibunya dan berbohong untuk pertama kalinya dalam hidupnya — bukan karena tidak punya pilihan, tapi karena tidak punya waktu untuk memikirkan kebenaran. Ibunya bertanya apakah ia baik-baik saja. Ia bilang iya. Ibunya bertanya apakah ia butuh uang. Ia bilang tidak.
Tiga hari kemudian ia mengirim pesan: Bu, bisa transfer? Uang SPP kurang.
Uang itu masuk ke aplikasi dalam waktu dua jam.
***
Kecanduan itu tidak datang seperti banjir. Ia datang seperti air yang merembes perlahan lewat retakan dinding — diam, konsisten, dan kamu tidak tahu seberapa basah temboknya sampai kamu me...